Skip to main content

Izinkan Aku Membuatmu Menangis

Malam lengkap sudah dengan gelapnya. Matahari sudah sejak tadi tenggelam. Meninggalkan sang hari. Menutupnya dengan seluit cahaya jingga yang indah menghiasi langit. Membantu orang-orang sedikit melepas penatnya sejenak. Sebelum mereka harus kembali berdesak-desakan di angkutan umum. Udara sore selalu menenangkan di tempatku. Sunyi. Siang tadi. Beberapa warga membersihkan tumbuhan liar yang ada di depan tempat tinggalku. Ingin membantunya. Hanya saja ego ini masih lebih mementingkan diri sendiri. Lebih khawatir dengan nilai ujian yang jelek. Dan menegesampingkan rasa soialisasi yang rasanya untuk saat ini hanya ada pada lidah. Masih belum sampai ke hati.

Adzan maghrib mulai berkumandang. Kembali memenuhi langit yang mulai menggelap dengan lantunan indah. Tenang saja, kali ini yang adzan seorang lansia yang bahkan untuk takbir pun butuh dua kali tarikan nafas. Membuat kita yang mendengarnya merasa miris. Bukan padanya, tapi pada diri sendiri. Tubuh yang sudah tidak muda lagi itu saja masih semangat untuk mengumandangkan adzan dibanding dengan tubuh muda yang berjiwa tua. Entah lah, bahkan aku tidak benar-benar tahu bagaimana jiwa yang tua itu. Atau lebih tepatnya, jiwa yang mati.
Kutinggalkan teras, mengambil gelas yang kubawa tadi. Lalu menutup pintu. Masih ada sajadah yang harus disimpuh. Siang tadi ibu menghubungiku. Menanyakan apakah minggu ini aku bisa pulang. Pulang? Ingin sekali pulang, hanya saja waktu yang masih belum tepat. Rumahku memang tidak jauh. Hanya berbeda kota. Butuh waktu kurang lebih dua jam untuk sampai.
Untuk kesekian kalinya. Selepas shalat tadi, sejenak kududuk termenung. Menatap kosong sajadah. Di umur yang sudah bukan lagi berpikiran kerdil. Di umur yang seharusnya aku bisa mengambil keputusan yang bijak. Aku kembali bersimpuh di atas sajadah. Air mata ini kembali menetes. Untuk kesekian kalinya. Untuk mengingat apa yang telah diberikan oleh mereka. Yahh mereka, seorang wanita keras kepala. Kalimat itu memang terlalu kasar. Bagaimana tidak?
Bagaimana bisa kau terus bangun di mana saat orang-orang masih tertidur. Mengambil air wudhu lalu kembali bersujud. Memohon untuk kebaikan kami. Yang bahkan kau tidak tahu apakah kami mendoakanmu juga. Bagaimana kau bisa tidur nyenyak kalau kau habisi waktumu untuk mengurus kami? Bagaimana bisa kau hidup dengan tenang sedangkan kami selalu membuatmu selalu dalam masalah?
Ayolah, biarkan kami. Biarkan kami ikut dalam sujud malammu. Biarkan kami ikut mebantumu untuk mengurus diri. Biarkan kami untuk mengambil sebuah tanggung jawab. Kumohon. Biarkan kami membuatmu menangis. Hingga akhirnya senyum ikhlas itu datang bersama dengannya. Jangan biarkan airmata itu mengalir, membasahi pipimu yang sudah tidak lagi muda. Jangan kau hapus air mata itu dengan tisumu. Biarkan aku yang menghapusnya. Biarkan aku terluka dan membiarkannya membekas, karenanya itu bisa kubanggakan. Tapi jangan biarkan luka yang pernah kubuat berbekas dan membuat semua orang lain melihatnya. Itu akan benar-benar menghancurkan hatiku.
Ibu. Untuk saat ini dan seterusnya. Kau adalah malaikat yang turun dalam istana kecil kami.
Salam hangat, dari puteramu yang masih belajar akan dirinya sendiri.


Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.