Kembali dengan sebuah kisah klasik dari seorang remaja tanggung
yang masih mencari jawaban akan kehidupannya. Mencari sebuah keadilan tentang
nasib. Mencari senyum tulus di antara wajah yang murung. Lelah sudah tubuh ini.
Untuk satu hari yang diisi dengan berkendara. Tenang saja, aku memiliki tujuan
untuk berkendara. Tidak sekedar melepas penat seperti malam di mana aku
memabakar api unggun untuk mengisi malam ini. Ada banyak cerita untuk hari ini.
Memang bukan ceritaku. Tapi malam ini pun cerita itu masih berjalan. Lebih tepatnya
terulang. Kembali berputar bak film.
Cerita lama akan selalu menjadi hal yang mengasyikan untuk kembali
diingat. Hei, bukan kah cerita itu bagian dari kita. Bagian dari potongan hidup
yang akan selalu menjadi sebuah kenangan. Bahkan kita tidak tahu, apakah cerita
itu benar-benar telah berakhir atau memang sebuah skenario-Nya lah yang
memisahkan kalian yang pada akhirnya akan kembali bersama. Melanjutkan cerita yang terputus
Yahh... kalian, bukan aku. Bagiku, untuk saat ini sudah kutemukan
bagian dari sepotong hidupku. Seseorang yang telah membuatku untuk semangat
menyambut pagi. Seseorang yang membuatku selalu berpikir untuk maju. Seseorang yang
membuatku kembali berjalan menapki nestapa. Membentuk sebuah aksara bagi
kehidupan yang singkat ini.
Biarkan luka itu membekas. Jangan pernah kau coba untuk
menghapusnya. Apalagi menguburnya dalam-dalam. Kita tidak akan tahu, kapan luka
itu kembali merekah, atau bahkan mungkin kapan orang yang menyebabkan luka itu
datang kembali. Semoga dia tidak datang untuk membuat luka lainnya.
Kau tahu? Bukan hanya kau seorang yag pernah merasakan sakitnya
dari mengingat memori indah itu. Sebuah ingatan manis yang dulu bahkan kita tak
pernah berpikir untuk mengakhirinya. Membuang jauh semua rasa yang pernah
membuat hati bungah. Bukankah dulu ucapan selamat pagi darinya begitu penting? Bukankah
kabar darinya begitu penting? Bahkan hanya sekedar menunggu balasannya pun
sering membuat kita lupa bernafas? Berharap dia membalasnya sesuai dengan keinginan
kita? Bukan kah senyumnya pun sudah cukup membuatmu terjaga semalaman? Berharap
esok hari, di pagi yang tenang dia datang dengan senyum yang sama, dengan
perasaan yang lebih dari kemarin?
Ayolah, hidup tidak lah sependek itu. Biarkan semua mengalir
sebagaimana mestinya. Tak perlu kau tutup arus yang tenang. Mungkin dia sudah
membuat arusnya sendiri bukan? Tentunya tidak benar-benar sendiri. Tetapi dengan
orang lain yang akhirnya mampu menutup lubang pada hatinya. Lubang yang pernah
kau buat dan pergi tanpa menutupnya.
Terkadang sebuah alasan sudah cukup untuk membuat kita mampu untuk
pergi dan meninggalkan segalanya. Termasuk kau. Jangan salahkan siapa-siapa. Cukup
salahkan diri sendiri. Lagipula, bagaimana bisa kau dengan mudahnya jatuh hati
dengan seseorang yang bahkan belum pernah kau temui bukan? Memang, untuk sebuah
kutukan bernama cinta, tak perlu ada alasan yang logis untuk dapat diterima.
Banyak ungkapan manis yang akan kita tertawakan di waktu dulu. Bukan
karena kau bodoh. Hanya hati kita yang memaksa. Kau tahu? Untuk urusan satu
ini, jangan biarkan akal masuk mencampuri urusan ini. Biarkan sang hati yang
memutuskan untuk benar atau salahnya. Jangan biarkan menipumu, cukup biarkan
dia melihat sebuah keindahan sang Khaliq. Jangan biarkan telinga tertutup,
biarkan terbuka dan terus menangkap semua janji. Jangan biarkan lidah mendusta,
cukup bibir yang tersenyum.
Kawan, tak perlu ada penyesalan. Bahkan untuk sebuah kebahagiaan
semu yang dulu kau lalui itu cukup untuk membuat terus tersenyum sendirian saat mengenang semuanya dengan detail. tanpada potongan dari kenangan indah itu yang tertinggal.
Yahh, biarkan semua mengalir dan membawamu hingga ke lautan yang
luas. Biarkan waktu terus berjalan tanpa mempedulikan perasaanmu.

Comments
Post a Comment