Skip to main content

Api Tidak Harus Dipadamkan Oleh Air

Satu hari lainnya yang mulai berlalu. Matahari yang pada siang tadi menempati tahta tertinggi di langit nusantara perlahan turun hingga akhirnya tenggelam. Membiarkan sang rembulan, yang malam ini pun masih tidak bulat sempurna muncul untuk menggantikannya. Mempercayakan sedikit cahayanya untuk kita. Bukan untuk menyinari, tapi untuk memikat seseorang yang tengah sendu bahwa masih ada keindahan yang dilewatkan dibanding dengan kisah percintaan yang penuh dengan drama. Menenangkan seseorang yang gundah karena masalah yang belum selesai hari ini. Menyenangkan hati yang tersakiti karena dilupakan karena memang dirinya yang lupa pada yang Maha membolak-balikan hati. Dan menyelamatkan iman kita yang lupa akan nikmat-Nya.


Datangnya malam bukan lah hal yang menakutkan apalagi mencekam. Tak hanya rembulan yang ada di sana, masih banyak bintang gemintang bertumpah ruah. Menghiasi gelapnya langit dengan titik-titik cahaya. Cantik. Luar biasa. Mengesankan. Semua kata-kata itu bahkan masih belum cukup untuk menggambarkan keindahan yang setiap harinya kita nikmati. Dimana hari yang penat, diisi dengan tawa bersama keluarga. Haaah... keluarga. Akan selalu menjadi tempat berpulang paling nyaman yang pernah ada. Tidak akan pernah tergantikan.
Siang tadi, sempat ku mengumpulkan beberapa kayu kering. Hariku memang tidak sepenat kalian. Bahkan pagiku hanya kuisi dengan mentatap hari yang terang dari sisa gelapnya malam. Kulanjutkan dengan merapihkan kasur tempatku tidur. Hingga saat ini, di mana malam kembali menyelimuti hari. Kayu yang kutemukan siang tadi kutumpuk rapih dengan dedaunan kering di dalamnya. Lalu kubakar.
Tidak, ini bukan acara camp atau jambore. Hanya api unggun kecil yang ingin kunikmati di luar ruangan. Tidak banyak orang juga, bahkan bisa kubilang bahwa aku sendiri. Seekor kucing mendekat, sempat menatapku sejenak lalu pergi. Berlalu. Hei, bahkan seekor kucing pun tak ingin menemaniku. Menikmati malam yang dingin ini dengan kayu bakar yang menghangatkan.
Tidak ada alasan khusus bagiku untuk menikmati malam di luar. Hanya keisengan belaka. Mungkin karena aku masih penasaran dengan cara ampuh untuk mengalahkan kesendirian. Bukankah seorang Rasulullah pun mampu menjadi seorang yang paling berhasil mengubah dan menyebarkan ajaran-Nya hanya dalam waktu kurang lebih enam puluh tahun diawali dengan menghabiskan waktu dalam kesendirian. Mengasingkan diri hingga Tuhan mengutus malaikatnya untuk turun menemuinya. Memberikan hadiah terindah, sekaligus menjadi amanah.
Sedikit demi sedikit. Api mulai membakar ranting-ranting kecil, membakarnya perlahan dan akhirnya membungkus seluruhnya. Seorang ibu-ibu tetangga lewat, menegurku, bertanya sedang apa, kujawab enteng, ‘melawan kesendirian’, tersenyum kemudian berlalu. Tidak lama juga dia akan kembali, palingan dia hanya ingin ke warung untuk membeli sesuatu.
Api semakin besar, menghangatkan. Mengalahkan dinginnya malam. Sama seperti hati ini. Yang perlahan mulai merekahkan rasa sakit yang dulu sudah kututup rapat. Mungkin lebih tepatnya yang kukubur paksa.
Kawan, apa kau ingat? Kau pernah bilang kalau api tidak selalu harus dipadamkan oleh air. Sempat kubertanya, lalu dengan apa? Tanah? Kau hanya tersenyum. Yahh senyum itu yang akan selalu kurindukan ketika kau mulai mengejar hal yang memang harus kau dapatkan.
“Itu adalah sebuah siasat untuk mengerti perasaan orang lain. Bukankah kau pernah bilang, ada tiga hal yang apabila kita berhasil mengkajinya kita dapat hidup dengan tenang? Kaji ilmu, kaji diri, kaji rasa? Bukan kah tiga hal itu yang selalu membuatmu untuk tidak menatap mereka yang terduduk lemas di jalanan dengan tatapan kasihan? Seharusnya analogi mudah ini pun bisa kau mengerti”.
“Aku memang mengerti, sangat mengerti apa yang kau maksud. Tetapi logika yang kumiliki tidak lah seluas milikmu”. Belaku dalam hati. Kau menyeruput kopi yang tidak lama baru kubuat tadi sebelum memberikan penjelasan.
“Kau tahu? Bagaimana api yang disiram air ketika menyala? Dia akan menimbulkan suara dan meninggalkan asap tebal yang langsung menyeruak. Anggap lah api ini sebagai emosi seseorang. Terkadang, bahkan sering kali, kita mengaggap orang yang sedang emosi adalah api dan kita mencoba untuk memadamkannya dengan air, yang bahkan sering kali justru kita sengaja menumpahkan minyak agar api itu lebih besar yang pada akhirnya akan melukai diri kita sendiri. Tapi apa kau sadar? Hal itu hanya akan membuat asap yang timbul menyeruak dan akhirnya meninggalkan luka. Emosi yang ada pada diri kita itu khalayak api. Tidak harus oleh air untuk memadamkan api. Bahkan membiarkannya membakar habis seluruh kayu yang ada pun bukan lah hal salah.
“Kau tahu? Benar dan salah ada bagai dua hal dalam satu koin. Sama tapi saling bertolak belakang. Akan selalu ada yang dirugikan. Membiarkan sang api membakar seluruh kayu maksudnya membiarkan emosi kita untuk mengeluarkan seluruh amarah yang ada hingga sang api itu mengecil dan sadar bahwa dia sudah membakar dirinya sendiri. Hingga yang tersisa hanya asap kecil yang bahkan dia tidak mencari tempat untuk terbang melainkan hanya mencari tempat untuk pergi
“Cara yang mudah bukan? Bahkan kita tak perlu repot-repot untuk mengguyurnya. Membabat habis seluruh emosi dan menyisakan asap yang mengepul yang bahkan kita tidak tahu kemana asap itu akan pergi. Yang pasti, asap itu akan selalu mencari tempat yang tinggi, terbang dengan angkuhnya sebelum akhirnya benar-benar menghilang.”

Kau kembali menyeruput kopi hangat itu. Yahh kau benar, terkadang membiarkan sang api membakar seluruh kayu itu tidaklah buruk. Karena baik atau buruk itu seperti koin dua sisi. Sama tapi saling bertolak belakang.  

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.