Pagi
masih sejuk dengan kabut yang menyelimuti. Gelap masih menyelimuti langit,
bintang gemintang masih dengan jelas terlihat. Membuat sensasi yang membekas
untuk orang-orang yang menjalankan hari dengan harapan. Ahh harapan. Hal itu
yang selalu membuat semua orang terus melanjutkan hari yang bahkan bisa menjadi
lebih buruk. Perjuangan yang bisa menjadi bahan tertawa. Harapan yang bisa jadi
hanya sebuah fatamorgana.
Adzan
shubuh masih dengan syahdu memenuhi langit nusantara. Memang, aku hanya melihat
keindahan ini hanya dari depan rumahku. Tapi ini lah langitku, langit
nusantara. Seorang pria keluar dari rumahnya, disusul istrinya yang tidal lupa
menyalami. Mengecup punggung tangan pria yang telah menjadi seorang yang
bertanggung jawab atasnya dengan takzim. Sag pria berlalu tanpa harus menengok,
dan sang istri tetap berdiri di pintu sampai punggu prianya benar-benar tak
terlihat. Ahh indahnya berkeluarga.
Aku
masih berdiri di depan pintu, mencoba mengumpulkan semangat hanya untuk
membasuh tubuh dengan air wudhu dan ikut ke masjid bersama mereka. Setidaknya aku
bisa memulai hari dengan hal yang baik. Shalat shubuh berjamaah.
Waktu
terus berjalan beriringan dengan matahari yang semakin meninggi. Menimbulkan seluit
cahaya indah yang menelisik dari jendela. Menyentuh lembut kulit dengan
hangatnya. Kuhelakan nafas panjang. Mencoba menduga-duga hal buruk apa lagi
yang akan datang? Berprasangka buruk? Memang untuk orang lain terdengar seperti
itu, aku hanya mencoba untuk menghindari kelakuakn buruk ku yang memancing hal buruk
lain. Tidak akan ada asap selama tidak ada api.
Langit
masih meninggalkan sepenggal gelapnya. Venus pun masih bisa terlihat dengan
cantik. Tapi, apa kau tahu? Yang membuat pagi ini dengan pagi yang lain selalu
indah itu bukan kabut tebal yang memenuhi ruang, atau mentari yang membuat
seluit indah di langit, atau Venus yang dengan malu menunjukan dirinya, bahkan
kamu yang mengucap ‘Selamat pagi’.
Jawaban
ini memang tidak lama kutemukan setelah ‘masih’ mencoba untuk mengalahakan
kesendirian. Setidaknya itu yang dia katakan. Untuk menjadi seorang manusia
yang mampu mengalahkan kesendirian. Yang bahkan bisa menglahkan diri sendiri. Setidaknya
itu lah kunci untuk benar-benar mampu mengerti diri sendiri.
Hembusan
nafas yang masih kehembuskan untuk memulai hari adalah yang membuatku masih
bisa bahagia untuk bangkit. Mata yang masih bisa melihat, telinga yang masih
bisa mendengar, tangan yang masih bisa mengusap, dan lidah yang masih bisa
mengucap hamdalah atas semuanya. Yahh semua hal kecil yang selalu dilupakan
oleh sebagian orang. Mereka tidak pernah meminta tetapi sudah diberi. Dengan
angkuhnya menyombongkan pemberian yang seharusnya tidak disombongkan.
Bahkan,
untuk segelas kopi hitam yang masih hangat ini pun. Sudah cukup menjadi alasan
untuk ku bersyukur.
Dalam
kesendirian ini, ku temukan sebuah jawaban untuk sang hati.

Comments
Post a Comment