Skip to main content

TIDAK Cukup Hanya Cinta

“Cinta adalah bumbu utama untuk membuat sebuah jalinan suci. Tapi bukan berarti, cukup hanya dengan cinta untuk menjadikannya indah”

Pagi hari ini memang indah, namun hawa dingin dan langit gelap yang menutup cahaya matahari menghapus semuanya. Membebani perasaan malas yang sangat untuk bangkit dari ranjang hangat. Kopi susu yang dibuatkan si Mbok kini sudah dingi jadinya. Embun pagi yang masih bergelantungan di ujung dedaunan, merealisasikan seluruh syaraf tubuh, menyuntikan energi semangat dan persaan tenang ke kepala dan jiwa.


“Rian, bangun nak udah pagi toh masih tidur aja!” Rian hanya mengulat kecil, menghiraukan ibunya yang membangunkan. Wanita berumur 45 tahun itu hanya menggeleng-geleng kepala. Membangunkannya untuk kedua kalinya, kali ini dengan menggoyan-goyankan tubuhnya. Tapi sama saja, hanya geraman dan hirauan yang diberikan.

Belum menyerah, ibu melihat sekeliling kamar berukuran 15x10 tersebut, tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri. Sebuah jam becker dengan setingan jarum jam menunjukan akan berbunyi  pada jam 5 pagi. Diambil jam becker tersebut dan diseting ulang. Jarum panjang tertuju pada angka 6 dan jarum pendek tertuju pada angka 6 juga. Lima, empat, tiga, dua, satu. Kring… kring… kring… jam becker berbunyi dekat telinganya. Rian terbangun, membuka keduanya yang berat dengan payah. Melihat ibunya yang berdiri di sampingnya, dengan segera bangkit dari tidurnya lalu merapikan diri dan kamarnya.

Harus cepat agar ibu tak banyak bicara. Hal seperti ini sudah sering terjadi dan terakhir kali yang dia ingat ketika seember berisi air penuh membasahi dirinya di pagi hari buta. Bagaimana ibu tak menyiramnya dengan seember penuh air, Rian adalah anak satu-satunya, dan di saat waktu imsak hampir menjelang, dia masih terlelap dalam naungan mimpi.

Semua rapi, dan dengan cepat melesat menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Maaf, bukan maksud ibu tidak sayang dengan mu. Getir hati kecilnya.

*****
    
Hujan turun lebat, Rian masih berada di jalan yang selalu macet pada setiap harinya di Ibu kota Indonesia. Untungnya dua hari lalu motor yang biasa digunakan Rian untuk pulang pergi ke kampus harus masuk bengkel karena sedikit masalah. Kalau saja motornya tidak masuk ke dalam perbaiki bengkel, mungkin pakainnya sudah basah kuyup karena hujan yang menerpanya.

“Kiri Pak!“, transportasi umum yang ditaikinya berhenti di depan sebuah gapura besar nan indah. Melangkah kan kakinya dari mikrolet keluar, membayar ongkos dan supir pun memberi kembalian. Seharusnya, apabila dia tidak bangun terlambat, bisa saja mahasiswa jurusan Filsafat ini tak usah membayar ongkos perjalanan.

“Rian…“ dengan terengah-engah, Eko menghampiri teman dekatnya itu.  Terikan nafas panjang mengawali pembicaraan. Rian memasang tatapan penasaran dengan sahabatnya. Tak seperti biasanya ni orang lari datengin gue. “Ada apa?”

“Pak Budi…” engahan masih tersisa di setiap kali nafasnya. “Pak Budi nungguin elu di kantornya sekarang. Mungkin soal tugas minggu kemarin yang belum lu selesain. Udah selesai tu tugas?“ remaja berambut rapih namun stylish  itu hanya menggelengkan kepala. “Tu kan“
“Tenang,“Rian merogoh saku celananya, sebuah pesan masuk. Senyum kuda pun tergambar di wajahnya. Dari Bejo. Tak lama, ekspresi senang seakan-akan mendapatkan surga itu hilang diterpa angin. “ Gimana? “ tanya Eko.

Haaaaaaaaaah…. Rian berteriak merengek, dan tanpa komando dari siapa pun dia sudah memeluk erat tubuh sahabatnya itu. “ Rian, gak lucu tahu gak. Lepasin ah, Indri juga gak pernah gue peluk kenapa harus lu duluan yang gue peluk “. Rian memberikan ponselnya kepada Eko.

From : Bejo

     ‘Rian, soory ya gue gak bisa masuk kelas dulu karena nenek gue yang ada di Jepara lagi sakit dan nenek gue itu lagi kangen sama gue makanya gue harus ikut. Owh ya, kalo lu mau ngambil tugasnya silahkan minta sama tetangga gue. Ok! Thank’s, atas pengertiannya’.

*****

Sebuah lorong panjang yang penuh dengan mahasiswa berlalu lalang begitu ramai dengan langkah kaki dan suara bising setiap mahasiswa yang tengah berdiskusi tentang materi kuliah mereka atau masalah yang menimpa negeri tercinta kita ini. Dengan kepala tertunduk dan jantung yang berdetak cepat melebihi batas, Rian dan Eko berdiri di depan kantor Rektor yang menegangkan.

‘Tok, tok, tok’ darah semakin deras mengalir. “Masuk!” sebuah suara serak memerintah dua insan itu untuk memasuki ruangannyayang bagaikan kandang seekor singa yang tengah menunggu makanannya. dibuka pintu dengan perlahan, suara berdecit menusuk telinga.

Kumis hitam tebal menjadi ciri khasnya, alis lancipnya juga memunculkan ketegasannya dan pantas untuk menerima gelar ‘dosen killer’. Tajam tatapanya laksana sebuah belati yang siap untuk membelah daging.

“Rian duduk!”, pemuda bertubuh tinggi tiu duduk di kursi yang berada di hadapanya, pemuda berkulit sawo hitam yang mengantarkan Rian pun ikut mengambil tempat di sampingnya. “Eko, untuk apa kamu duduk di ditu?” tawa hampir membeludag dari kerongkongannya. “Kenapa kamu senyum. Seneng saya yang sudah tua ini marah” tatapan elangnya hampir saja  menembus kedalaman matanya.

Dengan wajah tanpa ekspresi, Eko berdiri dan mengangkat kaki dari kantor. Membuka pintu dan hilang dari pandangan. “Apa kamu tahu kenapa kamu dipanggil ke sini?” gelengan kepala menjadi jawaban yang dipilih Rian. “Hari ini ada seorang mahasiswa baru yang akan mengikuti kelas bersama mu. Karena kamu selalu membuat onar saya tidak ingin kejadian untuk kedua kalinya seperti dua bulan yang lalu terjadi. Mengerti?!”

Dua bulan lalu ketika ada seorang mahasiswa baru baru saja hendak memasuki kelas, Rian yang memasang perangkap bagi Joana yang dia simpan dendam dalam hatinya mendapat objek yang salah. Wal hasil mahasiswa baru itu pulang kembali karena pakainnya yang basah dan juga bau amis.

Dan pada ke esokan harinya, Rian mendapat hukuman untuk membersihkan sepanjang koridor selama sebulan. Pak Budi melirik Rian yang sejak tadi hanya menunduk. “MENGERTI!?”. “I… i… iya pak, saya mengerti, lagi pula kan yang lalu itu…” dengan cepat Rian menarik perkataanya. “Yang lalu kenapa?”, “enggak pak, maksud saya yang kemarin memang salah saya”.

“Ya sudah, silahkan kembali ke kelas mu” tanpa aba-aba, denagan cepat Rian melangkah keluar dari ruangannya. “Rian…” tangan yang hendak membuka pintu itu terhenti. “Saya percaya kamu mahsiswa yang pintar dan juga mudah bergaul, walau terkadang berlebihan. Baik, sekarang kamu silahkan kembali ke kelas mu”. Sebuah senyum mengembang, Rian membalas dengan tulus.

*****

Bel masuk pertanda masuk telah berdering. Para mahasiswa yang berada di perpustakaan  menutup buku mereka, satpam menutup gerbang, dan para cleaning servis mematikan rokok mereka dan mulai berkerja. Rian sudah stand by di kelas sejak tadi, setelah dari kantor Rektor dengan cepat dia mengambil langkah ke kelas.

Mana mahasiswa baru tersebut?Pak Ilyas memasuki kelas, para penerus bangsa itu membenarkan posisi duduk mereka, merapikan buku yang masih tergeletak sembarang, dan menyiapkan alat-alat tulis yang dibutuhkan. “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” salam membuka kelas, mereka menjawab nya dengan kompak dan serempak. “Baik, sebelum kita semua memulai pelajaran kita pada pagi hari ini, bapak akan memperkenalkan mahasiswa baru yang akan mengikuti kelas bersaama!”

Yang lain melihat ke arah Rian, tatapan mata yang ditujukan padanya sangat sinis dan mencurigakan. “Tenang, aku tidak akan memasang perangkap kali ini.” Pak Ilyas yang mendengar pernyataan muridnya itu hanya tersenyum. “Silahkan masuk dan perkenalkan diri anda”

Seorang gadis melangakah masuk dengan anggun, jilbab yang berkilau menutupi setiap helai rambutnya, pakaian yang dikenakannya cocok dengan jilbab yang digunakan. Menambah pesona pada dirinya.

Senyum malu tergambar pada wajahnya, lesung pipit pipinya memunculkan kesan imut dan juga dermawan. “Ayo, silahkan perkenalkan diri anda pada mereka”

“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh”. Seruan jawaban salam menggema di dalam kelas. Senyum manisnya memanipulasi setiap lelaki yang ada di tempat itu. Tall terkecuali dangan Rian. Lagi-lagi jantung nya berdetak lebih cepat dari seperti biasanya.

“Nama saya Annisa Fauziah, saya biasa disapa dengan Annisa atau Ziah. Saya lahir 22 Mei 1990, bertempat di ProvinsiBanda Aceh Darussalam. Saya pindah ke Jakarta ini karena ayah saya yang ditugaskan di sini. Cukup?!” seisi kelas bisu, tak ada yang menjawab. “Saya minta kerja samanya, terima kasih. Wassalamu’alaikum”

“Baik, terima kasih saudari Annisa, sekarang silahkan anda ambil tempat di sana.” Pak Ilyas menunjuk ke arah bangku kosong yang berada di samping Rian. Keringat dingin berkucuran keluar. Seperti mimpi rasanya, pada hal pagi hari ini dia terlambat bangun tapi mengapa dia mendapat seorang bidadari tengah melangkah mendekatinya dan akan duduk di sampingnya.

Annisa tersenyum pada Rian. Seperti api yang membakar lilin, hatinya luluh dengan senyu manis yang tak pernah dia temukan dari gadis yang lainnya.
“Annisa?!”, sapa Rian
“iya, kenapa ya?”
“Ehm, boleh kenalan gak. Biar saling kenla gitu. Bagaimana?”
“Boleh. Annisa, kamu?”
“Saya Rian. Rian Permasatya” Rian mencoba berjabat tangan dengan Annisa. Gadis itu hanya terdiam “maaf bukan muhrim”

Rian yang tadi telah mulai percaya diri untuk berkenalan, tapi kini wajahnya memerah karena. “Maak kalau kamu sakit hati, tapi aku memang tidak terbiasa berjabat tangan dengan seorang pria yang bukan keluarga ku. Kamunggak marah kan?”

Rian menggelengkan kepala, melemparkan senyum tipis lega pada Annsisa. “Justru aku yang harusnya meminta maaf karena tak tahu aturan. Maaf ya”

Tak apa, yang terpenting dia masih memberi ku kesempatan berbincang dengannya di lain waktu.

*****

Kelas telah berakhir, hujan telah berhenti sejak tadi. Rian mencari sosok Annisa di koridor. Jajni dengan teman kelasnya dibatalkan hanya untuk bisa pulang bersama dengan Annisa. Sepanjang koridor telah di laluinya, wal hasil. Tidak ada.

Rian memutuskan keluar komplek kampus, menunggu mobil angkutan yang akan membawanya ke rumah di halte yang tak jauh dari pintu masuk keluar kampus. Saat tengah merenungi perasaan yang menghampiri jiwanya, sesosok yang dari tadi dicarinya tercekat oleh indra penglihatannya.

“Permisi… boleh aku duduk di samping mu?” tanya Rian denga hati-hati.
“Oh ya, Rian kan?”
“Iya. Owh iya ini tadi aku beli air dua, karena teman ku telah malah pergi duluan. Mau?” tawar Rian. Pasti kali ini dia mau.
“Maaf ya Rian, hari ini aku lagi nggak makan dan minum”

Wajahnya memasang mimik bingung dengan maksud Annisa dengan tidak makan dan minum. “Aku hari ini lagi puasa sunah, makanya aku menolak air mu. Tapi terima kasih sudah mau menawarkan.”

Mendengar alasan yang masuk akal dan cukup membuat dirinya malu, dia kembali memasukan minumannya ke dalam ransel. “Kalau boleh tanya. Kenapa kamu pindah dari Aceh?”

“Ayah ku mendapat pindah tugas dari atasannya untuk mengurus cabang perusahaan yang ada di Jakarta. Oleh sebab itu aku, ummi dan kaka ku ikut pindah.”
“Rumahnya di mana?”

Annisa menarik nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan. “Kalau rumah, aku kurang mengerti alamat merincinnya yang pasti rumah ku itu di daerah Pondok Indah. Memang kalau kamu sendiri di mana rumahnya?”

“Sama kok, di Pondok Indah. Mungikn kapan-kapan aku bisa main ke rumah kamu. Ya hitung-hitung silaturahmi ke tetangga baru. Gak apa-apa kan?”

Sebuah anggukan menjadi jawaban yang cukup untuk meneguhkan hati. Sebuah mobil berhenti di depan halte, dari dalam keluar seorang pria berpeci dengan wajah cerah sama dengan Annisa. “Annisa”

“Ah, itu kaka ku sudah menjemput. Aku duluan ya, wassalamu’alaikum”
“Sebentar, boleh mintar nomor hp-nya gak?”
“Owh ya…”
Ketika hand phone-nya tergapai dan melihat layarnya. Low Bet.
“Ya sudah nomor kamu aja”
“Maaf…” entah apa yang merasuki akal pikirannya. Bukan,bukan akal pikirannya tetapi hatinya. Sebuah perasaan yang telah lama terbelenggu.

*****

Satu minggu berlalu, semenjak pertemuan di hari ituRian dan Annisa begitu dekat dan Rian sendiri tak merasa kikuk tatkala berada di dekatnya. Bahkan minggu lalu dia sempatkan untuk bermain ke rumahnya. Dan memang diakui, keluarganya adalah yang keluarga yang memiliki keteguhan iman yang kuat akan agama. Tetapi, justru berawal dari situ Rian sering membuka tentang fiqih dan yang lainnya yang berhubungan dengan Islam.

Dan sebentar lagi, setelah pemuda berumur 22 tatun ini melewati ujiannya, dia akan melewati wisuda yang ditunggunya. Tapi selama dia berteman dengan gadis berjilbab tersebut sering kali terbesit dalam pikirannya untuk menjadikan dirinya sebagai pasangan hidupnya.

“Rian, kamu sudah menyelesaikan tugas akhir?”
“Belum nih, lagian Aku juga masih cari refrensinya”
Hembusan angin sore menghempas tubuh. Mereka tengah berada di lantai atas dari gedung asrama kampus. “Apa kamu tahu?” tanya Rian, dengan tatapan penasaran. Rian mencoba memasuki hati gadis yang berada di hadapannya dengan menatap balik kedua bola matanya.

“Telah lama aku tidak merasakan perasaan seperti ini. Bahkan, tidak pernah. Ya tidak pernah…

“Perasaan yang pasti dirasakan oleh setiap insan yang berada di dunia. Sadar atau tidak, itu pasri dan tak dapat dipungkiri. Gejolak hati yang menghantam dinding keras ini, kini hancur olehnya. Apa kamu tahu apa itu?”

Annisa masih terdiam, belum memberi respon untuk pernyataan pria yang dia pendam rasa untuknya.

“CINTA… ya cinta. Banyak orang yang memperbincangkan tentang hal ini. Dari mana, kenapa, bagaimana, apa, siapa, di mana, berapa lama. Beberapa pertanyaan sering ku dapati dari diri ini”

Sunyi membias suasana dan hanya hembusan angin yang terdengar di telinga. “Bahkan sering kali ku lihat pasangan suami istri yang tak memiliki ketampanan atau kecantikan yang banyak dideskripsikan orang-orang dengan kulit putih, hidung mancung, dan segala sesuatu yang memang indah. Bahkan tak memiliki perekonomian yang cukup dan sering kali kita lihat di stasiun atau terminal fenomena itu, tetapi mereka tetap menyatu dalam satu alunan indah yang mereka ciptakan, yang merekan tanam dan rawat dengan hati yang tulus.

“Dan aku, seorang Rian Permasatya yang selalu dingin pada setiap gadis kini hanya dapat berusaha dan berharap akan tanggapan darinya. Sebuah tanggapan yang berarti ‘ya’. Namun entah apa yang akan dijawabnya apabila aku bilang kepadanya tetang perasaan ini”

“Jadi sekaang ceritanya, Rian lagi kasmara sama seseorang ni ?!” goda Annisa.
Rian hanya tersenyum tipis mendengar itu. “Tapi bukan Rian saja yang merasa seperti itu, walau Abi atau Kakak sering mengajarkan Annisa agar tidak memikirkan lawan jenis terlebih dahulu, tetapi Annisa tetap hanya manusia biasa yang masih memiliki hati dan nafsu.

“Lagi pula Annisa sama denga Rian, baru kali ini persaan aneh itu merasuki hati. Belum lagi, baru kali ini juga ada seseorang yang memberi perhatian yang lebih dan Annisa meresponnya. Goyahan pendirian ini untuk tidak mencintai laki-laki selain orang yang akan menjadi suami ini cukup untuk membuat Annisa berfikir. Apakah ini benar tidak?. Tetapi selama Aku dengannya tidak melanggar syari’ah islam yang ada dan tidak berbuat macam-macam ku rasa itu tidak masalah. Lagi pula Annisa yakin, kalau laki-laki yang Annisa harap akan mengabulkam harapn Annisa dan pastinya menjaga perasaan ini”

Kini keduanya hanya bisa terdiam, menatan hamparan hutan beton yang berdiri kokoh. “Kok ngomngnya malah ngelantur begini ya.” Rian melihat jam tangannya. Sudah waktunya untuk pulang. “Ya sudah, pulang yuk!”

Hanya satu hal yang mereka pikirkan. ‘Apa yang dimaksud adalah aku?’. Matahari akan segera meninggalkan hari, membawa semua cahaya mengkilaunya dan menghilang di kejauhan mata. Membiarkan gelap malam mengambil alih gilirannya.

Tetapi lain dengan mereka berdua. Di tempat yang berbeda namun waktu yang sama. Rian dan Annisa tengah bersujud kepada Sang Pencipta, merendahkan diri karena tak ada yang dapat dibanggakan di hadapannya. Meminta segala rahmatnya dan ampunan atas segala kesalahan dosa yang telah diperbuatnya. Memohon agar orang yang disayanginya akan menjadi yang pertama dan terakhir bagi mereka.

*****

Waktu bergilir tanpa kenal lelah. Tak berjeda dan tak berpeluang. Rian dan Annisa telah mendapat gelar sebagai seorang ‘Sarjana’ bulan lalu. Gelar didapati bukan berarti cinta yang mereka cari telah menghampiri. Selama itu pula mereka semakin dekat dan memperhangat di antaranya. Dan pastinya masih dengan batasan-batasan tertentu yang sudah jelas dilarang oleh agama.

Tidak lama setelah sarjana, Rian berkerja sebagai Skretariat di perusahaan swasta milik pamannya. Sedangkan Annisa sebagai guru di Madrasah Aliyah yang tak jauh dari rumahnya.

Selama itu pun, Rian sering kali berkunjung ke rumah Annisa. Menjalin tali silaturahmi. Dan tak lupa, buah-buahan pun sering dibawakannya. Itu pun rutin. Setiap kali pemuda berkulit puith khas melayu itu berkunjung.

Hari ini dia mendapat cuti dari manager-nya. Rian tengah berbincang dengan Abi Annisa. Adzan Dzuhur menyelak pembicaraan mereka, menyeru seluruh umat muslim dan muslimat agar mendirikan shalat sebagai kewajiban yang memang harus dilakukan, dan pastinya dengan hati yan ikhlas agar tak sia-sia. “De Rian, mari kita shalar dzuhur terlebih dahulu.”

Dengan sigap Rian bangkit dari kursinya dan menuju belakng hendak mengambil wudhu. Sebelum sampai kamar mandi. Matanya tercekat dengan sesosok seorang Annisa yang tenga memasak. Dan jilbabnya masih menempel di kepalnya.

Ya Allah, betap indahnya mahluk yag kau ciptakan itu. Sebelum Abi memergoki Rian yang tengah melihat Annisa, dia sudah terlebih dahulu pergi untuk mengambil air wudhu. Ini hanya tinggal menunggu waktu.


*****

Waktu liburan sekolah telah tiba. Rian pun mengambil waktu cutinya karena kinerjanya yang sungguh-sungguh dan menghasilkan pendapatan yang menguntungkan bagi perusahaan di mana dia berkerja. Dan begitu juga Annisa, karena guru dia pun mendapat jatah hari libur tersebut.

Rian berencana mengajak Annisa bermain ke Taman Bermain bersama, namun entah apa dia akan diperbolehkan oleh Abi dan Umminya.
“Assalamu’alaikum, Annisa!” salam Rian dari telepon seluler.
“Wa’alaikum salam, kenapa Rian?”
“Annisa ada acara gak minggu nanti?”
“Hmm, kayanya nggak ada. Memang kenapa?”
“Ya, kalau mau, minggu nanti Rian mau ajak Annisa bermain ke Taman Bermain bersama. Bagaimana?”
“Bagaimana yah, coba nanti Annisa minta izin sama Abi dan Ummi dulu ya.”
“Ya udah, kalau memang gak bisa jangan dipaksain”
“Iya”
“Ya udah, terima kasih. Wassalam”
Rian tidak meninggalkan hand phone-nya sendiri, demi menunggu jawaban yang pasti dari Annisa.
Tet, tet, tet. Sebuah nada dering pertanda pesan masuk dari telepon selulernya memecahkan lamunannya. Dari Annisa. Harapan mulai dipanjatkannya.
From: Annisa
‘Rian, Abi dan Ummi memberi izin Annisa untuk ikut bermain bareng Rian. Terima kasih sudah mau mengajak Annisa bermain. Wassalam’
Ekspresi senang tak dapat disembunyikan olehnya. Tak sabar dirinya menunggu hari esok.


*****

Matahari pagi cerahmenyinari bumi peritwi ini. Langit indah nan luas terbentang dengan warna biru yang menjadi dasarnya. Menjadi pantulan dari birunya lautan luas. Rian dan Annisa sedang dalam perjalanan menuju taman bermain. Tak ada kemacetan, mogok, atau bocor ban. Semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan.

Setelah memakan waktu satu setengah jam, mereka memasuki gerbang masuk taman bermain. Memakirkan mobil dan siap untuk bersenang-senang seharian penuh. “Mau main apa dulu?” tanya Annisa, Rian menunjuk pada salah satu wahana yang tak jauh dari rest area.
      
“Itu?!” tanya  Annisa mencoba meyakinkan dengan kora-kora yang ditunjukan, Rian hanya tersenyum meyakinkan Annisa. Melihat ekspresi Annisa yang tak bersemangat, segera Rian membalikan tubuh dan mengangkat suara. “Tenang… kita gak akan kenapa-kenapa.” Annisa begitu takut dengan wahanayang dipilih Rian.

Sepuluh menit pertama, wahana masih bergoyang dengan normal dan belum mencapai batas maksimum. Lima menit kemudian, Kora-kora baru bertambah kecepatan dan ditambah dengan hal yang tak pernah dipikirkan. Listrik mati. Kora-kora berhenti beroprasi dalam keadaan yang cukup untuk membuat Annisa ketakutan. tanpa disadari, Annisa memeluk lengan Rian dengan kencang dan dengan menyebut Asma Allah. Rian membisikannya kalau mereka akan baik-baik saja.

Tiga puluh menit berlalu. Dan selama itu Annisa mencengkram lengan pria bertubuh tinggi itu.
“Ini…” Rian menyodorkan air dan es krim agar Annisa dapat menenangkan diri kembali dan dapat kembali bermain. Menikmati hari yang belum tentu di hari-hari setelah ini dapat momen ini.

“Terima kasih.”
Beberapa menit mereka lalui tanpa ada perbincangan sama sekali. Hampa. Kosong. Sunyi. “Maaf ya” Annisa mengawali pembicaraan dengan kalimat yang kurang dapat dimengerti Rian.
“Kenapa? Kok tiba-tiba kamu meminta maaf.”
“Tadi aku sudah memeluk lengan erat lengan mu. Itu benar-benar tanpa disengaja_”
“Cukup!” selak Rian. “Bukan kamu yang harus meminta maaf, tetapi aku. Apabila aku menuruti apa kata hati mu mungkin kita tidak seharusnya terjebak dan juga. Dan juga, kamu tak seharusnya memeluk lengan ku.”

Hembusan angin menerbangkan sehelai tisu yang tergeletak di hadapan mereka. “Ya sudah, tak perlu kamu pikirkan lagi.”

Mereka mencoba kembali mencuri suasana harmonis yang seharusnya mengisi hari mereka. “Ayo makan es krimnya entar meleleh duluan lagi”

Dan lagi-lagi. Rian tanpa disengaja membersihkan bibir Annisa dengan tisu. Jantung berdetak lebih cepat dan tak beraturan. Ingin Annisa menghindar, namun apa daya. Nafsu lebih besar dan Annisa hampir saja melupakan batasan yang menjadi landasan pikirannya.
Annisa tidak membahas masalah tadi. Agar suasana tidak rusak untuk kesekian kalinya.
“Annisa?”
“Hmm…”
“Apa Abi pernah bertanya tentang seorang pria yang spesial bagi Annisa?”
“Hmm, pernah”
“Lalu, bagaimana jawaban Annisa?”
“Annisa jawab. Pria yang spesial bagi hidup Annisa adalah orang yang akan menjadi pendamping Annisa. Untuk selamanya. Ya… selamanya”
Udara yang berhembus lembut mengibarkan jilbab gadis berwajah khas wanita Timur Tengah. “Apa pernah ada seorang pria datang ke rumah untuk…”
“Untuk apa…” Annisa mulai bisa menerka pikiran Rian.
“Untuk meminang Annisa.”
Kicauan burung yang berterbangan menambah suasana romantis yang tengah mengisi hati keduanya. Sebuah gelengan kepala dengan senyum simpul yang terukir di wajahnya menjadi jawaban yang membungai hatinya.
“Apabila memang tidak ada. Apa Rian bisa…”
Hening sejenak. Annisa menghadapkan wajahnya ke arah Rian, menunggu kelanjutan kalima dari lisan seorang pria yang telah ditunggunya sekian lama.
“Apa boleh Rian meminang Annisa?”
Sebuah senyum yang sangat manis melukis wajahnya.
“sebenaranya, suda lama Annisa memiliki perasaan yang sama dengan Rian, tetapi Annisa malu untuk mengungkapkannya kepada Rian. Lagi pula Rian tahu sendiri kalau Abi melarang Annisa untuk berpacaran. Tetapi kalau meminang…”
“Annisa berharap pada Rian agar lebih mempersiapkan diri lebih baik untuk menghadapi Abi. Karena untuk membuat sebuah rumpun keluarga tak hanya cinta dan harta yang dibutuhkan. Layaknya seperti memasak. Tak mungkin kita memasak sebuah masakan hanya dengan satu bumbu dapur.
“karena itu, Annisa meminta Rian agar mempersiapkan dan mematangkan diri khususnya dalam bidang agama. Annisa berjanji, jiwa dan raga ini hanya untuk Rian seorang”
Rian terdiam mendengar perkataan itu, tapi bukan berarti dia menyerah, justru berkobar dalamu dirinya tekad yang kuat untuk mengabulkan apa yang diminta oleh Annisa.
‘Aku akan berusaha’

Burung terbang berkicau indah, bersama menjelajahi dunia, sanudra, dan langit. Dan ini bukti tak hanya cinta yang dibutuhkan. Jiwa dan Raga.

Comments

  1. Kurang banyak Gan,, Ceritanya Masih Membuat Feeling Ini Aneh....

    ReplyDelete
  2. post'a mana lagi gan..........

    www.li-wildan.blogspot.com

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.