Skip to main content

Biarkan Aku Merindukanmu


Dingin. Malam ini cukup dingin, walau pun hanya berdiam di dalam kamar. Merengkuk dalam selimut. Mencari sebuah kehangatan tubuh. Tapi tidak untuk hati. Baru saja ku buat kopi hitam untuk menemani. Bintang kali ini pun tidak muncul, masih tertutupi oleh awan mendung yang siap kembali mengguyur tanah pertiwi. Membuat anak-anak yang ingin bermain terpaksa harus mengurungkan niatnya. Bukan, bukan karena mereka tak ingin bermain air dalam lubang di jalanan, hanya karena orang tua mereka yang melarang. Sudah malam, khawatir esok hujan akan kembali turun. Membuat baju yang dijemur tak bisa kering.

Seekor kucing masih berdiam di depan kamarku. Nampaknya dia enggan untuk pergi. Sesekali mengeong. Entah lah, sepertinya dia memanggil temannya, atau memang memanggilku untuk membukakan pintu untuknya. Ahh aku tidak peduli. Suasana seperti ini cukup membuatku enggan untuk beranjak dari kasur.
Asap kopi masih tebal mengepul di atasnya. Cukup menggoda bukan? Setidaknya senyum mu masih lebih baik. Kau tahu? Untuk malam ini, biarkan aku mengeluarkan semua rindu yang selalu kupendam. Sebuah kekaguman yang bahkan tak pernah kau kira.
Tidak, kisah ku tidaklah seindah kisah mereka. Tapi senyum mu yang membuatku bisa memulai hariku dengan sebuah harapan. Malam yang sepi yang selalu membuatku terus terjaga. Ucapan selamat malam darimu membuatku mampu terlelap dengan tenang. Hari yang penat kujalani selalu membuatku terbebani. Ucapan semangat darimu cukup membuatku untuk terus berjalan.
Apa kau tahu? Ada banyak hal kecil yang bagi orang lain begitu berharga. Begitupun untukku. Semua senyum dan tawamu yang selalu membuatku terus berharap bertemu denganmu. Selalu bahagia. Selalu membuatku khawatir. Bagaimana tidak? Aku bahkan bisa terjaga karena kau tidak mengucapkan selamat malam. Pagi akan menjadi sedikit berbeda karena tidak ada salam darimu.
Terima kasih, telah mau menyentuh hati dinginku dengan tangan hangatmu. Terima kasih kau mau memberikanku sepucuk harapan untuk terus berjuang. Membiarkan aku merindukanmu. Memberiku salah satu alasan untuk terus berjalan kedepan. Memberikan senyum indah yang akan selalu kuingat. Menunjukan tawamu yang ringan. Dan membagi airmata mu padaku.
Jangan pernah tanya alasan kenapa aku bisa jatuh hati padamu. Jangan pernah mempertanyakan apa aku benar-benar serius dengan semua perasaan ini. Aku tidak pernah memintamu untuk mempercayaiku. Cukup kau lihat dan nilai sendiri. Begitu pun denganku. Aku tidak akan pernah memintamu untuk suka padaku, apalagi untuk menemaniku.
Kau akan selalu menjadi satu alasanku untuk terus tersenyum. Menjadi alasanku untuk membanggakan orangtuaku. Kau akan selalu menjadi seseorang yang selalu berarti bagiku. Menjadi wanita yang kupercaya untuk menjaga sedikit dari perasaan rindu ini.

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.