Skip to main content

Belajar Memimpin Dari Beribadah

Seorang pemimpin adalah orang yang berani, pintar, dan dapat bersikap adil dengan semua. Dan semua itu, seakan adalah hal yang sangat sulit bagi semua orang. Pada hakikatya, semua orang adalah bagi pemimpin, bagi keluarganya atau dirinya sendiri. Dan kita dapat menilai seseorang dengan menilai bagaimana seseorang dengan memimpin dirinya sendiri. Apa dia akan membawa dirinya sendiri berjalan di atas jalan  yang benar, atau justru berbelok dan berpaling dari jalan yang haq.


Bahkan di zaman ini, banyak orang-orang yang berlomba-lomba untuk menjadi seorang pemimpin tanpa memikirkan kualitas diri mereka sendiri. Karena dengan uang, mereka dapat mendapatkan tahta yang sangat luar biasa itu. Di banyak tempat, sering adanya pelatihan Training Leadership, agar para calon pemimpin yang ada dapat mengambil nilai-nilai baik yang mereka dapat ketika mereka mengikuti pelatihan tersebut.

Sedangkan dalam Islam, Allah telah memberikan banyak contoh (uswah) dan cara untuk melatih diri agar kita dapat menjadi seorang pemimpin yang berkualitas. Dan kini, peulis akan menjabarkan beberapa amal ibadah yang di dalamnya terkandung nilai-nilai kepemimpinan yang tak pernah kita kira. Let’s check it out...

1.Membaca Al-Qur’an

Dalam Al-Qur’an yang terdiri dari banyak huruf hijaiyah itu, dalam membacanya saja telah memiliki nilai yang sangat berharga bagi kita dalam memimpin. Nilai adil dan berdisiplin, dapat kita dapatkan di sini. Dari mana nilai itu? Pertanyaam itu akan segera terjawab apabila kita tahu bagaimana cara membaca Al-Qur’an yang benar.

Tak kala kita membaca aAl-Qur’an kita harus adil pada setiap huruf dan bijak kepada diri kita sendiri. Apa maksudnya, ketika kita membaca huruf yang panjang atau yang paling kita kenal dengan Mad Thobi’i itu dijelaskan dengan membacanya 2 harakat. Dalam satu harakat itu kita memilih 1 detik yang berarti apabila kita bertemu dengan mad thabi’i kita akan membacanya selama dua detik. Dan itu harus sama pada setiap kali kita bertemu setiap huruf panjang. Apabila kita bertemu dengan Mad Wajib Munfasil maka kita membacanya 6 harakat. kita harus bijak kepada kita diri sendiri, karena tidak semua orang memiliki kualitas nafas yang sama, oleh karena kita harus bijak kepada kita sendiri dalam mengambil nafas. Karena apabila kita kehabisan nafas, itu dapat memperburuk bacaan.

2.Shalat

Terlebih dengan ibadah yang satu ini. Ritual ibadah yang sangat melekat dan sangat terkenal hukum wajibnya adalah salah satu ibadah yang sanga menggambarkan dengan jelas sistem kepemimpinan yang seharusnya. Di mana sekelompok orang dipimpin oleh orang yang memang bagi mereka pantas untuk memimpin dalam shalt tersebut, atau sering disebut dengan Imam.Imam yang menjadi patokan bagi seluruh ma’mum itu pastinya haruslah mampu untuk membaca Al-Qur’an dengan benar secara hukum dan makhroj dan tak lupa suci (pikiran dan tingkah laku). 
Karena ekor akan selalu mengikuti kepala. Apabila kepala terus membawa tubuhnya ke arah lurus, maka ia akan terus lurus, dan apabila kepala membawanya melewati jalan yang berduri dan penuh dengan batu kerikil maka akan dipastikan tubuh dan ekornya pun akan merasakan perih yang diakibatkan oleh dari kepala.Di sini, Imam dituntut untuk lebih adil dan bijaksana sebelum mengambil keputusan. 



Pasalnya, ma’mum yang diimami tidak semuanya adalah anak muda yang dapat kuat berdiri. Dan budaya satu tempat dengan tempat yang lain pun berbeda. Apabila di Mekkah dalam sebulan penuh Ramdhan dapat menghatamkan satu Al-Qur’an pada setiap tarawih, maka berbeda dengan Indonesia yang rata-rata membaca surat yang ada di juz ‘amma..Dan juga, tidak selalu seorang pemimpin akan selalu benar. Pasti ada saatnya dia melakukan kesalahan, dan kesalahan yang dilakukannya bukan harus dikucilkan melainkan diluruskan. Dan dalam shalat telah diajarkan. Ketika Imam melakukan kesalahan dalam shalat, maka ma’mum yang menyadarinya harus mengucapkan kalimat ‘tasbih’ sebagai pengingat bahwa apa yang dilakukan Imam itu salah.

3.Puasa (Shaum)
Yang terakhir adalah, amal ibadah yang selalu kita lakukan pada setiap tahunnya. Yaitu puasa, banyak dari orang-orang yang mengira bahwa dalam ibadah puasa hanya mengajarkan kita untuk bersabar dalam menahan hawa nafsu. Tetapi tak hanya itu. Dalam ibadah puasa, mengajarkan kita untuk saling peduli dengan sesama.

Lagi-lagi, ibadah ini mengajarkan kita untuk adil dan bijaksana kepada kita sendiri. Karena bulan Ramadhan yang diiming-imingi dengan pahala yang berlipat setiap kali melakukan hal yang baik, tetapi sampai harus membebani diri sendiril. Dan guna zakat fitrah yang wajib dibayarkan setiap orang itu pun sudah cukup.

Subhaanallah, begitu banyak faidah yang dapat kita dapatkan dari alam ibaah yang kita lakukan, tetapi dengan tanda kutip ‘apabila kita melakukannya dengan ikhlas dan tanpa mengharapkan apapun kecuali ridho illahi’. Masih banyak yang mengandung nilai kepemimpinan, hanya penulis menjabarkan ibadah yang dikenal di kalangan masyarajat. Semoga dapat bermanfaat.

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.