Skip to main content

Nafas

Udara masih terlalu dingin untuk keluar bertelanjang dada. Pun, embun pagi masih membasahi rumbut di halaman. Akan terasa menyegarkan menginjaknya dengan bertelanjang kaki. Tanpa alas. Tanpa dosa. Bukan kah manusia makhluk yang terlalu banyak meminta dan cenderung egois? Tak ingin dirinya terinjak, tetapi berani menginjak hak makhluk lain. Warna jingga masih sangat indah untuk dilihat. Cantik.
Kopi khas daerah Palembang yang baru kubuka menemani dengan hangatnya. Rasa asam yang sedikit menghiasi lidah menjadi daya tariknya sendiri. Seekor kucing manis yang masih duduk terdiam di jendela. Seakan ikut menikmati salah satu pagi sejuk nan indah, yang masih diberikan oleh Sang Kuasa.
Sejak semalam ku terjaga. Mempertahankan kelopak mata agar tidak tertutup. Tapi untuk kali ini, tidak kulewati malam sepi sendirian. Terima kasih kawan. Sudah mau menyempatkan waktumu untuk mengunjungi tempat kecil ini. Kau tahu? Ku bersihkan seluruh tempatku untuk kedatanganmu. Bak seorang raja yang datang dengan para ajudan nya. Ku coba untuk mempersiapkan segala yang kubisa. Makanan yang tersisa pun tak ragu kusuguhkan padamu. Memang tidak banyak, tapi semoga kau menyukainya.
Matahari masih malu untuk menunjukan dirinya. Memberi cahayanya yang hangat untuk hati yang terlalu gelap dan dingin membeku. Sebelum mata ini benar-benar lelah. Biarkan aku, kawanmu ini menghabiskan waktu untuk saling berbincang. Bertukar cerita, duka, dan suka. Aku tahu, waktumu tidak lah lama untuk ada di sini. Setidaknya, ceritakan semua kisah menginspirasimu itu padaku. Yahh, pada diri seorang pemuda yang masih bingung mencari jalannya.
Sebelum kau pergi. Sebelum kita berpisah. Sebelum kau memperjuangkan yang memang harus kau perjuangkan. Sebelum aku benar-benar bisa memilih yang harus ku pilih. Sebelum benar-benar aku faham akan arti kesendirian. Sebelum aku faham apa yang sebenarnya kita lakukan ini sebuah kesalahan atau kebenaran. Sebelum aku benar-benar mengerti apa arti resiko dari pilihan yang kelak ku ambil, tanpa harus bertanya padamu.
Caramu berbicara ketika kopi masih berada di tengah di antara kita adalah momen terbaik yang selalu ku rindukan. Harus ku akui, dan kau pun tidak boleh menolaknya. Ku kagumi dirimu dengan segala keteguhan hati yang kau miliki. Dengan keleluasan akal yang mampu berfikir dengan tenang.
Sebuah cerita lama di mana kita dihadapkan dengan suatu masalah yang sama, yang seharusnya memang kita bersama menanggungnya, tetapi dengan ego-mu pun kau hadapi sendiri. Bukan hanya nyali semata, tapi kau memiliki sebuah pemikiran matang untuk menyelesaikannya. Membuat sebuah celah kecil yang bahkan, untuk bernafas pun sulit, menjadi sebuah lubang besar yang semua orang mampu keluar.

Bagiku, sebuah pagi indah tidak lah sulit. Pagi yang dimana aku mampu menikmati segelas kopi pun sudah cukup. Tapi ternyata tidak bagimu. Kau tersenyum simpul sambil menikmati kopi hangat yang kubuat tadi. Menurutmu, nafas yang masih bisa dihembuskan untuk kembali bersujud di atas tanah. Yahh, untuk kembali menikmati pagi yang indah dengan segelas kopi hangat.

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.