Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2017

Pelangi

Matahari dengan gagahnya bertengger di langit. Bergerak sedikit demi sedikit ke arah barat. Menuju tempat di mana harus ia harus beristirahat dan membiarkan rembulan menggantikannya. Membantunya  untuk memenuhi langit yang sepi dengan beribu bintang. Walau pun titik cahaya bintang itu kecil, tetapi katanya ukurannya lebih besar. Entah lah aku tidak mahir dalam bidang astronomi, apalagi untuk benar-benar melihatnya. Berkunjung ke angit hanya untuk memastikan apa benar-benar ukuran bintang lebih besar dari pada matahari. Tapi satu hal yang pasti. Mereka semua bersama untuk mengindahkan mata. Membantu orang-orang untuk melepas penat, sejenak bersyukur dengan mata yang mereka miliki, yang bahkan tak pernah kita minta. Ayolah, apa kalian pernah benar-benar bersyukur dengan mata yang masih berfungsi sebagaimana mestinya ketika bangun? Atau apa kau perah benar-benar bersyukur dengan udara yang masih bisa kita hirup ketika bangun? Atau kuping yang  mendengar adzan shubuh yang membu...

Kau Adalah Alasanku

Untuk pertama kali. Aku takut untuk terlelap, bukan karena hal besar atau masalah yang terlalu dipikirkan, hanya kekhawatiran karena seekor kucing yang akan menumpahkan pasir tempatnya buang air tumpah berantakan. Memberikan daftar kerja untuk awal hari yang sangat tidak nyaman. Nyaman? Bukankah hal seperti itu masih lah hal mudah. Bukan kah masih banyak orang yang rela menyelami lumpur hanya untuk makan? Mengotori dirinya dengan pandangan orang-orang agar keluarganya dapat tersenyum ketika pulang? Membiarkan dirinya dihina dan dicaci agar orang-orang yang menunggunya di rumah bisa memujinya.

Biarkan Aku Merindukanmu

Dingin. Malam ini cukup dingin, walau pun hanya berdiam di dalam kamar. Merengkuk dalam selimut. Mencari sebuah kehangatan tubuh. Tapi tidak untuk hati. Baru saja ku buat kopi hitam untuk menemani. Bintang kali ini pun tidak muncul, masih tertutupi oleh awan mendung yang siap kembali mengguyur tanah pertiwi. Membuat anak-anak yang ingin bermain terpaksa harus mengurungkan niatnya. Bukan, bukan karena mereka tak ingin bermain air dalam lubang di jalanan, hanya karena orang tua mereka yang melarang. Sudah malam, khawatir esok hujan akan kembali turun. Membuat baju yang dijemur tak bisa kering.

Malam Ini Pun Tetap Sama

Kembali dengan sebuah kisah klasik dari seorang remaja tanggung yang masih mencari jawaban akan kehidupannya. Mencari sebuah keadilan tentang nasib. Mencari senyum tulus di antara wajah yang murung. Lelah sudah tubuh ini. Untuk satu hari yang diisi dengan berkendara. Tenang saja, aku memiliki tujuan untuk berkendara. Tidak sekedar melepas penat seperti malam di mana aku memabakar api unggun untuk mengisi malam ini. Ada banyak cerita untuk hari ini. Memang bukan ceritaku. Tapi malam ini pun cerita itu masih berjalan. Lebih tepatnya terulang. Kembali berputar bak film.

Izinkan Aku Membuatmu Menangis

Malam lengkap sudah dengan gelapnya. Matahari sudah sejak tadi tenggelam. Meninggalkan sang hari. Menutupnya dengan seluit cahaya jingga yang indah menghiasi langit. Membantu orang-orang sedikit melepas penatnya sejenak. Sebelum mereka harus kembali berdesak-desakan di angkutan umum. Udara sore selalu menenangkan di tempatku. Sunyi. Siang tadi. Beberapa warga membersihkan tumbuhan liar yang ada di depan tempat tinggalku. Ingin membantunya. Hanya saja ego ini masih lebih mementingkan diri sendiri. Lebih khawatir dengan nilai ujian yang jelek. Dan menegesampingkan rasa soialisasi yang rasanya untuk saat ini hanya ada pada lidah. Masih belum sampai ke hati.

Api Tidak Harus Dipadamkan Oleh Air

Satu hari lainnya yang mulai berlalu. Matahari yang pada siang tadi menempati tahta tertinggi di langit nusantara perlahan turun hingga akhirnya tenggelam. Membiarkan sang rembulan, yang malam ini pun masih tidak bulat sempurna muncul untuk menggantikannya. Mempercayakan sedikit cahayanya untuk kita. Bukan untuk menyinari, tapi untuk memikat seseorang yang tengah sendu bahwa masih ada keindahan yang dilewatkan dibanding dengan kisah percintaan yang penuh dengan drama. Menenangkan seseorang yang gundah karena masalah yang belum selesai hari ini. Menyenangkan hati yang tersakiti karena dilupakan karena memang dirinya yang lupa pada yang Maha membolak-balikan hati. Dan menyelamatkan iman kita yang lupa akan nikmat-Nya.

Dalam kesendirian

Pagi masih sejuk dengan kabut yang menyelimuti. Gelap masih menyelimuti langit, bintang gemintang masih dengan jelas terlihat. Membuat sensasi yang membekas untuk orang-orang yang menjalankan hari dengan harapan. Ahh harapan. Hal itu yang selalu membuat semua orang terus melanjutkan hari yang bahkan bisa menjadi lebih buruk. Perjuangan yang bisa menjadi bahan tertawa. Harapan yang bisa jadi hanya sebuah fatamorgana.

Nafas

Udara masih terlalu dingin untuk keluar bertelanjang dada. Pun, embun pagi masih membasahi rumbut di halaman. Akan terasa menyegarkan menginjaknya dengan bertelanjang kaki. Tanpa alas. Tanpa dosa. Bukan kah manusia makhluk yang terlalu banyak meminta dan cenderung egois? Tak ingin dirinya terinjak, tetapi berani menginjak hak makhluk lain. Warna jingga masih sangat indah untuk dilihat. Cantik.