Parasmu cantik membelai Kehangatan, Tak terhapuskan dalam ingatan. Mukamu yang bulat tapi Manis, Membuat sukma makin menipis. Kau bukan Makanan, Apalagi takjil Puasa. Tapi selalu ku nanti, Hingga ke hati. Kecantikan memang relatif dan juga kompetitif. Bagiku dirimu mutlak, Yang membuatku selalu Tergelak.
Sayang. Kekagumanku kau acuhkan, Selalu kau menghindar dengan Kehalusan. Menafikanku dengan Perlahan, Yang amat melekit hingga perasaan. Bagai kertas kosong yang tergores Tinta hitam, Kau koyak aku dengan kata-kata penolakan. Kau memang tak berkata kasar bak pelacur. Tapi itu semua cukup membuatku terkikis dan hancur. Terhempaskan.
Beribu Penolakan kau tuturkan, hingga aku bosan untuk mendengarkan. Celotehmu selalu sama. Memiliki arti yang sama, Yang kau ucapkan ribuan kali tanpa berfikir lama. Aku bagai sang Pengemis, yang selalu saja mencari makan hingga meringis. Berbagai cara dilakukan, hingga rasa lapar terpuaskan. Dan kamu bagaikan saudagar kikir,yang enggan memberikan air barang setetes. Hingga kau ratapi sang pengemis terkapar, menunggu dirimu hingga dirinya Mampus. Menanti harapan yang telah pupus.
"Maaf, Aku sedang sibuk". Selalu saja rangkaian kata itu yang terucap dari lisanmu, yang selalu saja bergema di telingaku. Hingga akupun bosan menuliskanya, untuk mencontohkanya.
Tidakkah kau memikirkan sakitnya Sukma ini? Yang selalu saja setiap hari kau hujam dengan ribuan kata-kata Busuk yang menyesakan Dada. Menyayat Rasa. Pernahkah terbersit? Setitik Perasaanmu untuk memahami diriku, yang telah terombang-ambing oleh kamu.
Kenapa tidak kau ucapkan saja? Untuk jujur atas perasaanmu juga! Untuk tidak menyembunyikan semua rasamu yang bersemayam dalam sukma! Hancurkan aku sekalian, Hingga terkoyak-koyak Oleh kesedihan. Jangan buat aku rapuh secara perlahan, mencabikku dengan ketenangan. Itu membuatku sekarat! Membuatku makin tertohok oleh perasaan. Jadilah pembunuh sekalian, yang tidak pernah segan melakukan. Hujamlah aku dengan sebilah Belati, Hingga hancur hati ini.
Kau selalu saja membuatku tak berhenti berharap. Kau itu adalah fatamorgana mengerikan yang pernah aku jumpa. Dan bodohnya, Selalu saja aku mengulangnya. Menghampiri kamu sampai diriku mampus oleh angan-angan palsu.
Aku tahu sekarang, apa yang terparah dari patah hati. Aku tidak mati. Walau sakitnya membuat semua tulangku lantak, walau sakitnya membuat semua luka menganga, tapi aku terus hidup. Aku akan terus hidup dengan semua sakit di dada.
Bahkan, Saat jatuh hati padamu. Mentaripun enggan menyapaku dalam kesepian.
-Chameleon

Comments
Post a Comment