Skip to main content

MENTARI PUN ENGGAN MENYAPAKU

Parasmu cantik membelai Kehangatan, Tak terhapuskan dalam ingatan. Mukamu yang bulat tapi Manis, Membuat sukma makin menipis. Kau bukan Makanan, Apalagi takjil Puasa. Tapi selalu ku nanti, Hingga ke hati. Kecantikan memang relatif dan juga kompetitif. Bagiku dirimu mutlak, Yang membuatku selalu Tergelak.

Sayang. Kekagumanku kau acuhkan, Selalu kau menghindar dengan Kehalusan. Menafikanku dengan Perlahan, Yang amat melekit hingga perasaan. Bagai kertas kosong yang tergores Tinta hitam, Kau koyak aku dengan kata-kata penolakan. Kau memang tak berkata kasar bak pelacur. Tapi itu semua cukup membuatku terkikis dan hancur. Terhempaskan.

Beribu Penolakan kau tuturkan, hingga aku bosan untuk mendengarkan. Celotehmu selalu sama. Memiliki arti yang sama, Yang kau ucapkan ribuan kali tanpa berfikir lama. Aku bagai sang Pengemis, yang selalu saja mencari makan hingga meringis. Berbagai cara dilakukan, hingga rasa lapar terpuaskan. Dan kamu bagaikan saudagar kikir,yang enggan memberikan air barang setetes. Hingga kau ratapi sang pengemis terkapar, menunggu dirimu hingga dirinya Mampus. Menanti harapan yang telah pupus.
"Maaf, Aku sedang sibuk". Selalu saja rangkaian kata itu yang terucap dari lisanmu, yang selalu saja bergema di telingaku. Hingga akupun bosan menuliskanya, untuk mencontohkanya.

Tidakkah kau memikirkan sakitnya Sukma ini? Yang selalu saja setiap hari kau hujam dengan ribuan kata-kata Busuk yang menyesakan Dada. Menyayat Rasa. Pernahkah terbersit? Setitik Perasaanmu untuk memahami diriku, yang telah terombang-ambing oleh kamu.

Kenapa tidak kau ucapkan saja? Untuk jujur atas perasaanmu juga! Untuk tidak menyembunyikan semua rasamu yang bersemayam dalam sukma! Hancurkan aku sekalian, Hingga terkoyak-koyak Oleh kesedihan. Jangan buat aku rapuh secara perlahan, mencabikku dengan ketenangan. Itu membuatku sekarat! Membuatku makin tertohok oleh perasaan. Jadilah pembunuh sekalian, yang tidak pernah segan melakukan. Hujamlah aku dengan sebilah Belati, Hingga hancur hati ini.

Kau selalu saja membuatku tak berhenti berharap. Kau itu adalah fatamorgana mengerikan yang pernah aku jumpa. Dan bodohnya, Selalu saja aku mengulangnya. Menghampiri kamu sampai diriku mampus oleh angan-angan palsu.
Aku tahu sekarang, apa yang terparah dari patah hati. Aku tidak mati. Walau sakitnya membuat semua tulangku lantak, walau sakitnya membuat semua luka menganga, tapi aku terus hidup. Aku akan terus hidup dengan semua sakit di dada.

Bahkan, Saat jatuh hati padamu. Mentaripun enggan menyapaku dalam kesepian.
-Chameleon

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.