Skip to main content

Kopi Hitam yang Kuseduh Untukmu

            Kepala memang tidak bisa selalu mendongkak, menatap langit yang jauh. Indah dengan warna biru laut yang menjadi dasar. Untuk selalu berpikir, selalu menyamangati diri bahwa masih ada langit yang masih harus dicapai. Masih ada malam yang akan mengisi kesunyian. Masih ada hari esok yang harus terus diperjuangkan.

            Tapi tidak seharusnya kita lupa. Masih ada tanah yang kita pijak. Masih ada rerumputan luas yang masih belum terjamah. Masih ada pepohonan rindang untuk kita naiki. Masih ada pegunungan tinggi yang belum kita daki. Untuk menikmati langit. Untuk menikmati alam. Untuk menikmati hidup. Untuk mensyukuri atas kedua kaki yang diberikan, kedua mata yang diberkahi, kedua telinga yang melengkapi, kedua tangan yang siap untuk menggapai, lidah yang siap untuk menuturkan kata, pikiran yang siap untuk menjunjung nurani, hati yang mempertimbangkan sikap.
         Terlalu banyak berbasa-basi. Kali ini, remaja taggung ini hanya ingin mencurahkan rasa kesalnya karena selalu saja mengkafirkan nikmatNya. Selalu melihat ke atas, dan lupa tanah yang dipijak. Lupa tentang manisnya keringat, lupa akan makna dari perjuangan.
            Dewasa ini, bukan diri semakin untuk terus mengejar, tetapi hanya semakin memaku diri di suatu tempat dan berharap keajaiban dating sendiri. Bukan untuk membuka pintu keajaiban itu. Terdiam pada tempat gelap tanpa mencari cahaya. Terjatuh dalam jurang tanpa tahu harus berdiri. Bangkit kembali, dan kembali melanjutkan kehidupan yang masih panjang.
           Hai kawan, kopi ini terlalu dingin untuk terus kuseruput sendiri. Entah berapa gelas yang telah kuhabiskan untuk malam yang sepi ini. Tapi, belum ada segelas kopi pun yang bisa senikmat dulu untuk aku nikmati. Untuk aku seruput dengan puas. Melepas penatnya berdiam. Untuk kembali bangun.
       Rindu. Kata yang tepat dengan cerita sejarahmu itu. Cerita tentang pahlawan yang dulu memperjuangkan negara ini. Cerita tentang ulama dulu yang memperjuangkan ilmunya untuk kehakikatan hidup. Tapi bukan itu yang kunikmati dari ceritamu. Tentang perjuangan. Tentang berdiri setelah terjatuh. Mengesampingkan rasa malu. Yahh, tidak ada yang salah dalam jatuh, tidak ada yang perlu dipikirkan dalam gagal. Tetapi ketika tekad dan kemauan untuk berdiri lagi itu hilang. Entah siapa yang bisa membangunkanku lagi.
        Memang dewasa ini, tidak seharusnya aku masih terus bergantung padamu. Pada cerita-ceritamu yang penuh dengan semangat juang. Cerita yang penuh dengan inspirasi. Cerita yang penuh dengan empati. Telah lama mati rasanya api juang dalam pikiran ini. Dan entah telah berapa lama aku tertidur dalam angan dan mimpi. Tanpa mencoba untuk bangun. Tanpa mencoba untuk bangkit.
       Hanya ampas yang mulai tersisa di gelas. Tetap saja belum kutemukan jawaban dari pertanyaanku. Dari kegundahanku. Dari kegalaunku. Semua ini bukan karena cerita cinta anak sekolah zaman kita dulu. Hanya tentang diri yang memang sudah lama mati bagiku. Entah kemana lagi bagiku untuk mencari cermin. Hati ini sudah terlalu lama menangis. Tersendu dalam kesendirian.
            Kawan, ku seduh lagi kopi panas ini. Yahh untukmu. Untuk kita. Untuk memulai kembali hidup masing-masing. Untuk kembali menapaki jalan hidup. Menyusuri takdir. Memperjuangkan nasib.
            Semua ini hanya soal perjuangan. Soal kegundahan.

            Kopi hitam hangat yang kuseduh untukmu.

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.