Skip to main content

Maaf, Bisakah Kita Kembali Menapaki Lagi?


Seberapa besar aku mencoba melupakanmu, tetap saja usaha itu kembali ke titik yang sama. Aku tetap tak bisa melupakan. Jika dari sekian kata untuk pecundang, aku pantas menerima semua kata-kata itu dan tidak ada lagi keraguan untuk mengambilnya. Untuk berkata entah saja, mungkin tetap tak berbuah apapun. Kita yang sebenarnya tak bisa saling menemukan sisi lain diantaranya, atau hanya aku yang memang masih bersembunyi ketakutan untuk menyentuhmu. Tidak bermaksud yang tidak-tidak. Tapi, menyembunyikan pun akhirnya tetap saja tak bisa tersembunyi. Aku hanya bisa tersenyum kosong, seolah semuanya baik-baik saja, diantara sayatan yang terus membuka lebar.

Aku mencoba untuk menenangkan diri, mencari celah yang tersisa, pada akhirnya berakhir dengan tidak ada apapun. Sekian tawa, sekian senyum, sekian canda yang keluar dariku tetap saja lahir bersama kegelisahan dariku kepadamu. Aku terlalu bodoh untuk mendekatimu. Kau perempuan yang amat baik, bahkan sangat baik kepadaku. Aku yang teramat tolol, bodoh, ketakutan dalam hal ini.

Pada akhirnya, hari ini aku hanya menyimpan ketakutan yang sama dari dahulu. Seperti sepasang sepatu, aku hanya takut dirimu kehujanan. Takut dirimu kelelahan. Takut dirimu takut untuk tidak mau lagi menyapa, walau hanya sekadar bertanya kabar. Ucapku sabar hari perihal tahu diri, aku pahami itu. Semestinya memang tak pantas aku katakan hal tersebut. Aku terlalu menganggap remeh, hingga ketidak tahuan aku menyepelekan itu. Aku sadar, aku hanya harus tahu diri perihal status sosial kita. Perihal rasa, hanya Tuhan dan kita sendiri yang boleh tahu. Aku minta maaf.

Jadi, aku hanya ingin menyampaikan bahwa aku akan terus mencoba. Perihal ketidak ramahnya diri kita masing-masing, itu kuserahkan pada diri kita sendiri. Jadi, untuk saat ini biar kita melangkah, menapak kaki dengan keraguan, atau tanpa dirinya. Biar sama-sama kita pahami dulu. Walau, aku masihlah seorang yang kaku dalam hal ini.

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.