Skip to main content

Pembohong yang Baik, Orang Jujur yang Buruk

Seberapa penting kejujuran di kehidupan? Sekedar kata tak bermakna? Nilai teguh dalam kehidupan? Atau, sebuah relativitas yang tergantung pada suatu kondisi? Dewasa kini, sering kali kubertanya pada diri arti sebuah kejujuran. Dalam kehidupan sosial khas masyarakat modern, kehidupan jujur berarti tidak ‘munafik’. Yang mana artinya tidak perlu berpura-pura baik, cukup jadi diri sendiri. Kalau kau suka berjudi, silahkan berjudi. Kalau kau suka dengan arak, maka nikmati setiap teguknya. Kalau kau suka dengan gegap gempita ruangan yang diisi dengan musik yang menghentak sambil berjoget maka lakukanlah.

Konteks jujur saat ini, jadi tidak hanya terpaku pada norma dan moralitas semata. Tapi sekaligus soal bagaimana kau hidup. Apa kau hidup dengan kepura-puraan menjadi baik, atau jujur dengan melewati batas. Menjadi tolak ukur apa kau seorang ‘munafik’ atau bukan. Pada akhirnya hal tersebut membuat orang-orang perlu merombak kembali nilai baik dan buruk. Membuat standarnya masing-masing.
Kita sebut saja, orang-orang yang sering pergi ke masjid, hadir di setiap pengajian mingguan atau bulanan, dan tidak tidur ketika khutbah shalat jum’at adalah seorang ‘pembohong’ yang baik. Mengapa demikian? Karena mereka memilih menipu hasrat duniawi mereka, mereka memilih untuk memperbaiki diri dengan menyandarkan diri kepada sebuah suratan Tuhan yang tak terbantahkan. Mereka menutupi semua kesulitan dan beban hidup dengan meletakkan kepala mereka serendah tanah. Memaku telinga mereka pada janji-janji Tuhan. Mereka adalah ‘pembohong’ yang menipu kehidupan dengan keteguhan untuk berdiri tegap. Menatap tajam pada kepalsuan dunia yang fana. Mereka yakin, dengan menipu nafsu akan menjadikan mereka pribadi yang baik. Yang tidak hanya dirasa oleh diri sendiri tapi juga output yang dirasakan oleh orang lain.
Yang satu lagi, mereka jujur terhadap dunia. Jujur terhadap diri sendiri, jujur kepada hasrat duniawi yang menggebu. Mereka suka dengan gegap gempita ruangan yang minim pencahayaan sambil diisi dengan musik yang menghentak. Berjoget ria sambil memegang botol bahkan dengan wanita berpakaian minim. Tak masalah, setidaknya mereka jujur pada kefanaan yang mereka nikmati. Jangan hardik mereka, bahkan jangan hardik setan yang menggoda mereka hingga akhirnya tergelincir dan berakhir di dalam kenikmatan sesaat sedemikian rupa. Sudah tugasnya setan untuk menggoda cucu nabi Adam a.s. Kalau mereka tidak melakukannya berarti mereka ingkar kepada tuhan, toh?
Lantas yang benar gimana? Yah mudah, jujur kepada diri sendiri bahwa kita memang membutuhkan sandaran yang diberikan tuhan. Kita membutuhkan kalimat thayyibah setiap harinya membasahi lisan. Kita memerlukan setiap ayat al-Qur’an untuk meneguhkan diri sendiri. Bukan hanya menjadikannya sebagai tempat penenang, tapi menjadi nilai yang kita pegang pada kehidupan setiap harinya, setiap jamnya, setiap menit, bahkan setiap detik. Menjadikan istighfar yang kita ucap bukan karena marah terhadap kebatilan semata, lantas mesti didasari perasaan mawas diri kalau kita hanyalah hamba yang lemah. Yang sewaktu-waktu dapat tergelincir. Dan karenya kita beristghfar dan memohon perlindungan-Nya. Lagi pula, perasaan lemah diri di hadapan Tuhan tidak menjadikan seseorang hina.
Akal tak akan pernah sampai pada sebuah ketetapan yang ghaib. Hanya hati yang lapang dan teguh yang dapat bertahan. Bukankah hamparan hati itu tak ada batasnya?


“…tangga menuju langit adalah kepalamu…
maka letakkanlah kepalamu di bawah telapak kakimu…”


                                                            ~Jalaluddin Rumi.

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.