Kawan. Tidak
banyak waktu yang sekarang kita miliki untuk saling bertatap wajah. Untuk saling
melontarkan pertanyaan. Untuk kembali duduk dengan segelas kopi hangat yang
mengahi. Untuk kembali mengobrol panjang hingga asap itu hilang. Musnah. Bak keangkuhan.
Apa kau
masih ingat saat kau mnegungkapkan alasanmu untuk terus menghisap rokok itu?
Kau katakan padaku sambil menunjukan rokok. Memegangnya dengan jari telunjuk
dan jari tengah, lalu menghisapnya. Perlahan kau buang asap itu, dan perlahan
asap itu pun menghilang. Lantas kau bertanya, apa aku mengerti dengan apa yang
kau maksud. Tentu saja tidak, lebih tepatnya aku kurang bisa meraba apa yang
kau tunjukan sebenarnya. Apa ketika api itu membakar ujung rokok? Atau ketika
kau menghisapnya kedalam tubuh? Tapi ternyata kau menunjukanku asap itu. Asap
yang tadi kau hisap dalam, lalu membuangnya perlahan, dan menghilang di udara. Pada
saat itu kau mengumpamakannya dengan sifat arogan yang ada diri kita.
“Apa kau
melihat asap itu? Tidak kah kau berpikir asap itu begitu angkuh sehingga dia
yakin bisa terbang tinggi ke langit? Yang akhirya membuatnya lenyap tak
tersisa. Itulah alasanku membakar rokok-rokok ini. Semoga Tuhan berkehndak
untuk membawa keangkuhan yang ada dalam diri ini hingga akhirnya menghilang.”
Untuk sejenak
aku terdiam. Sambil memandang sebatang aku pegang pula. Menghisapnya dalam lalu
kubuang jauh. Kuperhatikan hingga akhirnya hilang di udara. Sembari menunggu
aku yang tengah melihat asap yang perlahan menghilang. Sembari menunggu asap
yang hilang, kau kembali menanyakanku. “Apabila asap adalah umpama bagi
keangkuhan yang akhirnya menghilang, lalu apa yang ada di dalam hati dan memang
tidak ditampakan oleh-Nya, dan selamanya seperti itu?”
Aku hanya
bisa kembali menggeleng tanpa mengucapkan apapun. Kau sempat membenarkan
dudukmu, seraya menanyakanku apa itu ikhlas? Ketulusan yang lebih dari arti
tulus tersebut. Lebih luas lagi. Karena ikhlas tidaklah hanya soal hati tapi
soal prasangka pun. Seperti hidup yang kita jalani kini. Kalau kita ikhlas
dengan apa yang kita miliki sekarang. Tak hanya terima kodratnya tapi kita
berprasangka baik pada yang telah memberikan kehidupan bukan?
Tapi itu
belum menjawab pertanyaan tadi. Apa itu ikhlas? Aku mencoba untuk berpikir,
melihat kesekeliling. Melihat pepohonan yang tumbuh, melihat dedaunan yang
bergoyang, merasakan angin yang berhembus lembut seakan menyapa. Aku menyerah. Membiarkanmu
menjawab.
“Suatu
ketika, seorang murid bertanya kepada gurunya, apa itu ikhlas? Beliau tidak
tahu harus menjawab apa, yang akhirnya beliau bertanya kepada orangtuanya,
orangtuanya bertanya kepada gurunya, dan gurunya pun bertanya gurunya lagi. Dan
itu terus berlanjut hingga sanadnya sampai pada Rasulullah saw. Beliau pun
tidak tahu apa itu ikhlas dan bertanya kepada malaikat Jibril. Bahkan malaikat
Jibril pun tidak tahu menahu tentang apa itu ikhlas. Akhirnya Beliau pun
bertanya kepada Allah, ‘Apa itu ikhlas?’ Allah pun menjawab “Itu adalah rahasia
yang kurahasiakan di dalam hati manusia”
Jawaban yang
indah itu sudah cukup bagiku. Jangankan sebuah rahasia, sebuah jawaban dari-Nya
saja masih sering salah mengartikan, apalagi sebuah rahasia. Bagiku tidak lah
penting apa artinya.
Tanpa terasa
rokok yang kita pegang telah habis. Sang asapun telah pergi dengan meninggalkan
sebuah rahasia dalam hati yang tidak mungkin untuk diungkapkan.

Comments
Post a Comment