Semua orang di Kampung Bojong Keong tahu bahwa kakek tua bernama Kasim itu dulu ada seorang yang sangat puitis di masanya. Ia seorang pujangga besar-di kampungnya-saat itu. Dia patut berterima kasih kepada istrinya Mak Zahra, yang kini sudah hidup tenang di sisi Tuhan. Maksudnya meninggal. Tak tahu kini, apa Kasim masih puitis seperti masa mudanya, atau setidaknya ia masih menulis kecil untuk meluapkan rasanya, karena kini yang kutahu ia hanya meratap tanpa makna. Bagiku sekarang, Kasim tak lebih dari seorang kakek tua yang sering meratap ketika menziarahi makam istrinya itu. Kini, yang paling puitis dalam hidupnya adalah ratapannya itu. Ya, bisa jadi saja. Kini mungkin aku akan bernasib sama. Sekarang, hingga kelak nanti seperti seorang Kasim. Tapi, nyatanya Kasim lebih beruntung, Dia masih bisa menulis sajak-sajak hingga dirinya dimakan umur. Meski, ia kehilangan itu semua saat sang bara sudah tak lagi membara. Istrinya, Mak Zahra. Kalau aku, ya, begini saja sudah sangatlah le...
THINK IT SO HARD ANYMORE