Skip to main content

Posts

Showing posts from 2017

Kopi Sore Yang Ramah

Kopi yang diseduh kala sore itu tak menawan sama sekali. Ia hambar, tak berasa, tak sedikitnya menyentuh rongga kenikmatan dalam hasrat. Tentu, mungkin saja aku yang tidak pandai menikmatinya. Atau, memang kopi itu yang terlalu sombong untuk dicicipi oleh lidah basah ini. Memahami memang bukan suatu perkara yang mudah untuk dicerna. Baik secara gamblang, atau tersirat pun. Batang rokok yang sedari terhisap, terbakar sempurna lalu perlahan menjadi abu mengikuti hal yang sama. Seakan dia ingin berkata seperti ini ; kau tak patut lagi untuk menghisap tubuhku barang sedikit. Aku adalah hal yang berbeda, dan begitu sebaliknya. Runtuh jua akhirnya. Aku mengamini, padahal rasanya baru kemarin kita berbicara satu sama lain. Tanpa halangan, tertawa, menikmati waktu yang mulai habis disetubuhi oleh kalimat-kalimat yang tak jelas. Membicarakan padi di sawah, malah terkadang mengaitkan ikan paus di laut. Mata yang kemarin menarik, tiba-tiba buta dan percaya bahwa kita memang tidak pernah be...

Malamku Akan Tetap Sama

Kembali dengan sebuah kisah remaja tanggung yang masih termenung di bawah langit yang menggelap. Tenang saja, untuk malam yang satu ini rembulan tidak muncul. Tertutupi awan mendung sejak yang sejak sore hari sudah menutup cahaya lembut mentari. Membiarkan angin berhembus lebih kencang dari biasanya. Menerbangkan guguran daun yang sudah dirapihkan. Membuat jatuh jemuran, untung siang tadi terik matahari berhasil mengeringkannya. Kalau tidak, akan membuat kegiatan ibu-ibu tetangga harus mengurungkan niatnya untuk merapihakn baju-baju itu.  

Ikatan

Gelap akan terus dan selalu menjadi dasar dari langit di malam hari. Bersama dengan rembulan indah yang membuat lingkaran cahaya di sekitarnya. Bersama dengan bintang-gemintang yang betumpah ruah menghiasi lengangnya langit. Sunyi menjadi suasana yang bersahabat bagi mereka yang masih terlelap dalam tidurnya. Mungkin terhibur dengan mimpinya, atau tersakiti karenanya. Udara dingin yang menusuk kulit membuat orang-orag memilih untuk berdiam di rumah. Menarik selimut, menutupi seluruh tubuhnya. Beberapa pemuda tanggung terlihat masih di bahu jalan. Tiga sampai lima motor terjajar rapih. Berbincang hangat, menghiraukan dingin yang menusuk. Diselingi dengan candaan yang mewarnai gelap. Hari memang sudah menutup catatannya. Bagi sebagian orang. Tidak bagi sebagian lainnya. Yang memilih terjaga karena esok adalah hari libur. Mereka bisa beristirahat dengan tenang tanpa khawatir dengan alarm yang setiap pagi memaksa untuk bangun.

Kuharapkan Hujan, Tapi Tangis Yang Turun

Saban hari langit yang cerah tiba-tiba mendung. Kuharapkan hujan, tapi tangis yang turun. Seperti aku kepada kau yang masih tidak pasti. Kuharapkan kau datang, kau justru hanya semakin menjauh. Adanya dirimu di setiap bayang, di dunia maya yang seakan hanya terus menerus mengganggu. Tetapi aku menikmatinya, dengan menggerutu. Buatku, seperti ucapan Boy Candra dalam setiap sabdanya yang berlebihan ; ku ajak kau ke hutan, lalu tersesat berdua. Seakan semuanya semakin pupus.

Maaf, Bisakah Kita Kembali Menapaki Lagi?

Seberapa besar aku mencoba melupakanmu, tetap saja usaha itu kembali ke titik yang sama. Aku tetap tak bisa melupakan. Jika dari sekian kata untuk pecundang, aku pantas menerima semua kata-kata itu dan tidak ada lagi keraguan untuk mengambilnya. Untuk berkata entah saja, mungkin tetap tak berbuah apapun. Kita yang sebenarnya tak bisa saling menemukan sisi lain diantaranya, atau hanya aku yang memang masih bersembunyi ketakutan untuk menyentuhmu. Tidak bermaksud yang tidak-tidak. Tapi, menyembunyikan pun akhirnya tetap saja tak bisa tersembunyi. Aku hanya bisa tersenyum kosong, seolah semuanya baik-baik saja, diantara sayatan yang terus membuka lebar.

Pelangi

Matahari dengan gagahnya bertengger di langit. Bergerak sedikit demi sedikit ke arah barat. Menuju tempat di mana harus ia harus beristirahat dan membiarkan rembulan menggantikannya. Membantunya  untuk memenuhi langit yang sepi dengan beribu bintang. Walau pun titik cahaya bintang itu kecil, tetapi katanya ukurannya lebih besar. Entah lah aku tidak mahir dalam bidang astronomi, apalagi untuk benar-benar melihatnya. Berkunjung ke angit hanya untuk memastikan apa benar-benar ukuran bintang lebih besar dari pada matahari. Tapi satu hal yang pasti. Mereka semua bersama untuk mengindahkan mata. Membantu orang-orang untuk melepas penat, sejenak bersyukur dengan mata yang mereka miliki, yang bahkan tak pernah kita minta. Ayolah, apa kalian pernah benar-benar bersyukur dengan mata yang masih berfungsi sebagaimana mestinya ketika bangun? Atau apa kau perah benar-benar bersyukur dengan udara yang masih bisa kita hirup ketika bangun? Atau kuping yang  mendengar adzan shubuh yang membu...

Kau Adalah Alasanku

Untuk pertama kali. Aku takut untuk terlelap, bukan karena hal besar atau masalah yang terlalu dipikirkan, hanya kekhawatiran karena seekor kucing yang akan menumpahkan pasir tempatnya buang air tumpah berantakan. Memberikan daftar kerja untuk awal hari yang sangat tidak nyaman. Nyaman? Bukankah hal seperti itu masih lah hal mudah. Bukan kah masih banyak orang yang rela menyelami lumpur hanya untuk makan? Mengotori dirinya dengan pandangan orang-orang agar keluarganya dapat tersenyum ketika pulang? Membiarkan dirinya dihina dan dicaci agar orang-orang yang menunggunya di rumah bisa memujinya.

Biarkan Aku Merindukanmu

Dingin. Malam ini cukup dingin, walau pun hanya berdiam di dalam kamar. Merengkuk dalam selimut. Mencari sebuah kehangatan tubuh. Tapi tidak untuk hati. Baru saja ku buat kopi hitam untuk menemani. Bintang kali ini pun tidak muncul, masih tertutupi oleh awan mendung yang siap kembali mengguyur tanah pertiwi. Membuat anak-anak yang ingin bermain terpaksa harus mengurungkan niatnya. Bukan, bukan karena mereka tak ingin bermain air dalam lubang di jalanan, hanya karena orang tua mereka yang melarang. Sudah malam, khawatir esok hujan akan kembali turun. Membuat baju yang dijemur tak bisa kering.

Malam Ini Pun Tetap Sama

Kembali dengan sebuah kisah klasik dari seorang remaja tanggung yang masih mencari jawaban akan kehidupannya. Mencari sebuah keadilan tentang nasib. Mencari senyum tulus di antara wajah yang murung. Lelah sudah tubuh ini. Untuk satu hari yang diisi dengan berkendara. Tenang saja, aku memiliki tujuan untuk berkendara. Tidak sekedar melepas penat seperti malam di mana aku memabakar api unggun untuk mengisi malam ini. Ada banyak cerita untuk hari ini. Memang bukan ceritaku. Tapi malam ini pun cerita itu masih berjalan. Lebih tepatnya terulang. Kembali berputar bak film.

Izinkan Aku Membuatmu Menangis

Malam lengkap sudah dengan gelapnya. Matahari sudah sejak tadi tenggelam. Meninggalkan sang hari. Menutupnya dengan seluit cahaya jingga yang indah menghiasi langit. Membantu orang-orang sedikit melepas penatnya sejenak. Sebelum mereka harus kembali berdesak-desakan di angkutan umum. Udara sore selalu menenangkan di tempatku. Sunyi. Siang tadi. Beberapa warga membersihkan tumbuhan liar yang ada di depan tempat tinggalku. Ingin membantunya. Hanya saja ego ini masih lebih mementingkan diri sendiri. Lebih khawatir dengan nilai ujian yang jelek. Dan menegesampingkan rasa soialisasi yang rasanya untuk saat ini hanya ada pada lidah. Masih belum sampai ke hati.

Api Tidak Harus Dipadamkan Oleh Air

Satu hari lainnya yang mulai berlalu. Matahari yang pada siang tadi menempati tahta tertinggi di langit nusantara perlahan turun hingga akhirnya tenggelam. Membiarkan sang rembulan, yang malam ini pun masih tidak bulat sempurna muncul untuk menggantikannya. Mempercayakan sedikit cahayanya untuk kita. Bukan untuk menyinari, tapi untuk memikat seseorang yang tengah sendu bahwa masih ada keindahan yang dilewatkan dibanding dengan kisah percintaan yang penuh dengan drama. Menenangkan seseorang yang gundah karena masalah yang belum selesai hari ini. Menyenangkan hati yang tersakiti karena dilupakan karena memang dirinya yang lupa pada yang Maha membolak-balikan hati. Dan menyelamatkan iman kita yang lupa akan nikmat-Nya.

Dalam kesendirian

Pagi masih sejuk dengan kabut yang menyelimuti. Gelap masih menyelimuti langit, bintang gemintang masih dengan jelas terlihat. Membuat sensasi yang membekas untuk orang-orang yang menjalankan hari dengan harapan. Ahh harapan. Hal itu yang selalu membuat semua orang terus melanjutkan hari yang bahkan bisa menjadi lebih buruk. Perjuangan yang bisa menjadi bahan tertawa. Harapan yang bisa jadi hanya sebuah fatamorgana.

Nafas

Udara masih terlalu dingin untuk keluar bertelanjang dada. Pun, embun pagi masih membasahi rumbut di halaman. Akan terasa menyegarkan menginjaknya dengan bertelanjang kaki. Tanpa alas. Tanpa dosa. Bukan kah manusia makhluk yang terlalu banyak meminta dan cenderung egois? Tak ingin dirinya terinjak, tetapi berani menginjak hak makhluk lain. Warna jingga masih sangat indah untuk dilihat. Cantik.

Untukmu Kawan

Matahari baru saja terbenam, meninggalkan seluit cahaya cantik yang dapat dinikmati dengan tenang. Langit mulai gelap. Sirna sudah cerahnya langit biru. Tapi jangan kau lupa, di gelapnya malam, masih ada bintang yang menggantikan kecantikan alam. Kau pikir untuk apa sang Khaliq menciptakan bintang yang begitu banyak jumlahnya? Kalau menurutku, hanya untuk mengingatkan kita bahwa kita masih diberi nikmat-Nya sampai pada saat ini untuk melihat keindahan ciptaannya.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Kopi Hitam yang Kuseduh Untukmu

            Kepala memang tidak bisa selalu mendongkak, menatap langit yang jauh. Indah dengan warna biru laut yang menjadi dasar. Untuk selalu berpikir, selalu menyamangati diri bahwa masih ada langit yang masih harus dicapai. Masih ada malam yang akan mengisi kesunyian. Masih ada hari esok yang harus terus diperjuangkan.

Yang Hilang dan Yang Tak Nampak

                     Kawan. Tidak banyak waktu yang sekarang kita miliki untuk saling bertatap wajah. Untuk saling melontarkan pertanyaan. Untuk kembali duduk dengan segelas kopi hangat yang mengahi. Untuk kembali mengobrol panjang hingga asap itu hilang. Musnah. Bak keangkuhan.

Malam Kelabu

            Haii kawan, apa kabarmu? Apa kabar dengan mimpimu? Apa kabar dengan semangatmu?            Kau tahu? Saat ini aku sedang kehilangan jalan. Aku kehilangan diriku. Setiap kali aku melihat cermin tak lagi aku temukan diriku. Aku hanya menemuka orang lain yang berwajah mirip tapi berbeda tekad. Berbeda pemikiran. Berbeda perasaan. Mungkin kau hanya akan tertawa dengan melihatku yang saat ini hanya dapat bertanya-tanya padamu.