Selamat pagi rembulan yang mulai
tenggelam. Yang cahayanya mulai redup dan temaram, yang selalu menghibur kala
diri kelam. Setidaknya sebelum mentari menyingsing, izin aku untuk menumpahkan
kesedihan dengan bercerita secuil kisah yang amat tidak penting.
Aku jatuh hati. Rasa ini amat mengangguku
dari saban hari, mengoyak pikiranku hingga menulusuk dalam sukma. Semua cara
kulakukan untuk menguapkan rasa, hingga aku temui rasa jemu dalam raga. Tapi
sebaliknya rasa ini semakin mengakar kuat hingga puncaknya, yang membuatku
makin gila dan sengsara. Nelangsa.
Tapi kenapa hatiku selalu jatuh kepada insan yang sedang dirundung rasa? Bukan untukku tapi kepada kekasihnya. Kenapa kisahku tak pernah semulus kisah dalam dongeng Cinderella? Yang akhirnya
bersatu, memadu kasih dalam kisah yang tak lagi sendu. Aku iri melihat dua
sejoli saling merajut harap satu sama lain, merajutnya perlahan hingga jenjang pernikahan.
Dan, bukan maksudku ingin melukai dirinya
lagi kekasihnya. Pernahkah kamu rasakan bulan? Menjadi pihak ketiga selalu saja
menyesakkan dada, menusuk rasaku dengan amat keji dan tega. Aku hidup dengan
rasa seperti itu, yang mengikisku dan membuat tulangku lantak dan parau.
Dia yang membuatku menaruh harap, yang
membuat sukmaku makin hari main kalap. Merasuki pikiranku dengan perlahan, mengoyaku hingga mampus dalam kesepian. Aku lebih baik dihujam Sebilah belati tajam, daripada terkoyak mampus dengan hunusan harapan yang terus saja menikam.
Setiap pagi hanya harapan saja yang kujadikan sarapan. Setiap siang hanya janji yang kutelan. Setiap malam hanya kesepian yang kujadikan teman dalam kegelapan. Batinku tersiksa, menusuk ke
batin yang Paling perasa. Mengulitiku dengan jemari kesadisan hingga aku sekarat dalam kenestapaan. Hanya untuk menunggu kamu menyelamatkanku dari
kepedihan.
Bualanku kusadari memang berlebihan, terlalu berharap mati untuk jadikanmu pasangan. Walaupun kutahu bahwa kamu
sudah miliknya, tertawan oleh dirinya. Tetap saja dengan teganya rasa ini
kupaksakan. Padahal kutahu kau dirinya sedang mabuk dalam asmara keindahan.
Dengan kejamnya aku harap pasanganmu mati, agar aku bisa menggantikanya untuk
dirimu menemani hari.
Dengan kejinya pikiran itu selalu
berulang dipiranku, menari-nari dengan ringanya berputar di otakku. Padahal
kuyakin aku tak ingin ada yang menghancurkanku, jika aku hidup bersamamu.
Bulan, pernahkah kau rasakan sedikit saja
apa yang kurasa? Pernahkah kau pahami yang aku selalu pendam di sepanjang
hayatku bersamanya? Ingin rasanya aku pergi dari bumi, Menghampirimu hingga aku tewas secara perlahan. Ditemani oleh kamu dalam kesendirianku yang amat hina
ini. Perlahan.
Sepertimu bulan, keadaanku memang penuh kesedihan. Terlihat cantik dari luarnya, sayangnya rapuh dan hancur dalam serta
isinya. Menangis pun hanya akan menyayat lukaku semakin dalam. Meracau pun
hanya akan buatku tambah gila. Mengutuk diri pun hanya buat diriku makin tak
jelas dari keranaan. Memendam rasa ini juga tak akan pernah buatku hidup dalam
kebahagiaan. Sekarat, dalam kehancuran.
Bagi kalian yang belum dirundug oleh makhluk
yang bernama "Cinta". Kuharap kau tak pernah salah dalam menjatuhkanya, melabuhkanya. Sekali kau salah dalam menyusurinya, kau akan
temui penyesalan yang amat menyiksa lagi selamanya. Hingga kau terkoyak dengan hnusan pedang yang amat tajam.
Semoga, tulisanku bisa meredam apa yang
kurasa. Khususnya kamu sang bulan, yang selalu dirundung dalam kesepian. Dalam
gelapnya malam.
-Chameleon

Comments
Post a Comment