Satu hari lainnya yang mulai berlalu. Matahari yang pada siang tadi
menempati tahta tertinggi di langit nusantara perlahan turun hingga akhirnya
tenggelam. Membiarkan sang rembulan, yang malam ini pun masih tidak bulat
sempurna muncul untuk menggantikannya. Mempercayakan sedikit cahayanya untuk
kita. Bukan untuk menyinari, tapi untuk memikat seseorang yang tengah sendu
bahwa masih ada keindahan yang dilewatkan dibanding dengan kisah percintaan
yang penuh dengan drama. Menenangkan seseorang yang gundah karena masalah yang
belum selesai hari ini. Menyenangkan hati yang tersakiti karena dilupakan
karena memang dirinya yang lupa pada yang Maha membolak-balikan hati. Dan menyelamatkan
iman kita yang lupa akan nikmat-Nya.
Datangnya malam bukan lah hal yang menakutkan apalagi mencekam. Tak
hanya rembulan yang ada di sana, masih banyak bintang gemintang bertumpah ruah.
Menghiasi gelapnya langit dengan titik-titik cahaya. Cantik. Luar biasa.
Mengesankan. Semua kata-kata itu bahkan masih belum cukup untuk menggambarkan
keindahan yang setiap harinya kita nikmati. Dimana hari yang penat, diisi
dengan tawa bersama keluarga. Haaah... keluarga. Akan selalu menjadi tempat
berpulang paling nyaman yang pernah ada. Tidak akan pernah tergantikan.
Siang tadi, sempat ku mengumpulkan beberapa kayu kering. Hariku
memang tidak sepenat kalian. Bahkan pagiku hanya kuisi dengan mentatap hari
yang terang dari sisa gelapnya malam. Kulanjutkan dengan merapihkan kasur
tempatku tidur. Hingga saat ini, di mana malam kembali menyelimuti hari. Kayu
yang kutemukan siang tadi kutumpuk rapih dengan dedaunan kering di dalamnya.
Lalu kubakar.
Tidak, ini bukan acara camp atau jambore. Hanya api unggun
kecil yang ingin kunikmati di luar ruangan. Tidak banyak orang juga, bahkan
bisa kubilang bahwa aku sendiri. Seekor kucing mendekat, sempat menatapku sejenak
lalu pergi. Berlalu. Hei, bahkan seekor kucing pun tak ingin menemaniku.
Menikmati malam yang dingin ini dengan kayu bakar yang menghangatkan.
Tidak ada alasan khusus bagiku untuk menikmati malam di luar. Hanya
keisengan belaka. Mungkin karena aku masih penasaran dengan cara ampuh untuk
mengalahkan kesendirian. Bukankah seorang Rasulullah pun mampu menjadi seorang
yang paling berhasil mengubah dan menyebarkan ajaran-Nya hanya dalam waktu
kurang lebih enam puluh tahun diawali dengan menghabiskan waktu dalam
kesendirian. Mengasingkan diri hingga Tuhan mengutus malaikatnya untuk turun
menemuinya. Memberikan hadiah terindah, sekaligus menjadi amanah.
Sedikit demi sedikit. Api mulai membakar ranting-ranting kecil,
membakarnya perlahan dan akhirnya membungkus seluruhnya. Seorang ibu-ibu
tetangga lewat, menegurku, bertanya sedang apa, kujawab enteng, ‘melawan
kesendirian’, tersenyum kemudian berlalu. Tidak lama juga dia akan kembali,
palingan dia hanya ingin ke warung untuk membeli sesuatu.
Api semakin besar, menghangatkan. Mengalahkan dinginnya malam. Sama
seperti hati ini. Yang perlahan mulai merekahkan rasa sakit yang dulu sudah
kututup rapat. Mungkin lebih tepatnya yang kukubur paksa.
Kawan, apa kau ingat? Kau pernah bilang kalau api tidak selalu harus
dipadamkan oleh air. Sempat kubertanya, lalu dengan apa? Tanah? Kau hanya
tersenyum. Yahh senyum itu yang akan selalu kurindukan ketika kau mulai
mengejar hal yang memang harus kau dapatkan.
“Itu adalah sebuah siasat untuk mengerti perasaan orang lain.
Bukankah kau pernah bilang, ada tiga hal yang apabila kita berhasil mengkajinya
kita dapat hidup dengan tenang? Kaji ilmu, kaji diri, kaji rasa? Bukan kah tiga
hal itu yang selalu membuatmu untuk tidak menatap mereka yang terduduk lemas di
jalanan dengan tatapan kasihan? Seharusnya analogi mudah ini pun bisa kau
mengerti”.
“Aku memang mengerti, sangat mengerti apa yang kau maksud.
Tetapi logika yang kumiliki tidak lah seluas milikmu”. Belaku dalam hati. Kau
menyeruput kopi yang tidak lama baru kubuat tadi sebelum memberikan penjelasan.
“Kau tahu? Bagaimana api yang disiram air ketika menyala? Dia akan
menimbulkan suara dan meninggalkan asap tebal yang langsung menyeruak. Anggap
lah api ini sebagai emosi seseorang. Terkadang, bahkan sering kali, kita
mengaggap orang yang sedang emosi adalah api dan kita mencoba untuk
memadamkannya dengan air, yang bahkan sering kali justru kita sengaja
menumpahkan minyak agar api itu lebih besar yang pada akhirnya akan melukai
diri kita sendiri. Tapi apa kau sadar? Hal itu hanya akan membuat asap yang
timbul menyeruak dan akhirnya meninggalkan luka. Emosi yang ada pada diri kita
itu khalayak api. Tidak harus oleh air untuk memadamkan api. Bahkan
membiarkannya membakar habis seluruh kayu yang ada pun bukan lah hal salah.
“Kau tahu? Benar dan salah ada bagai dua hal dalam satu koin. Sama
tapi saling bertolak belakang. Akan selalu ada yang dirugikan. Membiarkan sang
api membakar seluruh kayu maksudnya membiarkan emosi kita untuk mengeluarkan
seluruh amarah yang ada hingga sang api itu mengecil dan sadar bahwa dia sudah
membakar dirinya sendiri. Hingga yang tersisa hanya asap kecil yang bahkan dia
tidak mencari tempat untuk terbang melainkan hanya mencari tempat untuk pergi
“Cara yang mudah bukan? Bahkan kita tak perlu repot-repot untuk
mengguyurnya. Membabat habis seluruh emosi dan menyisakan asap yang mengepul
yang bahkan kita tidak tahu kemana asap itu akan pergi. Yang pasti, asap itu
akan selalu mencari tempat yang tinggi, terbang dengan angkuhnya sebelum
akhirnya benar-benar menghilang.”
Kau kembali menyeruput kopi hangat itu. Yahh kau benar, terkadang
membiarkan sang api membakar seluruh kayu itu tidaklah buruk. Karena baik atau
buruk itu seperti koin dua sisi. Sama tapi saling bertolak belakang.

Comments
Post a Comment