Matahari baru saja terbenam, meninggalkan seluit cahaya cantik yang
dapat dinikmati dengan tenang. Langit mulai gelap. Sirna sudah cerahnya langit
biru. Tapi jangan kau lupa, di gelapnya malam, masih ada bintang yang
menggantikan kecantikan alam. Kau pikir untuk apa sang Khaliq menciptakan
bintang yang begitu banyak jumlahnya? Kalau menurutku, hanya untuk mengingatkan
kita bahwa kita masih diberi nikmat-Nya sampai pada saat ini untuk melihat
keindahan ciptaannya.
Kembali aku menenggelamkan diri dengan kesibukan pribadi, yang
semoga tidak lupa untuk menyibukan hati dengan mengingat-Nya. Ku seruput
sedikit kopi hangat yang baru ku seduh. Kawan, ini kopi yang kubawa dari
kampung bapak ku. Kopi khas Jambi. Tidak lah terlalu pahit tapi ada rasa gurih
ketika ketika menelennya. seperti hidup kita yang selalu melupakan pahitnya
perjuangan dan selalu mendambangkan manisnya hasil.
Hari kamis lalu, kita bersama ke tempat kita ditempa menjadi sosok
sekarang ini. Tempat itu sudah banyak berubah bukan? Gedung-gedung mulai
berdiri dengan kokoh di atas tanah, danau kecil dengan beberapa saung kecil
yang nyaman nampaknya bila kita duduk di sana sambil mengenang masa itu.
Tapi bukan tempat itu yang ingin aku bicarakan, hanya saja orang
yang kita temui di tempat itu. Seorang kawan yang memang cukup lama tidak
bertemu. Sempat mengumpat hati ini dan berfikir kalau dirinya masih lah sama
dengan yang dulu. Dan ternyata hati ini salah. Memang benar, hati ini masih terlalu
kotor untuk melihat dunia.
Kau ingat? Dia datang dengan sarung rapih, sebuah songkok hitam yang
gagah menghiasi kepalanya, dengan jas berwarna hijau yang terlihat menarik
dikenakannya. Sempat kukira, dia hanya telah mengubah tubuhnya yang dulu
terlihat sedikit gempal. Tetapi bahkan keseluruhan dirinya.
Di sebuah kamar luas yang tersekat dengan lemari, dia datang
menghampiri kita yang tengah berbincang dengan kawan-kawan yang lain. Berharap mampu
mendengar cerita menarik selepas perpisahan saat itu. Bicara tentang
perpisahan, aku masih mengingat jelas malam itu. Selepas isya masing-masing
dari kita berdiri berjejer, memohon kepada seluruh santri atas kesalahan kita. Tidak
dapat terbendung air mata pada malam itu. Saling berpelukan, saling mendoakan,
saling meminta maaf dan memaafkan.
Dia datang dengan sopan, suaranya pun sudah berubah. Sedikit lebih
berat ketika berbicara. Melipat sedikit sarungnya lalu ikut duduk dalam majelis
kecil kita, yang bahkan pada saat itu, kita hanya lebih banyak tertawa. Yahh sebelum
dia datang dan benar-benar membuatnya menjadi sebuah majelis kecil yang berisi
tentang keilmuan yang begitu luasnya.
Kau tahu? Dada yang sempat membusung ke depan dan kepala yang
sedikit terangkat saat berjalan ini seakan-akan kehilangan kekuatannya dan
mulai tertunduk. Bukan bak padi yang semakin menunduk ketika berisi tetapi
lebih seperti bunga putri malu yang mulai merengkut saat disentuh. Begitulah aku
pada saat itu sebelum dia mulai berbicara. Bahkan sebelum dia mengambil tempat
untuk duduk bersama kita.
Cukup lama kita duduk, dan mendengar ceritanya, yang bagiku, sangat
luar biasa. Dia bisa berubah dari sosok yang kita kenal menjadi seseorang yang
sangat di luar dugaan. Mungkin bagimu tidak, tapi itu tetap tidak menghilangkan
kekagumanku.
Adzan ashar sudah dikumandangkan. Tepat sebelum kita mengakhiri
majelis itu, dia sempat meminta maaf. Maaf yang begitu tulus, aku memang tidak
mahir dalam membaca hati, tapi itu terlihat jelas dari caranya meminta maaf. Heyyy,
bukan kah kita kawannya? Bahkan selepas kita berpisah pun aku tidak pernah
bertemu dengannya.
Tapi bukan karena caranya meminta maaf yang membuatku tertegun. Permintaannya
yang membuatku berfikir kembali untuk melupakan mereka. Mereka yang sempat
mengacuhkan kita dan bahkan tak pernah mendengar suara kita. Sebuah permintaan
yang tidak pernah kudengar dari kawan yang lain. Sebuah permintaan yang bahkan
aku belum tentu dapat menyanggupinya.
Bagaimana aku tidak pesimis untuk memenuhi permintaannya. Dia meminta
untuk membawanya bersama ke surga yang bahkan aku tidak pernah berfikir bahwa
aku pantas untuk berada di surganya. Semua orang yang ada di tempat itu pun
berfikir siapa yang lebih pantas untuk meminta permintaan semacam itu. Bukan dirinya
tetapi AKU. Aku yang masih terlalu banyak dengki, aku yang masih terlalu banyak
iri, aku yang lebih banyak berbicara buruk tentangnya di masa lalu.
Kawan, terima kasih telah memberi begitu banyak arti dari sebuah
pertemanan sejati. Terima kasih karena kau telah hadir dan mau duduk bersama
denganku. Mau menasihatiku, mau menegurku, bahkan terlalu naik apabila aku
berterima kasih padamu untuk mengakuiku menjadi kawanmu.
Untukmu kawan, mari berjuang bersama memperbaiki diri untuk
memperbaiki negeri ini.

Comments
Post a Comment