Kepala
memang tidak bisa selalu mendongkak, menatap langit yang jauh. Indah dengan
warna biru laut yang menjadi dasar. Untuk selalu berpikir, selalu menyamangati
diri bahwa masih ada langit yang masih harus dicapai. Masih ada malam yang akan
mengisi kesunyian. Masih ada hari esok yang harus terus diperjuangkan.
Tapi
tidak seharusnya kita lupa. Masih ada tanah yang kita pijak. Masih ada
rerumputan luas yang masih belum terjamah. Masih ada pepohonan rindang untuk
kita naiki. Masih ada pegunungan tinggi yang belum kita daki. Untuk
menikmati langit. Untuk menikmati alam. Untuk menikmati hidup. Untuk mensyukuri
atas kedua kaki yang diberikan, kedua mata yang diberkahi, kedua telinga yang
melengkapi, kedua tangan yang siap untuk menggapai, lidah yang siap untuk
menuturkan kata, pikiran yang siap untuk menjunjung nurani, hati yang
mempertimbangkan sikap.
Terlalu
banyak berbasa-basi. Kali ini, remaja taggung ini hanya ingin mencurahkan rasa
kesalnya karena selalu saja mengkafirkan nikmatNya. Selalu melihat ke atas, dan
lupa tanah yang dipijak. Lupa tentang manisnya keringat, lupa akan makna dari
perjuangan.
Dewasa
ini, bukan diri semakin untuk terus mengejar, tetapi hanya semakin memaku diri
di suatu tempat dan berharap keajaiban dating sendiri. Bukan untuk membuka
pintu keajaiban itu. Terdiam pada tempat gelap tanpa mencari cahaya. Terjatuh dalam
jurang tanpa tahu harus berdiri. Bangkit kembali, dan kembali melanjutkan
kehidupan yang masih panjang.
Hai
kawan, kopi ini terlalu dingin untuk terus kuseruput sendiri. Entah berapa
gelas yang telah kuhabiskan untuk malam yang sepi ini. Tapi, belum ada segelas
kopi pun yang bisa senikmat dulu untuk aku nikmati. Untuk aku seruput dengan
puas. Melepas penatnya berdiam. Untuk kembali bangun.
Rindu.
Kata yang tepat dengan cerita sejarahmu itu. Cerita tentang pahlawan yang dulu
memperjuangkan negara ini. Cerita tentang ulama dulu yang memperjuangkan
ilmunya untuk kehakikatan hidup. Tapi bukan itu yang kunikmati dari ceritamu. Tentang
perjuangan. Tentang berdiri setelah terjatuh. Mengesampingkan rasa malu. Yahh,
tidak ada yang salah dalam jatuh, tidak ada yang perlu dipikirkan dalam gagal. Tetapi
ketika tekad dan kemauan untuk berdiri lagi itu hilang. Entah siapa yang bisa
membangunkanku lagi.
Memang
dewasa ini, tidak seharusnya aku masih terus bergantung padamu. Pada cerita-ceritamu
yang penuh dengan semangat juang. Cerita yang penuh dengan inspirasi. Cerita yang
penuh dengan empati. Telah lama mati rasanya api juang dalam pikiran ini. Dan
entah telah berapa lama aku tertidur dalam angan dan mimpi. Tanpa mencoba untuk
bangun. Tanpa mencoba untuk bangkit.
Hanya
ampas yang mulai tersisa di gelas. Tetap saja belum kutemukan jawaban dari
pertanyaanku. Dari kegundahanku. Dari kegalaunku. Semua ini bukan karena cerita
cinta anak sekolah zaman kita dulu. Hanya tentang diri yang memang sudah lama
mati bagiku. Entah kemana lagi bagiku untuk mencari cermin. Hati ini sudah
terlalu lama menangis. Tersendu dalam kesendirian.
Kawan,
ku seduh lagi kopi panas ini. Yahh untukmu. Untuk kita. Untuk memulai kembali
hidup masing-masing. Untuk kembali menapaki jalan hidup. Menyusuri takdir. Memperjuangkan
nasib.
Semua
ini hanya soal perjuangan. Soal kegundahan.
Kopi
hitam hangat yang kuseduh untukmu.

Comments
Post a Comment