Skip to main content

Tragedi Dan Komedi



Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Terlepas dari semua itu, bagaimana kabarmu kawan? Kudengar beberapa waktu lalu salah satu kawan lama kita datang ke tempatmu bukan? Syukur tak hanya sekedar mengunjungi, dia pun bersedia mengajarkan kalian ilmu yang telah dia dapatkan. Dan kudengar langkahmu telah dimulai, syukurlah, sempat kukhawatir bagaimana dan dari mana kau memijakan kakimu itu. Walau dalam waktu yang lama kau harus terdiam tapi semoga kabar baik yang datang kepadaku ini akan menjadi semua awal permulaan semua mimpimu. Mimpiku. Mimpi kita.
Kau tahu, bagiku kau adalah seekor kura-kura. Kau tahu, karena bentuk tubuhnya seekor kura-kura tak dapat bergerak mundur, walaupun ada saatnya dia terdiam di suatu tempat untuk waktu yang lama, tapi dia tak akan pernah memutuskan untuk mundur.
Dan aku? Sejauh ini aku tetap merasa berdiri di tempat yang sama tanpa ada langkah yang diambil. Bahkan terkesan mundur. Untuk semua anganku, aku mulai berpikir kalau semua itu hanyalah omong kosong belaka. Hanya ucapan pemanis bagi diri yang telah jatuh terlalu dalam. Sempat kuberbicara pada diri sendiri, apa layak diri ini untuk semua mimpi itu? Untuk setiap kisah indah di masa depan nanti, untuk setiap senyum yang ingin kita lihat nanti.
Tentu tidak bukan. Yah tentu tidak.
Setidaknya , dengan diriku yang saat ini semua hanya akan berakhir sebagai angan yang akan tak pernah terdengar bahkan oleh anakku. Semua mesti berubah. Bermimpi untuk mengubah suatu keadaan tentu harus dimulai dari diri sendiri bukan? Setidaknya hal itu yang tengah kulakukan. Berpikir dewasa, merasakan setiap tekanan lantas menikmatinya.
Hidup seperti terlihat rentetan tragedi, tapi setidaknya setelah semua berakhir akan ada saatnya kita mampu melihat semua itu hanya sebuah komedi. Bukankah begitu cara Tuhan meletakan kasih sayangnya terhadap hamba-Nya?
Dan kau tahu, kukira sudah saatnya kita menjaga waktu untuk bersua. Bukan karena aku tak ingin lagi atau alasan-alasan buruk lain. Hanya mencoba bersikap keras pada diri sendiri dan berhenti melihat dirimu. Aku adalah aku. Dan kau adalah kau. Kita memang hidup di bawah langit yang sama, memijak tanah yang sama, namun ada saatnya kita perlu berpisah untuk membuat sebuah cerita yang akan kita sebuat saat itu nanti sebagai ‘kisah lama’.
Menikmati setiap detik dari potongan malam dengan semua cerita pilu yang akan kita tertawakan. Bukan sebagai melodi kesedihan, melainkan sebagai irama kehidupan. Yah, bukan kah kita hidup bersama dengan seluruh komponen emosi yang sangat abstrak. Saat ini aku menulis semua ini dengan penuh kesadaran bahwa aku bahagia, mungkin tak lama setelah ini sesuatu yang kita sebut sebagai tragedi akan datang dan membawa sendu. Tapi tak apa, biar kunikmati semua itu hingga habis sudah semua air mata dan peluh.
Salam dariku kawan, semoga kau tetap sehat dan berhasil menjadi seorang manusia.

Comments

Popular posts from this blog

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.