Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2017

Kopi Sore Yang Ramah

Kopi yang diseduh kala sore itu tak menawan sama sekali. Ia hambar, tak berasa, tak sedikitnya menyentuh rongga kenikmatan dalam hasrat. Tentu, mungkin saja aku yang tidak pandai menikmatinya. Atau, memang kopi itu yang terlalu sombong untuk dicicipi oleh lidah basah ini. Memahami memang bukan suatu perkara yang mudah untuk dicerna. Baik secara gamblang, atau tersirat pun. Batang rokok yang sedari terhisap, terbakar sempurna lalu perlahan menjadi abu mengikuti hal yang sama. Seakan dia ingin berkata seperti ini ; kau tak patut lagi untuk menghisap tubuhku barang sedikit. Aku adalah hal yang berbeda, dan begitu sebaliknya. Runtuh jua akhirnya. Aku mengamini, padahal rasanya baru kemarin kita berbicara satu sama lain. Tanpa halangan, tertawa, menikmati waktu yang mulai habis disetubuhi oleh kalimat-kalimat yang tak jelas. Membicarakan padi di sawah, malah terkadang mengaitkan ikan paus di laut. Mata yang kemarin menarik, tiba-tiba buta dan percaya bahwa kita memang tidak pernah be...

Malamku Akan Tetap Sama

Kembali dengan sebuah kisah remaja tanggung yang masih termenung di bawah langit yang menggelap. Tenang saja, untuk malam yang satu ini rembulan tidak muncul. Tertutupi awan mendung sejak yang sejak sore hari sudah menutup cahaya lembut mentari. Membiarkan angin berhembus lebih kencang dari biasanya. Menerbangkan guguran daun yang sudah dirapihkan. Membuat jatuh jemuran, untung siang tadi terik matahari berhasil mengeringkannya. Kalau tidak, akan membuat kegiatan ibu-ibu tetangga harus mengurungkan niatnya untuk merapihakn baju-baju itu.  

Ikatan

Gelap akan terus dan selalu menjadi dasar dari langit di malam hari. Bersama dengan rembulan indah yang membuat lingkaran cahaya di sekitarnya. Bersama dengan bintang-gemintang yang betumpah ruah menghiasi lengangnya langit. Sunyi menjadi suasana yang bersahabat bagi mereka yang masih terlelap dalam tidurnya. Mungkin terhibur dengan mimpinya, atau tersakiti karenanya. Udara dingin yang menusuk kulit membuat orang-orag memilih untuk berdiam di rumah. Menarik selimut, menutupi seluruh tubuhnya. Beberapa pemuda tanggung terlihat masih di bahu jalan. Tiga sampai lima motor terjajar rapih. Berbincang hangat, menghiraukan dingin yang menusuk. Diselingi dengan candaan yang mewarnai gelap. Hari memang sudah menutup catatannya. Bagi sebagian orang. Tidak bagi sebagian lainnya. Yang memilih terjaga karena esok adalah hari libur. Mereka bisa beristirahat dengan tenang tanpa khawatir dengan alarm yang setiap pagi memaksa untuk bangun.

Kuharapkan Hujan, Tapi Tangis Yang Turun

Saban hari langit yang cerah tiba-tiba mendung. Kuharapkan hujan, tapi tangis yang turun. Seperti aku kepada kau yang masih tidak pasti. Kuharapkan kau datang, kau justru hanya semakin menjauh. Adanya dirimu di setiap bayang, di dunia maya yang seakan hanya terus menerus mengganggu. Tetapi aku menikmatinya, dengan menggerutu. Buatku, seperti ucapan Boy Candra dalam setiap sabdanya yang berlebihan ; ku ajak kau ke hutan, lalu tersesat berdua. Seakan semuanya semakin pupus.

Maaf, Bisakah Kita Kembali Menapaki Lagi?

Seberapa besar aku mencoba melupakanmu, tetap saja usaha itu kembali ke titik yang sama. Aku tetap tak bisa melupakan. Jika dari sekian kata untuk pecundang, aku pantas menerima semua kata-kata itu dan tidak ada lagi keraguan untuk mengambilnya. Untuk berkata entah saja, mungkin tetap tak berbuah apapun. Kita yang sebenarnya tak bisa saling menemukan sisi lain diantaranya, atau hanya aku yang memang masih bersembunyi ketakutan untuk menyentuhmu. Tidak bermaksud yang tidak-tidak. Tapi, menyembunyikan pun akhirnya tetap saja tak bisa tersembunyi. Aku hanya bisa tersenyum kosong, seolah semuanya baik-baik saja, diantara sayatan yang terus membuka lebar.