Skip to main content

Kuharapkan Hujan, Tapi Tangis Yang Turun



Saban hari langit yang cerah tiba-tiba mendung. Kuharapkan hujan, tapi tangis yang turun. Seperti aku kepada kau yang masih tidak pasti. Kuharapkan kau datang, kau justru hanya semakin menjauh. Adanya dirimu di setiap bayang, di dunia maya yang seakan hanya terus menerus mengganggu. Tetapi aku menikmatinya, dengan menggerutu. Buatku, seperti ucapan Boy Candra dalam setiap sabdanya yang berlebihan ; ku ajak kau ke hutan, lalu tersesat berdua. Seakan semuanya semakin pupus.

Kau yang hanya memicingkan mata, tak pernah sedikitnya tunjukkan keterkaitan antara kita. Setidaknya, cobalah buka sedikit kesempatan dalam kesulitanku untuk memahami. Kau tak pernah merasakannya bukan? Komunikasi yang kubangun perlahan ternyata hanya menguliti diriku sendiri. Yang akhirnya aku terlambat (mungkin) untuk menyadari. Kau memang tak sesederhana apa yang ada dibayangkan oleh pikiranku, atau dalam puisi Sapardi.

Saban hari, rintik hujan yang terus menerus turun hanya membuatku menyelimuti diri dalam kebohongan sendiri. Membohongiku yang mencoba melupakan, justru akhirnya aku jatuh dan hanya mengharap kau datang memberi pelukan. Mungkin kau hanya akan semakin merasa aku hanya membual semata. Tak apa, hanya aku yang bisa menafsirkan larik larik tulisan ini. Tak mengapa, aku tetap ingin kau begitu saja. Perihal kau yang ingin aku miliki, dengan sifatmu yang tak tertebak olehku, membuat kisah ini mungkin menarik. Bodoh kan? Tak apa, aku hanya menikmati ketololan ini.

Tapi, tawamu yang tipis itu semakin membuatku tak pernah bisa berdaya. Rupamu yang hanya membuat sayu saling mengadu, membuat aku hanya terus ingin menyapu sadarku. Terpaut semakin jauh, oleh perbedaan lantai di antara gedung cakrawala yang meneduhi kita berdua. Bayangmu ingin kucumbu. Itu adalah hal mungkin paling membuatku terharu, dengan jarak yang semakin sempurna oleh tempat dan waktu.

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.