Skip to main content

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.
Dan hal ini tidak hanya terjadi di antara masyarakat kecil yang tidak mengenyam pendidikan, tapi juga terjadi di antara intelektualitas kampus. Bagaimana demikian hal itu terjadi? Terlepas dari masalah tiap nilai pancasila yang menjadi dasar ideologi negara, bahkan nilai baik-buruk, benar-salah, jujur-dusta pun ikut imbasnya. Semuanya menjadi relatif bagi mereka.
Pada satu waktu, pernah para kaum intelektualitas kampus di seluruh Indonesia turun ke jalan, bersama dengan para buruh yang ikut meramaikannya. Aku adalah salah satu orang yang ikut meramaikan halan tersebut. Bukan tanpa sadar, alasan untuk hadir pada hari itu hanya untuk memenuhi tugas sebagai salah satu kegiatan jurnalistik. Mencatat dan melaporkan kejadian yang terjadi. Sejak matahari pada titik klimaksnya sampai akhirnya mulai tumbang di kaki langit bagian barat, kami semua tertahan di depan salah satu kawasan perkotaan ibu kota.
Terpaksa mereka menggelar acara ‘Persidangan Rakyat’ di sana—yang pada awalnya akan dilaksanakan di depan istana—khalalayaknya persidangan seperti biasa. Sampai akhirnya salah satu dari massa memasuki dengan menggunakan topeng wajah orang nomor satu di negara ini. Sambil menyampaikan tuntutan, si penuntut juga mengeluarkan kata kasar yang seharusnya tidak pernah terjadi dalam sebuah persidangan. Hardik yang seharusnya tak terjadi bahkan dalam kehidupan sosial.
Pada akhirnya, ketika aku berbincang dengan salah satu ‘kenalan’ yang ikut ambil andil dalam kegiatan perpolitikan kampus dan mencoba untuk memprotes hal tersebut dia justru merasa terganggu. Menuduh kalau aku memihak kebatilan yang dilakukan oleh para penguasa. Pada akhirnya diri hanya dapat menilai, relativitas nilai kehidupan tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat bawah, tapi juga oleh mereka yang berlomba-lomba untuk menjadi lebih ‘pintar’ dari yang lain.
Mereka sering kali menyebut kita bangsa yang bermartabat, berbudaya, dan berideologi. Tapi kok soal hardik—menghardik—pun mengapa jadi runyam. Apa salahnya mengakui hal tersebut memang sebuah kesalahan. Kebatilan seseorang tak pernah bisa dijadikan alasan agar orang lain dapat merendahkan yang lainnya.
Dan tentu saja pemerintah pun bertanggung jawab atas terjadinya ‘kebingungan’ ini. Karena memang tidak ada ketegasan atau bahkan kepastian yang mengatur tentang nilai tersebut. Pelajaran agama di sekolah pada akhirnya berakhir menjadi angka tercetak di ijazah. Bahkan oleh para penyeleksi pekerjaan terkadang hal itu hanya menjadi pelengkap, tak jarang terlewatkan. Terfokus pada nilai matematika, IPA, atau bahasa Inggris.
Kita lebih suka untuk menilai sesuatu sesuai dengan kondisi dan situasi pada saat itu. Menjadikannya alasan dan pembenaran terhadap perbuatan kita, pada akhirnya hanya mejadi ingatan belaka. Bukan sebagai nilai teguh yang dipegang.
Tapi tak apa, itu salah satu hak kebebasan manusia yang diberikan oleh Tuhan. Hak untuk memilih nilai mana yang akan mereka teguh. Memilih nilai mana yang akan mereka abaikan. Hanya saja tak perlu untuk membenci sesuatu yang buruk. Karena pada dasarnya kita sama sekali tak memiliki hak untuk membenci hal tersebut. Bahkan pada iblis sekalipun, yang kita miliki hanya hak kemerdekaan untuk menjadi seutuhnya manusia—Illa liya’buduun—tidak kurang tidak lebih.

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.