Skip to main content

Untukmu Kawan

Matahari baru saja terbenam, meninggalkan seluit cahaya cantik yang dapat dinikmati dengan tenang. Langit mulai gelap. Sirna sudah cerahnya langit biru. Tapi jangan kau lupa, di gelapnya malam, masih ada bintang yang menggantikan kecantikan alam. Kau pikir untuk apa sang Khaliq menciptakan bintang yang begitu banyak jumlahnya? Kalau menurutku, hanya untuk mengingatkan kita bahwa kita masih diberi nikmat-Nya sampai pada saat ini untuk melihat keindahan ciptaannya.

Kembali aku menenggelamkan diri dengan kesibukan pribadi, yang semoga tidak lupa untuk menyibukan hati dengan mengingat-Nya. Ku seruput sedikit kopi hangat yang baru ku seduh. Kawan, ini kopi yang kubawa dari kampung bapak ku. Kopi khas Jambi. Tidak lah terlalu pahit tapi ada rasa gurih ketika ketika menelennya. seperti hidup kita yang selalu melupakan pahitnya perjuangan dan selalu mendambangkan manisnya hasil.
Hari kamis lalu, kita bersama ke tempat kita ditempa menjadi sosok sekarang ini. Tempat itu sudah banyak berubah bukan? Gedung-gedung mulai berdiri dengan kokoh di atas tanah, danau kecil dengan beberapa saung kecil yang nyaman nampaknya bila kita duduk di sana sambil mengenang masa itu.
Tapi bukan tempat itu yang ingin aku bicarakan, hanya saja orang yang kita temui di tempat itu. Seorang kawan yang memang cukup lama tidak bertemu. Sempat mengumpat hati ini dan berfikir kalau dirinya masih lah sama dengan yang dulu. Dan ternyata hati ini salah. Memang benar, hati ini masih terlalu kotor untuk melihat dunia.
Kau ingat? Dia datang dengan sarung rapih, sebuah songkok hitam yang gagah menghiasi kepalanya, dengan jas berwarna hijau yang terlihat menarik dikenakannya. Sempat kukira, dia hanya telah mengubah tubuhnya yang dulu terlihat sedikit gempal. Tetapi bahkan keseluruhan dirinya.
Di sebuah kamar luas yang tersekat dengan lemari, dia datang menghampiri kita yang tengah berbincang dengan kawan-kawan yang lain. Berharap mampu mendengar cerita menarik selepas perpisahan saat itu. Bicara tentang perpisahan, aku masih mengingat jelas malam itu. Selepas isya masing-masing dari kita berdiri berjejer, memohon kepada seluruh santri atas kesalahan kita. Tidak dapat terbendung air mata pada malam itu. Saling berpelukan, saling mendoakan, saling meminta maaf dan memaafkan.
Dia datang dengan sopan, suaranya pun sudah berubah. Sedikit lebih berat ketika berbicara. Melipat sedikit sarungnya lalu ikut duduk dalam majelis kecil kita, yang bahkan pada saat itu, kita hanya lebih banyak tertawa. Yahh sebelum dia datang dan benar-benar membuatnya menjadi sebuah majelis kecil yang berisi tentang keilmuan yang begitu luasnya.
Kau tahu? Dada yang sempat membusung ke depan dan kepala yang sedikit terangkat saat berjalan ini seakan-akan kehilangan kekuatannya dan mulai tertunduk. Bukan bak padi yang semakin menunduk ketika berisi tetapi lebih seperti bunga putri malu yang mulai merengkut saat disentuh. Begitulah aku pada saat itu sebelum dia mulai berbicara. Bahkan sebelum dia mengambil tempat untuk duduk bersama kita.
Cukup lama kita duduk, dan mendengar ceritanya, yang bagiku, sangat luar biasa. Dia bisa berubah dari sosok yang kita kenal menjadi seseorang yang sangat di luar dugaan. Mungkin bagimu tidak, tapi itu tetap tidak menghilangkan kekagumanku.
Adzan ashar sudah dikumandangkan. Tepat sebelum kita mengakhiri majelis itu, dia sempat meminta maaf. Maaf yang begitu tulus, aku memang tidak mahir dalam membaca hati, tapi itu terlihat jelas dari caranya meminta maaf. Heyyy, bukan kah kita kawannya? Bahkan selepas kita berpisah pun aku tidak pernah bertemu dengannya.
Tapi bukan karena caranya meminta maaf yang membuatku tertegun. Permintaannya yang membuatku berfikir kembali untuk melupakan mereka. Mereka yang sempat mengacuhkan kita dan bahkan tak pernah mendengar suara kita. Sebuah permintaan yang tidak pernah kudengar dari kawan yang lain. Sebuah permintaan yang bahkan aku belum tentu dapat menyanggupinya.
Bagaimana aku tidak pesimis untuk memenuhi permintaannya. Dia meminta untuk membawanya bersama ke surga yang bahkan aku tidak pernah berfikir bahwa aku pantas untuk berada di surganya. Semua orang yang ada di tempat itu pun berfikir siapa yang lebih pantas untuk meminta permintaan semacam itu. Bukan dirinya tetapi AKU. Aku yang masih terlalu banyak dengki, aku yang masih terlalu banyak iri, aku yang lebih banyak berbicara buruk tentangnya di masa lalu.
Kawan, terima kasih telah memberi begitu banyak arti dari sebuah pertemanan sejati. Terima kasih karena kau telah hadir dan mau duduk bersama denganku. Mau menasihatiku, mau menegurku, bahkan terlalu naik apabila aku berterima kasih padamu untuk mengakuiku menjadi kawanmu.

Untukmu kawan, mari berjuang bersama memperbaiki diri untuk memperbaiki negeri ini.

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.