Skip to main content

Mestinya



Semua orang di Kampung Bojong Keong tahu bahwa kakek tua bernama Kasim itu dulu ada seorang yang sangat puitis di masanya. Ia seorang pujangga besar-di kampungnya-saat itu. Dia patut berterima kasih kepada istrinya Mak Zahra, yang kini sudah hidup tenang di sisi Tuhan. Maksudnya meninggal. Tak tahu kini, apa Kasim masih puitis seperti masa mudanya, atau setidaknya ia masih menulis kecil untuk meluapkan rasanya, karena kini yang kutahu ia hanya meratap tanpa makna. Bagiku sekarang, Kasim tak lebih dari seorang kakek tua yang sering meratap ketika menziarahi makam istrinya itu. Kini, yang paling puitis dalam hidupnya adalah ratapannya itu. Ya, bisa jadi saja.

Kini mungkin aku akan bernasib sama. Sekarang, hingga kelak nanti seperti seorang Kasim. Tapi, nyatanya Kasim lebih beruntung, Dia masih bisa menulis sajak-sajak hingga dirinya dimakan umur. Meski, ia kehilangan itu semua saat sang bara sudah tak lagi membara. Istrinya, Mak Zahra. Kalau aku, ya, begini saja sudah sangatlah lemah. Belum pun ditinggal mati, hanya ditinggal seminggu pergi ke luar kota aku sudah mati rasa. Sukmaku mati untuk meluncurkan bait demi bait. Padahal, aku masih ingat saat patah hati pertama yang aku rasa. Emosi yang meluap, meletup dengan kencangnya berhempus sampai ke ubun-ubun. Dan, kini ia pergi tanpa pamit. Sial, menggerutu juga sepertinya percuma. Kata temanku ; “Penulis yang baik adalah pecinta yang gagal”. Aku menafikkan itu, pada awalnya, karena lagi-lagi seseorang justru akan semakin kokoh larik-larik sajaknya jika sudah menemukan tujuan pusara matinya kelak. Tapi, sepertinya kata-katanya mungkin saja bisa teramini.

Duh, menulis puisi pun rasanya hendak meledak-ledak. Bagaimana bisa aku kembali lagi seperti dahulu, sedangkan aku yang sekarang malah merasa lebih hebat dibandingkan dengan masa lampau. Mungkin, mungkin, mungkin, dan kemungkinan lainnya yang terus saja berputar di atas kepala. Ada yang bilang sebenarnya hanya malas saja yang terus menjadi beban. Entah, mungkin itu juga adalah kemungkinan yang benar. Dan, kebenaran itu tak akan pernah kutemukan. Jangan sampai ada yang bilang, kebenaran hanya miliki Tuhan. Duh, kalau itu aku pun tahu!

Ya, untuk sementara ini dalam ruangan beberapa petak yang sempit beserta beberapa tembakau plus kopi, aku mencoba untuk menulis setidaknya bebarapa bait-bait kata supaya bisa lagi menulis bak para sastrawan/pujangga. Setidaknya, aku bisa meniru mas Boy Candra. Ah, mestinya.

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.