Gelap akan terus dan selalu menjadi
dasar dari langit di malam hari. Bersama dengan rembulan indah yang membuat
lingkaran cahaya di sekitarnya. Bersama dengan bintang-gemintang yang betumpah
ruah menghiasi lengangnya langit. Sunyi menjadi suasana yang bersahabat bagi
mereka yang masih terlelap dalam tidurnya. Mungkin terhibur dengan mimpinya,
atau tersakiti karenanya. Udara dingin yang menusuk kulit membuat orang-orag
memilih untuk berdiam di rumah. Menarik selimut, menutupi seluruh tubuhnya. Beberapa
pemuda tanggung terlihat masih di bahu jalan. Tiga sampai lima motor terjajar
rapih. Berbincang hangat, menghiraukan dingin yang menusuk. Diselingi dengan
candaan yang mewarnai gelap. Hari memang sudah menutup catatannya. Bagi sebagian
orang. Tidak bagi sebagian lainnya. Yang memilih terjaga karena esok adalah
hari libur. Mereka bisa beristirahat dengan tenang tanpa khawatir dengan alarm
yang setiap pagi memaksa untuk bangun.
Kau tahu? Untuk satu malam lagi
kuhabiskan dengan kembali termenung. Kutipan dari salah seorang kiai tersohor
yang membuatku sedikit banyaknya berpikir tentang hidup. Kita memang bagian
dari mekanismenya. Tetapi kita hanya bagian kecil. Yahh… kita, para manusia
yang sering kali angkuh. Bagaimana tidak? Tidak kah kau melihat bagaimana kita
bertindak bak kuasa di atas tanah. Mengonntrol pertumbuhan makhluk hidup lain
yang padahal mereka juga adalah bagian dari mekanisme tersebut. Malam selalu
menjadi waktu yang tepat untuk mengeluarkan semua lara.
Kopi hangat yang asapnya masih mengepul
selalu setia menemani. Berhasil membuat mata yang sayup kembali terbuka. Tidak terpaksa.
Hanya sebuah kenikmatannya lah yang membuatku bertahan. Penasaran, barang kali
ada kenikmatan lain yang akan kutemukan dari segelas kopi ini.
Kembali menyambung kepulan asap yang
telah habis. Membakar baranya, dan menghempaskan asapnya tinggi-tinggi. Membiarkannya
terbang ke langit bebas. Wujudnya menghilang bersama dengan angin. Tapi tidak
dengan baunya.
Kau tahu? Salahkah aku apabila berpikir negeri ini berdiri di atas ikatan sebuah ikatan tali persahabatan. Persahabatan antara
dua orang yang berbeda bak air dan minyak, yang apabila dicampurkan akan masih
terlihat jelas perbedaannya. Dan beberapa hal yang kufahami. Tak perlu mengucap
untuk seorang sahabat dan tak perlu sama untuk menjadi seorang sahabat. Bukti nyata
ada di antara mereka. Tokoh masyhur untuk negeri pertiwi ini. Tokoh yang telah
mengantarkan kita hingga sekarang kita mampu bertemu. Berbicang banyak hal
tanpa perlu khawatir dengan koloni.
Seorang bapak proklamator idealis yang
berkorban untuk negeri dan seorang bapak koperasi yang hingga akhir hayatnya
tak bisa membeli sepatu idamannya. Selalu mengasyikan membahas mereka. Semalaman
suntuk pun pernah kita lalui untuk memperbincangkannya. Mereka yang
mampu membuat sebuah perbedaan itu menjadi sebuah hidangan yang dapat dinikmati
semua orang. Hidangan yang mampu dinikmmati semua rakyatnya. Dan salah satu hidangan mereka adalah proklamasi kemerdekaan.
Selalu ku berharap kita bisa menjadi
sosok seperti beliau. Yang mengerti satu sama lain tanpa harus bicara. Yang selalu
tahu satu sama lain tanpa harus cerita. Yang selalu bisa kembali bersatu walau
jelas berbeda. Memberikan tempat terhangat di malam hari untukmu sang saudara. Memberi penghargaan
pribadi untuk sang saudara. Memberi sebuah kepercayaan tanpa harus ada
kekhawatiran.
Malam semakin larut. Suara jangkrik
mulai mengisi malam. Kopi ku masih banyak. Baranya pun masih menyala. Dingin malam
tidak lebih adalah bagian dari cerita kita. Kau selalu berhasil menjadi sosok
yang membantuku bangun dari jatuh. Membuatku kembali berpikir masalah yang
kuhadapi adalah bagian kecil dari masa mudamu. Yahh, sebagian cerita klasik
yang akan menjadi momentum tersendiri.
Apa kau tahu kawan? Kebijakan bukan
hanya soal pertimbangan, apalagi tentang menguntungkan diri sendiri. Kebijakan
adalah permasalahan di mana kita harus bisa memenuhi kepuasaan hati orang lain.
Bukan dengan janji, tapu bukti. Bukan dengan tangisan tapi tawaan. Membiarkan mereka
bahagia di atas tanah para leluhur tanpa harus khawatir rumah mereka digedor.
Dan semua ini adalah salah satu alasan
yang bisa kujelaskan, yang membuatku selalu tertarik untuk menghabiskan malam
yang sepi dengan perebincangan ringan atara kau dan aku. Yang tidak jarang aku
mengamini beberapa penggalan kata yang kelak menjadi harapan.
Dariku, sang asap yang terus terbang ke
atas dengan angkuh lalu menghilang meninggalkan setitik lubang di langit,
untukmu sang ampas kopi yang selalu berhasil membuat penikmatnya termenung
untuk sebuah kenikmatan yang tak terjelaskan.

Comments
Post a Comment