Skip to main content

Kopi Sore Yang Ramah

Kopi yang diseduh kala sore itu tak menawan sama sekali. Ia hambar, tak berasa, tak sedikitnya menyentuh rongga kenikmatan dalam hasrat. Tentu, mungkin saja aku yang tidak pandai menikmatinya. Atau, memang kopi itu yang terlalu sombong untuk dicicipi oleh lidah basah ini. Memahami memang bukan suatu perkara yang mudah untuk dicerna. Baik secara gamblang, atau tersirat pun.

Batang rokok yang sedari terhisap, terbakar sempurna lalu perlahan menjadi abu mengikuti hal yang sama. Seakan dia ingin berkata seperti ini ; kau tak patut lagi untuk menghisap tubuhku barang sedikit. Aku adalah hal yang berbeda, dan begitu sebaliknya. Runtuh jua akhirnya. Aku mengamini, padahal rasanya baru kemarin kita berbicara satu sama lain. Tanpa halangan, tertawa, menikmati waktu yang mulai habis disetubuhi oleh kalimat-kalimat yang tak jelas. Membicarakan padi di sawah, malah terkadang mengaitkan ikan paus di laut.

Mata yang kemarin menarik, tiba-tiba buta dan percaya bahwa kita memang tidak pernah berjumpa sebelumnya. Entah, entah, dan entah yang sudah mungkin tak terentahkan lagi. Lucunya aku mengamini lagi. Kadang aku berpikir seperti ini ; apakah mungkin waktu bisa kita lobi hanya untuk sekedar bertemu? Hanya Tuhan yang tahu jawabannya itu kiranya.

Jadi, sebelum paragraf ini ditutup dengan kalimat yang makin tidak jelas, bahkan kalimat yang tidak dimengerti, aku dengan rendah hati ingin mencoba untuk merangkul bayangan fanamu itu. Semoga pada akhirnya, kopi hambar dan rokok yang sudah menjadi abu semenjak tadi kembali bisa kulahap dengan tenang. O iya, aku mendoakan semoga kau tetap menjadi perempuan yang baik hatinya. Tak segan untuk menyapa seperti sebelumnya. Aku yakin, kau yang tidak terlalu cantik punya dua sisi yang berbeda. Keramahan yang membuat semua orang  mengenalmu. Senyum tulus yang membuat orang (tentunya aku) akan dengan senang berkata ; aku menyayangimu.

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.