Kembali dengan celoteh remaja tanggung yang masih bingung bagaimana dunia ini bekerja dan bagaimana bisa seseorang diriku masih diberkan nikmat oleh-Nya yag Maha Pemberi.
Selamat pagi rembulan yang mulai tenggelam. Yang cahayanya mulai redup dan temaram, yang selalu menghibur kala diri kelam. Setidaknya sebelum mentari menyingsing, izin aku untuk menumpahkan kesedihan dengan bercerita secuil kisah yang amat tidak penting.
Parasmu cantik membelai Kehangatan, Tak terhapuskan dalam ingatan. Mukamu yang bulat tapi Manis, Membuat sukma makin menipis. Kau bukan Makanan, Apalagi takjil Puasa. Tapi selalu ku nanti, Hingga ke hati. Kecantikan memang relatif dan juga kompetitif. Bagiku dirimu mutlak, Yang membuatku selalu Tergelak.