Skip to main content

Malam Kelabu

            Haii kawan, apa kabarmu? Apa kabar dengan mimpimu? Apa kabar dengan semangatmu?
           Kau tahu? Saat ini aku sedang kehilangan jalan. Aku kehilangan diriku. Setiap kali aku melihat cermin tak lagi aku temukan diriku. Aku hanya menemuka orang lain yang berwajah mirip tapi berbeda tekad. Berbeda pemikiran. Berbeda perasaan. Mungkin kau hanya akan tertawa dengan melihatku yang saat ini hanya dapat bertanya-tanya padamu.

            Kalimat kesukaanmu ketika aku bertanya atau bahkan bercerita. “Masa kau tidak tahu? Jangan pernah kalah dengan seorang pengangguran”. Aku tidak pernah merasa keberatan atau bahkan bawa perasaan. Ku kau banyak mengugguliku dari banyak hal. Bahkan hingga soal perasaan, pemahaman, dan kecintaan.
            Hingga suatu malam, di mana kau sudah memperhatikan aku yang bahkan belum bertanya padamu dengan ‘apa yang terjadi padaku’ atau bahkan lebih tepat ‘bagaimana aku bisa berubah seperti ini’
            Adzan isya baru saja selesai dikumandangkan. Aku masih ingat, saat itu teman-teman kita baru saja pamit untuk pergi. Pulang. Hanya ada kita berdua. Sembari menikmati waktu yang terus berjalan tanpa peduli bahwa hari mulai semakin gelap. Tapi, ada pengecualian untuk hati ini. Hatiku ini lebih gelap dari malam. Lebih gelap dari hari yang ditinggal mentari tanpa adanya bulan yang menggantikan. Langit malam masih lah indah bila dipandang. Masih ada berjuta bintang yang bisa dinikmati. Tapi hati ini? Jangankan untuk dinikmati, untuk kau pandang pun tak elok rasanya.
            Segelas kopi hitam hangat yang baru saja kau buat menengahi obrolan kita. kau ingat? Kopi yang pernah dibuat olehnya? Iyah, dia yang pernah merasa disakiti oleh mereka, bahkan termasuk aku. Ketika dia merasa kesetiaannya dikhianati oleh orang baru, ketika perjuangannya tidaklah dihargai, ketika kepeduliannya diacuhkan. Yang akhirnya membuat dia memutuskan untuk pergi. Bukan untuk menyerah. Hanya untuk membuktikan apakah kita masih bisa melanjutkan perjuangan serta pengorbanan seperti apa yang telah dia lakukan.
 Kopi itu selalu membuatku teringat akan dirinya. Dirinya yang selalu mencoba memperbaiki keadaan kita dengan sepenuh hati.
 Bicara tentang hati, sebelum hati ini betul-betul menjadi gelap. Sebelum hal yang berharga dari hati ini memudar. Aku pun pernah melakukan suatu hal sepenuh hati. Melakukan hal yang memang diinginkan oleh hati ini. Memanusiakan manusia. Menghatikan hati. Mengakalkan akal.
J L J L
Sebenarnya ini cerita lama. Sekitar 2 tahun yang lalu. Di mana Aku masih berada di sana. Yahh, di tempat yang sebenernya aku malu untuk mengatakannya. Bukan malu karena aku berasal dari sana. Tapi, karena, lebih ketika kalian mengenal diriku dan melihat aku yang sekarang, kalian tidak akan menyangka aku adalah orang yang berasal dari tempat itu.
Waktu yang kuingat adalah, pada saat itu hari selasa. Aku bersekolah di luar kota, dan pada hari itu aku berniat untuk kembali. Pagi menjelang siang. Waktu pun menunjukan pukul 09.00, ayah mengantarkanku menuju stasiun. Aku berencana untuk pergi sendiri. Sesampainya, sebuah kotak berisi kue lapis penuh dan telah dipotong rapih diberikannya padaku. Tanpa basa-basi aku menerimanya. Segera berpamitan dan pergi meninggalkan ayah.
Waktu menunjukan pukul 10.15 sampai pada akhirnya kereta berangkat. Dua jam berlalu. Hingga akhirnya sampai di stasiun tujuan. Waktu menunjukan 13.00, aku memiliki janji dengan seseorang bertemu satu jam dari sekarang. Sempat terbesit dalam benak untuk melakukan sesuatu yang manusiawi.
Mencoba kembali mengingatkan diri sendiri kalau kue yang diberikan ayah masih penuh, dan pesan darinya adalah untuk dihabiskan. Tanpa membuang waktu lagi, aku memutuskan untuk menghabiskan waktu satu jam itu dengan berkeliling. Berkeliling sambil sedikit berbagi kebahagiaan.
Stasiun selalu menjadi tempat yang tepat untuk berbagi kebahagiaan tersebut. Even only two pieces of cake. Orang pertama yang kutemui adalah seorang wanita tua yang tengah duduk di bawah panasnya terik matahari. Hanya dengan sebuah selendang beliau meutupi kepala yang sudah ditumbuhi oleh rambut putih.
Ku coba untuk menghampirinya, menawarkan dua potong kue. Terlihat di matanya keraguan dan kecurigaan yang sempat kutangkap. Segera aku tersenyum dan meyakinkan kalau aku berbagi kue ini bukan untuk suatu instansi atau pun lembaga. Segera, setelah wanita itu mau menerima, kuambilkan dua potong kue dan kubalut dengan sebuah tisu. Berterima kasih karena kebaikannya yang telah mau menerima kue dariku, saling mengucap do’a, dan segera berlalu.
Sampai pada pukul 13.33 kue yang tersisa tinggal setengah kota. Dan seluruh stasiun sudah telusuri. Masih ada waktu kurang lebih setengah jam untuk bertemu. Tempat kubertemu memang lah tidak jauh dari stasiun. Yang akhirnya kuputuskan untuk berjalan menuju tempat pertemuan. Kami bertemu di perkebunan kota. Semacam tempat wisata, hanya saja di dalamnya hanya ada pepohonan rindang dan berbagai macam tumbuhan yang dipelihara dengan baik di sana.
Tidak jauh setelah aku berjalan, seorang anak kecil dengan pakaian yang sedikit lusuh. Tengah makan nasi putih yang ditemani dengan dua buah bakso dan berlebih dengan kuah. Kuputuskan untuk berhenti dan memberikan tiga potong kue. Tanggapannya hampir sama dengan wanita tua yang pertama kali kutawari kue. Dengan segera aku tersenyum dan meyakinkannya kalau kue ini tidaklah berbahay baginya. Setelah dia ingin menerima kue tersebut segera kulapisi tissue. Berterima kasih dan segera berlalu.
Hanya jarak beberapa meter dari tempat anak itu berada. Seorang pria berambut gondorng dan warnanya yang pirang, ditambah dengan perawakan yang nampak garang dan sebuah kaca mata dengan warna lensa yang gelap, yang membuatnya tampak lebih garang lagi. Ia sedang duduk di samping trotoar jalan. Ku sapa dengan senyum dan permisi sambil berlalu. Sempat ngeri rasanya berjalan di dekatnya. Tidaklah jauh aku kembali melangkahkan kaki, kudengar suara langkah kecil tengah berlari, kupalingkan sejenak pandanganku. Ternyata itu adalah anak kecil yang tadi kuberikan kue. Tapi bukan karena hal itu aku memutuskan berhenti. Anak itu memang tidak berlari menuju kearahku, tapi karena alasan anak itu yang tidak berlari menghampirikulah aku berhenti. Bukan kecewa, hanya terkejut dengan orang yang dihampirnya.
Ya, anak itu menghampiri pria tadi. Pria berambut gondorng dengan warna rambut pirang itu lah yang dia tuju. Dengan senyum polosnya dia menunjukan kue itu kepadanya. Aku masih terdiam, khawatir justru karena hal itu membuatnya marah, ini bukan sebuah prasangka, tapi memang karena pria itu tidak lah sama sekali memberikan senyum sedikitpun ketika anak itu memberitahunya. Segera dia melepas kaca matanya lalu seraya berkata, “Kamu sudah berterima kasih belum ke orangnya?”
Suara mereka memang tidak terdengar tapi gerakan mulut ketika mereka bertanya itu yang membuatku dapat mengetahui apa yang mereka bicarakan. Anak itu menjawab “Belum!?”
Pria itu bertanya kembali “Kalau gitu kamu harus terima kasih dulu, atuh”
Aku langsung berbalik dan segera berlalu. “Kak!” Sebuah teriakan menghentikanku. Sebenarnya aku tak ingin berhenti hanya saja, teriakan itu seakan menghentikan pergerakan tubuhku. “Terima kasih, kak”. Kata-kata manis nan indah. Itu bukan lah sebuah terima kasih biasa. Bagiku itu adalah terima kasih termanis yang pernah aku dapatkan. Terima kasih tertulus yang pernah kuterima. Ditambah dengan senyum polosnya dan senyum pria itu. Pernahkah kalian melihat senyum tulus dari seorang pria yang garang? Bahkan sampai saat ini pun aku belum lagi menemukan senyum setulus itu.
Hanya anggukan yang kuberikan. Sambil berlalu, kutengadahkan kepala ini ke langit. Tidak, aku sedang tidak ingin memandang langit. Aku hanya sedang ingin menahan air dari mataku jatuh. Kau tahu? Bagiku itu adalah nikmat yang luar biasa. Mendapatkan terima kasih yang begitu tulus dari seorang anak kecil dan seorang pria garang.
Aku begitu keras dalam menyalahkan diri sendiri. Aku terlalu munafik. Aku terlalu cepat dalam menilai seseorang. Dan aku terlalu bangga dengan apa yang telah kulakukan. Kau bisa menyimaknya sendiri. Jangankan untuk mendapatkan pujian, hanya seuntas terima kasih pun tak sanggup hati ini menerima. Hanya dengan terima kasih diri ini mampu berpikir, bahwa hati yang saat ini ada tidak lah setulus hati anak kecil itu. Bahkan tidak untuk pria garang itupun.
J L J L
Dan di malam ini, kau kembali membuatku teringat akan kisah lama itu. Kau yang kembali yang membuka hati ini. Kau yang kembali membuatku mau untuk menceritakan hal ini.
Di malam ini. Malam yang lebih indah dari hati ini. Malam kelabu.

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.