Skip to main content

Maaf, Aku Baper

Langit sempurna telah menggelap, bahkan sebelum waktunya sang malam tiba. Awan mendung nan pekat menutup seluruh langit kota. Membuat orang-orang yang masih di luar rumah sedikit gusar. Khawatir akan hujan yang akan turun, belum lagi, dengan awan mendung sepekat ini bisa jadi hujan yang akan turun sangat deras dan cukup lama. Cukup membuat saluran air di kota terhambat dan genangannya mulai meluap ke jalan utama. Banjir.

Syukur, saat malam tiba hujan sudah berhenti. Menyisakan rintik air yang jatuh satu persatu dari ujung genteng. Dingin sempurna menggantung di udara, membuat orang-orang serempak merapatkan jaketnya. Menghangatkan diri.
Hai... Bagaimana kabarmu? Semoga kau senantiasa dalam kebahagiaan dan keberkahan. Sudah beberapa waktu kita tak bertukar kabar. Sejauh ini bab baru dalam kehidupanku sudah mulai dimulai. Ingin kubertanya, kalau menjadi jujur artinya buruk, dan berbohong artinya melakukan hal yang baik. Lantas mana yang dapat disebut sebagai kejujuran? Dan mana yang dapat disebut sebagai kebohongan? Apabila jujur adalah sebuah kebaikan, apa melebihi batas artinya itu adalah hal yang baik? Dan berbohong pada diri sendiri sembari menahan hasrat menjadikan hal itu buruk?
Kehidupan yang katanya diatur oleh norma dan nilai budi pekerti yang luhur nampaknya kini hanya menjadi hisapan jempol belaka. Tentu aku mendukung kemajuan dan modernisasi yang terjadi, semua hal itu membantu berbagai macam perkara kita. Mempermudah. Mempercepat. Tapi, apa artinya ‘kemajuan’ dan ‘modernisasi’ itu ikut andil dan turut meruba norma dan nilai budi pekerti tersebut? Kita yang menyebut diri kita bangsa berbudaya, ternyata dengan mudah menyambut nilai-nilai tersebut lantas mengagungkannya. Maka jangan heran, kalau nanti ada yang lain seperti batik dan mulai diakui. Wong, nilai leluhurnya saja tak dijaga.
Mereka yang menyebut diri mereka ‘modern’ sering kali meremehkan nilai kehidupan yang ‘jadoel’ nan udik. Sampai-sampai, modernisasi itu berpengaruh terhadap cara seseorang menyikapi kesalahan mereka. Kalau dulu orang sering kali meminta maaf karena kesalahannya, masyarakat kini lebih sibuk membenarkan diri mereka dengan kata ‘baper’.
Entah sejak kapan ‘bawa perasaan’ ini muncul. Dari tempat antah berantah mana kata itu muncul dan mencuat ke publik. Aku adalah salah satu orang yang terganggu dengan masalah sepele seperti ini. Bagiku, mereka yang sering kali mengucapkan hal seperti itu adalah orang yang enggan untuk mengakui kesalahan dan sering kali mencari pembenaran. Karena yang kuketahui, dalam etnis atau agama apapun, ketika seseorang terlibat dalam sebuah kesalahan maka ‘maaf’ yang seharusnya disampaikan.
Hal serupa pernah terjadi pada diriku, ketika itu teman-teman yang tengah ramai di grup di salah satu social media tengah ramai memperbincangkan rencana mereka setelah lulus. Sampai akhirnya, salah satu orang mulai menyinggung soal institut pendidikan yang kupilih untuk melanjutkan studi. Mereka menyebutnya penuh dengan orang yang menyimpang, ahlul bid’ah, dan lain-lain.
Tentu saja hal itu sangat terganggu, aku tak akan pernah marah kalau mereka membicarakan diriku pribadi. Tapi aku tak pernah mereka menyinggung hal-hal yang seharusnya tak perlu disangkut-pautkan dengan diriku. Akhirnya perdebatan dimulai, dan kata terkutuk itu akhirnya keluar. Di mata mereka aku lah yang bersalah, karena ‘bawa perasaan’ pada candaan mereka. Tanpa mereka sadari, mereka pun akan naik pitam ketika tempat kita belajar dulu dihina.

Tapi syukur, aku memaafkan hal itu, bukan karena aku orang baik. Ini hanya salah satu caraku untuk ‘mengkaji rasa’. Semoga ketika aku melakukan kesalahan seperti itu, lawan bicaraku senantiasa memberi maaf dengan lapang dada. Hal tersebut adalah salah satu nilai budi pekerti yang hilang. Rendah hati. Semoga kau dan aku senantiasa hidup dengan norma dan budi pekerti yang kata mereka ‘jadoel’ nan udik, tapi baik.

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.