Skip to main content

Tidak kah?

            
      Kembali dengan celoteh remaja tanggung yang masih bingung bagaimana dunia ini bekerja dan bagaimana bisa seseorang diriku masih diberkan nikmat oleh-Nya yag Maha Pemberi.
           Bajingan. Bangsat. Brengsek.
          Mungkin kata ini yang mampu menggambarkan diriku saat ini. Terlalu mudah bagiku untuk menilai diri ini dengan kata-kata kotor. Tapi bagiku, kata-kata itu yang lebih pantas untuk menggambarkanku saat ini.
          Hey kawan, boleh kah aku bercerita sedikit tentang keluh kesahku saat ini. Aku terlalu lelah dengan segala yang aku hadapi sekarang.
         Dimulai dari hari yang seperti biasa berjalan. Di mana matahari masih terbit dari timur. Cahaya yang menelisik sedikit memberi kesan pagi yang indah. Tidak ada yang special dari pagi itu, selain memulainya dengan shalat shubuh, biar pun tidak berjamaah setidaknya aku masih melakukan hak-Nya.
       Sempat termenung sejenak selesai shalat. Betapa munafiknya aku. Terlalu banyak meminta tanpa mampu memberi. Terlalu banyak menuntut tanpa menyelesaikan tuntutan sendiri, bahkan lebih banyak melalaikannya. Terlalu banyak berkoar keadilan tanpa tahu makna keadilan itu sendiri. Bahkan tanpa mampu memberi keadilan kepada diri sendiri. Meminta kepemimpinan yang baik, tanpa memimpin diri sendiri dengan. Meminta orang-orang untuk mendengar suaranku tanpa mendengar suara hati.
         Tidak kah itu terlalu munafik?
         Tidak kah itu terlalu egois?
         Tidak kah itu seperti anak kecil yang banyak meminta?
      Manusiawi. Memang, aku tidak menafikannya. Hanya saja diri ini masih terlalu mudah untuk sering berdalih dan berbohong. Masih terlalu mudah untuk menganggap remeh. Masih terlalu mudah untuk mengambil sebuah keputusan tanpa menimbang resiko. Bahkan, masih terlalu mudah untuk menilai seseorang dengan pakainnya.
         Aku harus bagaimana? Aku hanya ingin diriku yang dulu. Diri yang masih lugu. Diri yang masih mampu memegang janjinya tanpa peduli dengan apa yang akan dihadapi. Terlalu kotor hati kini. Terlambat kah aku menyadarinya?
        Aku hanya ingin menjadi seseorang yang berguna tanpa harus banyak mengeluh. Tanpa harus terjebak masa lalu terlalu lama. Tanpa harus terus menyesal dengan kesalahan. Tanpa harus tertekan.
        Haahhh… Tidak kah kau fikit aku terlalu banyak mengeluh. Untuk mengadu pun aku tidak tahu kepada siapa. Untuk menghembus nafask pun aku enggan saat ini. Terlalu sering aku menghembus nafas panjang. Berharap seluruh masalah itu ikut terbawa bersama nafas yang hilang di udara. Berharap hujan menghapus sedih hati ini. Bak janji yang ikut hilang dalam waktu. Bak pendirian yang tenggelam dalam nafsu. Bak keteguhan hati yang hancur oleh kemalasan.
       Ingin sekali aku jumpa denganmu kawan. Tidak kau berfikir bahwa aku terlalu munafik. Rindu hati ini tentang semua ocehan serta celoteh. Opini yang terbangun karena perbedaan pendapat. Ingin aku kembali di masa itu.

        Di masa di mana aku belum terjerumus dalam kenaiifan diri ini. Di masa kau selalu menegur diriku.

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.