Kopi yang diseduh kala sore itu tak menawan sama sekali. Ia hambar, tak berasa, tak sedikitnya menyentuh rongga kenikmatan dalam hasrat. Tentu, mungkin saja aku yang tidak pandai menikmatinya. Atau, memang kopi itu yang terlalu sombong untuk dicicipi oleh lidah basah ini. Memahami memang bukan suatu perkara yang mudah untuk dicerna. Baik secara gamblang, atau tersirat pun. Batang rokok yang sedari terhisap, terbakar sempurna lalu perlahan menjadi abu mengikuti hal yang sama. Seakan dia ingin berkata seperti ini ; kau tak patut lagi untuk menghisap tubuhku barang sedikit. Aku adalah hal yang berbeda, dan begitu sebaliknya. Runtuh jua akhirnya. Aku mengamini, padahal rasanya baru kemarin kita berbicara satu sama lain. Tanpa halangan, tertawa, menikmati waktu yang mulai habis disetubuhi oleh kalimat-kalimat yang tak jelas. Membicarakan padi di sawah, malah terkadang mengaitkan ikan paus di laut. Mata yang kemarin menarik, tiba-tiba buta dan percaya bahwa kita memang tidak pernah be...
THINK IT SO HARD ANYMORE