Untuk pertama kali. Aku takut untuk terlelap, bukan karena hal
besar atau masalah yang terlalu dipikirkan, hanya kekhawatiran karena seekor
kucing yang akan menumpahkan pasir tempatnya buang air tumpah berantakan. Memberikan
daftar kerja untuk awal hari yang sangat tidak nyaman. Nyaman? Bukankah hal
seperti itu masih lah hal mudah. Bukan kah masih banyak orang yang rela
menyelami lumpur hanya untuk makan? Mengotori dirinya dengan pandangan
orang-orang agar keluarganya dapat tersenyum ketika pulang? Membiarkan dirinya
dihina dan dicaci agar orang-orang yang menunggunya di rumah bisa memujinya.
Berterima kasih
Hal kecil seperti itu yang mampu membuat orang lain berbuat besar,
bahkan melewati batas kemampuannya. Bukan untuk kebangaan jiwa, tapi untuk
kepuasaan hati. Yahh, semua orang pernah mendapatkan terima kasih. Bahkan seorang
pencuri pun berhak mendapatkannya. Mereka berhak karena mengajarkan kita apa
arti dari kebaikan. Kesabaran. Dan perjuangan.
Malam semakin larut. Satu hari lainnya di mana malam tidak
menunjukan titik cahaya indahnya. Langit dengan tega menutup salah satu
alasanku untuk berlama-lama di luar. Menghibur diri. Sejak tadi seekor kucing
melompat kesana kemari. Bermain dengan gantungan kunci berbentuk ikan. Bahkan sesekali
dia mundur. Takut? Entah lah, mungkin dia hanya sedang mencari perhatianku. Beraharap
ikut dalam permainannya.
Kau tahu? Setiap kucing ini tinggal bermalam di dalam kamar
kecilku, dia akan membangunkanku. Menjilati wajahku. Entah karena dia lapar
atau memang ingin mengajakku bermain. Setiap hari dia akan membangunkanku,
hanya karena untuk satu alasan yang menurutku sering berpikir bahwa dia adalah
makhluk pengganggu. Bagaimana tidak? Walau pun aku meninggalkan tempat
makanannya terisi, dia tetap akan membangunkanku. Menjilati wajah dengan lidah
kasarnya. Dan pada akhirnya, dia akan berhenti ketika di antar ke tempat
makannya.
Tepat ketika malam hampir habis. Menyisakan seperempat malam. Waktu
di mana ketika kau bisa berdoa sesukamu. Tanpa harus khawatir apa itu akan
terkabul atau tidak. Bukan karena tak mendengarnya. Hanya mungkin karena kita
masih belum pantas untuk mendapatkannya. Untuk diberikan-Nya jawaban. Sebenernya
adzan berkumandang tepat jam 3 pagi setiap harinya. Sebuah perumahan islami. Bahkan
untuk melaksanakan sunnah pun mereka tidak segan untuk mengumandangkan adzan. Saat
pertama kali tinggal, aku sempat terheran, untuk apa adzan selarut ini? Apa mereka
benar-benar ingin membangunkan warga sekitar untuk mengajak mereka kembali
bersujud kepadan-Nya? Atau karena sang marbot salah melihat jam?
Tetapi lama-kelamaan aku terbiasa. Bukan terbiasa untuk terbangun
di waktu sepertiga malam, tapi terbiasa mendengar adzan pada malam di mana
semua orang terlelap, dan aku adalah salah satu orang yang terlelap itu. Bahkan,
aku sama sekali tidak mengindahkannya.
Dulu, setiap hari aku bangun di waktu itu. Yahh dulu, sewaktu dunia
yang kulihat masih lah kecil. Tapi, biar pun kecil, menghabiskan waktu pagi di
sana sangat lah indah. Bagaimana tidak? Dari tempat itu, kau bisa melihat
keindahan gunung Salak yang puncaknya tertutup kabut tebal. Dari sana, akan
timbul mentari yang malu-malu untuk
muncul. Membiaskan cahaya oranye ke langit.
Hahh, sudah kubilang bukan? Mengingat masa lalu akan selalu indah,
dan terkadang membuatku merinding sendirian. Ku akui, aku bukan lah salah
seorang yang baik di waktu dulu. Sering melanggar nasihat guru dan
peraturannya. Tapi setidaknya, aku telah meminta maaf kepada mereka. Memohon ikhlas
atas ilmu yang pernah mereka berikan.
Tapi hanya satu yang terlewat. Jangankan untuk meminta maaf, untuk
berterima kasih pun aku belum sempat. Dan asal kalian tau, dia adalah salah
satu alasanku untuk bertahan selama enam tahun di sana. Membuang semua
masa-masa indah sekolah dengan kisah klasik khas santri. Dia menjadi salah satu
alasanku hingga saat akhirnya berhasil bertahan hingga mereka benar-benar
melepaskanku. Dan kuharap kau tahu itu. Tahu semua alasanku, ceritaku, keluhku,
senangku.
Semuanya…
Karena kau berhak. Karena kau adalah salah satu dari banyaknya
alasan yang membuatku berhasil menunjukan jalan yang ingin kutapaki. Terakhir kali
kita bertemu adalah pada malam itu. Aku lupa ada acara apa yang membuatmu
tertahan hingga larut malam, tetapi, untuk kali pertamanya kau ingin menginap
di kantor kecil kami. Hei, bukankah kau akan pulang walau bintang tak tampak
malam itu, bahkan ketika hujan mengguyur? Bodohnya kami saat itu, kami tidak
tahu bahkwa itu adalah kali pertama dan terakhir kau akan menginap. Dan bagiku,
itu adalah pertemuan terakhir kita. Dan ini adalah salah satu penyesalanku. Pada
malam itu wajahmu begitu pucat, bibirmu pun putih. Sebelum akhirnya aku pergi,
kau memberikan pesan terakhirmu. Setidaknya itu benar-benar pesan terakhirmu
untukku pribadi.
Memberikan arahan untuk tidak merubah gaya tulisanku, karena itu
adalah jiwa yang diberikan seorang penulis. Sebelum aku benar-benar berlalu,
ingin kutanyakan kabarmu, ingin kupijat tubuhmu yang sudah tak muda lagi. Setidaknya,
biarkan aku memberikan sedikit baktimu.
Dan kau tahu? Saat kau pergi, untuk kali pertama aku membenci waktu
liburan. Untuk kali pertama aku berharap untuk berlama-lama di sana. Setidaknya
saat kau pergi, kami bisa mengiringimu. Kami? Yahh kami, muridmu yang bahkan
belum sempat kau ajar dengan buku karanganmu sendiri. Muridmu yang sampai saat
ini bisa mendengar ceritamu saat mengajar.
Ya ampun, bahkan saat ini aku benar-benar membenci diriku. Membenci
diriku yang belum bisa menuntaskan janjiku padamu. Entahlah, apa kau
benar-benar menganggapnya serius atau hanya guyonan. Satu hal yang pasti. Ku aminkan
perkataanmu itu. Sehingga aku benar-benar bisa menjadi seperti apa yang kau katakan
di depan mereka.
Guru, untuk malam ini, bisakah kau hadir, setidaknya dalam mimpiku.
Mengusap kepalaku. Memberikan nasihatmu lagi. Maafkan aku, tanda tanganmu yang
kusimpan hilang. Dan tak ada lagi barang berharga yang bisa membuatku terus
mengingatmu. Mengingat semua nasihatmu.
Aku rindu. Biarkan mala mini aku mengenangmu. Bersama dengan
nasihat-nasihat yang selalu kau sampaikan. Doakan kami, agar kami mampu menjadi
sosok manusia yang berguna. Tidak menjadi seonggok daging hidup yang memberikan
beban
Salam hormat untukmu, untuk jasamu.
Maafkan kami yang bahkan belum bisa menaburkan bunga untukmu. Semoga
doa kami bisa menjadi bunga yang indah untukmu.
Untukmu, hormat kami kucurahkan.
In memoriam. Ustadz H. Masykur
Rahiem

Comments
Post a Comment