Cahaya lembut mentari di sore hari menyentuh kulit, memberikan perasaan
hangat yang meneteramkan. Satu dua kali angin bertiup, melepas semua penat
siang tadi. Hembusannya menelisik anak rambut. Nyaman. Langit biru menjadi
warna dasar yang indah untuk lukisan Sang Pencipta, ditambah dengan gumpalan
awan yang menggoda. Seakan dapat ditiduri.
Aku masih tekun dengan pulpen tergenggam di tangan. Menggoreskan tinta di atas kertas putih. Mengukir alur. Merangkai cerita. Di sisi lain. Sulthan masih sibuk dengan laptop di hadapannya. Sesekali terdengar suara desahan dan keyboard diketik. Sisanya lengang. Pintu terbuka pelan, membuat suara decitan dari engsel yang mulai berkarat. Memecah kesunyian. Faruq masuk perlahan, kembali menutup pintu dan mendekati meja. Aku dan Sulthan melirik sejenak, memeriksa siapa yang masuk dan kembali tenggelam dalam kesibukan masing-masing.
“Ane yakin ente akan tertarik!?” Faruq mulai berbicara,
membuat kami terhenti dari pekerjaan kami. Faruw mendapatkan perhatian kami.
“Ini—“ Faruq meletakkan dua buah amplop putih yang masih tertutup rapih yang
langsung ku sambar salah satunya. Membukanya dan mulai meniliti.
“Perlombaan!?” Aku yang bertanya terlebih dahulu, membuat
Sulthan tertahan. Yang ditanya mengangguk pelan. Tersenyum. “Tetapi sekarang,
siapa yang akan bertanggung jawab penuh atas perlombaan ini? kita? Atau ustadz?”
Sulthan membuka forum diskusi secara tidak langsung. Yang biasa diminta dan
dilatih oleh Almarhum Ustadz H. Masykur Rahiem. Beberapa menit berlalu. Keputusan
pun diambil. Surat akan diberikan kepada Ustadz.
Tetapi Aku tetap dengan pendirianku. Aku akan tetap akan
mengikuti perlombaan itu personal.
*****
Lima hari berlalu tanpa terasa. Aku memilih opsi
perlombaan karya tulis. Sebenarnya, Aku sendiri tak yakin dengan kemampuan ku
tetapi aku percaya aku bisa. Matahari telah mencapai klimaksnya. Menghasilkan
udara panas yang membuat peluh berkucuran membasahi tubuh.
Aku dan teman-teman pengurus baru mengambil lauk mingguan
yang memang harus diambil di dapur area putri. “Toro, sini!?” Ustadz Abdul
Rasyid memanggilku. Aku pun terpaksa menitipkan lauk ke anggota dan memintanya
untuk membawakannya ke kamar. Aku tahu persis apa yang ingin dibicarakan
olehnya. Gedung perkantoran lantai dua. Di sanalah dia berada. Duduk termenung
melihat sekitar.
Seperti biasa, perbincangan diawali dengan menanyakan
kabar dan semacamnya. “Kamu tetap ingin mengikuti lomba itu personal?” Aku
mengangguk pelan sebagai jawabannya.
Terdengar suara tarikan nafas dalam yang dilakukan
olehnya. “Kenapa kamu memutuskan untuk mengikuti hal seperti itu?” Sekarang
giliranku yang menarik nafas. Kalau sudah begini, bagaimana pun aku harus jujur
dan tak dapat mengelak sama sekali. “Karena saya berfikir, saya ingin
membanggakan pesantren tanpa memberatkannya sama sekali.”
Aku tertunduk, entar alasan yang ku berikan benar atau
salah. Wajar saja, aku seorang remaja yang masih dalam proses perkembangan fisik
atau pun psikologis. Dan tak lupa, ideologi yang mulai dibangun kokoh. Mencari
jati diri.
“Kamu salah, justru dengan sikapmu yang seperti itu kamu
menunjukan keangkuhan dan kesomongan mu. Pesantren tidak pernah merasa
keberatan untuk membantu santri yang mampu berkreasi bukan!? Jadi, berhentilah
berfikir seperti kebanyakan remaja egois dan mulailah menjadi pemuda yang mampu
berfikir lebih baik.”
Lagi-lagi aku terdiam. Ada benarnya perkataan Ustadz
Abdul Rasyid tadi. “Jadi bagaimana? Apa kamu masih ingin tetap mengikuti loma
itu dengan personal!?” Aku menggeleng pelan. Aku memutuskan untuk mengubah
pemikiranku saat ini. menuruti perkataannya.
“ya sudah, siang nanti saya akan berangkat untuk
mendaftar.”
“Ustadz, saya mohon ingin mengganti mata perlombaannya?”
“Silahkan, memang apa yang kamu mau?”
“Mading.”
“Baik kalau begitu, terima kasih dan saya meminta maaf
karena sudah mengganggumu.” Aku hanya mengangguk . “Saya pamit Ustadz.
Wassalamu’alaikum.”
Aku pergi meninggalkannya dengan harapan dan semangat
baru.
*****
Malam lengkap menguasai langit. Bintang gemintang yang
menghiasi langit begitu indah. Membentuk sebuah rasi . rembulan begitu mencolok
bersinar di antara titik-titik kecil. Satu hal yang akan ku lakukan ketika Aku
hendak mengikuti suatu kegiatan.
Meminta ridho dan doa kedua orang tua.
Sms singkat menjadi alternatif penyampaiannya. Tak perlu
menelpon, sudah terlalu larut. Smsm terkirim. Menunggu beberapa menit. Tak ada
telepon. Waktunya pergi.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...
Mamah ini Ian, Ian minta doanya untuk kelancaran dan
keberhasila Ian dalam mengikuti perlombaan Jurnalistik minggu depan. Terima
kasih Mah. Wassala’alaikum”
*****
Waktu terus berputar. Detik berubah menjadi menit, menit
berubah menjadi jam, jam berubah menjadi hari, hari berubah menjadi menggu,
minggu berubah menjadi bulan, bulan berubah menjadi tahun. Begutulah siklus
perputaran waktu dunia.
Pagi memang selalu menjadi waktu terbaik untuk kembali
menata semua mimpi dan harapan, membenahi semua angan, menegakkan semua ambisi.
Jalanan Bogor tidak terlalu macet, jadu tidak begitu kesulitan untuk mencapai
tempat perlombaan. Pesantren mengirimkan dua grup. Putra dan putri.
Aku masih sedikit mengantuk, semalam baru bisa
menyelesaikan potongan papan mading tengah malam. Sesampainya di sana, susana
tegang menyelimuti hati. Angkutan umum
yang kami tumpangi mencari tempat untuk memarkir. Memakirkannya rapih dan
penumpang mulai beruturunan.
Semuanya turun perlahan. Aku terakhir karena aku yang
membawa papannya. Si manis. Begitulah aku dan Habib menyebutnya.
“Eh lihat, yang itu malah enggak jelas...” tanpa
disengaja, Aku yang baru saja turun dari mobil mendengar celoteh penghinaan
itu. Mata mulai menyelidik tajam. Emosiku melunjak. Ke temukan mereka. Ku
titipkan papan kepada Habib dan siap menghajar orang-orang itu. Baru satu
langkah ku meningglaknnya, Habib sudah menyentuh pundakku. Akupun menoleh.
Habib menggeleng mencoba menahanku. Dan dia berhasil.
“Kita buktikan semuanya di medan peperangan.” Bisiknya
pelan. Aku mengangguk. Menurut. Mengambil kembali papan yang tadi ku titipkan.
Ku hiraukan tawaan geli mereka semua. “Terima kasih sob.”
“Itulah gunanya sahabat.”
Aku sempat menurusi pendaftaran ulang. Tak lama terdengar
pengumuman semua peserta harus berkumpul di dalam ruang Aula. “Habib lebih baik
ente aja yang ikut, ane sama Anas harus menyelesaikan artikel untuk nanti.”
Tanpa komentar dia pergi bersama yang lainnya menuju
aula. Sedangkan aku dan Anas lagi-lagi kembali sibuh sebaik mungkin.
Beberapa menit kembali berlalu. Semuaorang mulai memenuhi
jalan keluar, kembali bebraur dengan orang lain. “Tempat perlombannya di lapangan
sana—“ Habib menunjul ke arah lain dari sisi gedung.
Aku berdiri merapihkan alat-alat yang dibutuhkan dan
memasukannya ke dalam tas. Di lapangan sudah benyak peserta termasuk grup
putri. “Tempat teduh atau panas!?” Aku bertnya. Aku tak ingin mengambil sebuah
keputusan sepihak. “Habib?”
“Panas.”
“Anas?”
“Panas.”
Dengan cepat kami mengambil tempat terbaik dan ternyaman.
Setelah mengeluarkan semua peralatan. Salah seseorang panitia berdiri di tengah
lapangan. Kembali menjelaskan kriteria dan peraturan perlombaan kreatifitas
mading ini.
“Kalau begitu dalam hitungan ke lima semuanya di mulai.
Satu, dua, tiga, empat...” angka terkahir sama sekali tidak terdengar. Mungkin
semua peserta sama. Kami bertiga mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Habib sibuk dengan pisau cutter, gunting, dan pensil. Sedangkan aku dan Anas
kembali sibuk menulis artikel yang dibutuhkan.
Se;uruh peserta masih sibuk dengan pekerjaan
masing-masing. Melihatnya membuat kami semakin bersemangat. Waktu yang
diberikan sebanyak 120 menit atau setara dengan dua jam.
Tanpa terasa, tulisan sudah selesai, sekarang tinggal
membantu Habib untuk menghiasi Mading. Coba lihat, betapa cantiknya gadis ini.
walau hanya sebilah papan yang digambar, tetapi senyum yang tergambar begitu
menawan. Semoga dapat memberikan makna lebih bagi pembaca dan penikmatnya.
Matahari mulia meninggi, panasnya terasa jelas menyengat
kulit. Aku sudah melepas jaket redaktur sejak tadi dan menggantungkannya di
salah satu ranting pohon.
Seorang panitia menghampiri kami, memeberi tahu waktu
yang tersisa dan urutan untuk mempersentasikan karya kami. Urutan kedua. Dan
waktu yang tersisa sebentar lagi.
“Haaah... alhamdulillah...” Begitu indah melihatnya ‘Si
manis.’ Pertempuran belum selesai. Masih ada yang harus dilakukan. Aku harus
bersiap dengan Anas tentunya juga bersama ‘Si Manis.’
“Nomor dua. MA Ummul Quro Al-Islami Putra...” Panitia
memanggil. Tempat pesertansi berada di sisi lain lapangan. Orang-orang yang
sudah selesai mulai mengelilingi. Menunggu giliran mereka untuk persentasi.
“Bismillahirrahmanirrahiim. Assalaamu’alaikum
warahmatullahi wabarakaatuh.” Orang-orang yang berada di sekitar tempat
persentasi menjawab pelan salam yang ku ucapkan. Lihatlah muridmu ustadz.
“Alhamdulillahirabbil ‘alaamiin. Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammadin wa
‘ala sayyidina muhammad. Amma ba’du. Terima kasih kepada panitia yang telah
memberikan kami waktu untuk mempersentasikan hasil karya kami. Sesuai dengan
kesepakatan kemarin, kami dibolehkan untuk mengambil dari segala aspek yang ada,
yang bersangkutan dengan salah satu pahlawan Negara Indonesia ini. raden Ajeng
Kartini.
“Kami mengambil tema Emansipasi @Islam. Adapun maksud
kami mengambil bentuk dasar wanita berhijab karena kami ingin menegaskan bahwa
HIJAB BUKANLAH PENGHALANG KEBEBASAN WANITA UNTUK BERKARYA, HIJAB BUKAN PENEKAS
KREATIFITAS WANITA, DAN HIJAB BUKANLAH PENGEKANG.” Orang-orang terdiam.
Membisu. Bagus, aku mampu menguasai keadaan.
“Justru hijab telah mengangkat kehormatan dan martabat
wanita, meninggikan derajat para wanita, dan memberikan perlindugan secara
mental kepada para wanita. Bagaimana bisa? Karena itu, kami mengulasnya dari
hasil karya tulisan kami yang berdasarkan sumber-sumber terpercaya dan benar.
Tak lupa sebab-sebab hijab dan opini tentangnya. Kami ingin menunjukan bahwa
HIAB ADALAH SIMBOL EMANSIPASI SEBENAR-BENARNYA. Terima kasih. Wallahu muwafiq
‘ala aqwaami ththariq, wassalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.”
Bersama dengan hilangnya salam di udara, tepuk tangan
langusng memeriahkan kami. Beberapa kali siulan terdengar. Segera aku menunduk,
semua urusan ini belum selesai. Sekali saja perasaan sombong itu timbul dari
hati, maka semua harapan itu hilang. Dan semuanya ku serahkan kepada mu.
Ya Allah.
*****
Hujan mengguyur bumi pertiwi, membasahi tanah kering yang
sudah beberapa hari tidak terkena air, aspal hitam pekat yang panas, dan
tumbuhan hijau yang bergoyang kegirangan. Mengusir jauh-jauh hawa panas yang
menyengat. Jam menunjukan pukul 17.50 walaupun sore hari, langit yang gelap
pekat lebih menggambarkan suasana malam hari. Ditambah beberapa kilatan yang
menyilaukan di ketinggiaan langit.
Sampai sekarang, kami baru mendapatkan 1 buah piala. Yang
lainnya belum membuahkan hasil. Aku masih menunggu takdzim juara lomba mading.
“Oke...” Pembawa acara mulai melanjutkan acara. “Lomba
selanjutnya adalah Mading..” Segera aku menuju pintu. Menyimak benar-benar, dan
mempersiapkan hati untuk hasil terburuk. “Untuk juara ketiga, diberikan
kepada... SMA PGRI 3 BOGOR.” Suara teriakan, sorak-sorai gembira terdengar
memekikkan telinga. Seseorang maju, mengambil alih posisi ketiga. “Juara kedua,
diberikan kepada... MA UMMUL QURO AL-ISLAMI PUTRA.” Reflek aku melompat
kegirangan. Aku masih tidak percaya dengan hasil yang ku dapatkan. Segera aku
mengambil posisi kedua.
“Juara pertama diberikan kepada... MA UMMUL QURO
AL-ISLAMI PUTRI.” Aku tercengang dengan pemenang juara pertama. Amay maju
sebagai perwakilan, aku hanya tersenyum dengan jempol teracung. Tak apa. Lagi
pula semua yang didapatkan hari ini akan kita persembahkan ke pesantren
tercinta.
Tanpa terasa sudah masuk waktu maghrib. Kami memutuskan
untuk melaksanakan shalat maghrib terlebih dahulu sedangkan sebagian peserta
putri tetap di panggung. Shalat diimami oleh Ustadz Abdul Rasyid. Tak lama
setelah shalat, setelah melakukan sujud syukur. April, seorang peserta putri,
dengan hujan deras membasahi tubuhnya kuyup, bicara setengah teriak.
“KITA JUARA UMUM.. KITA JUARA UMUM... CEPETAN...” Apa?
Seperti mimpi. Mendengar hal seperti itu, kami segera bangkit dari duduk dan
segera keluar dari mushalla dan menembus hujan untuk melihat kebenarannya.
Hasil ‘peperangan kami. Lomba jurnalistik pertama kali yang kami ikuti mampu
mengantarkan kamu sampai juara umum. Tanpa basa-basi lagi, segera ku ambil
handphone segera menekan nomor yang ku tuju.
“Assalaamu’alaikum? Mah.”
“Wa’alaikum salaam, iya kenapa?”
“Kita menang Mah, alhamdulillah. Kita menang juara mading
dan juga juara umum.”
“Owh alhamdulillah deh kalau begitu. Selamat ya mas.”
“Iya Mah, terima kasih.”
“Yaudah Mamah mau shalat maghrib dulu.
Wassalaamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salaam.”
Telpon ditutup. Obrolan pun berakhir. Tadi aku sempat
mendengar beberapa celoteh dari. Anak mami? Aku hanya tak ingin menjadi
seseorang yang lupa kepada siapa meminta bantuan. Sekeras apapun usaha, bila
tanpa ikhlas dan ridho kedua orang tua semua akan sia-sia.
Setelah menelpon, Ustadaz Abdul Rasyid memberikan makan
malam. Siang tadi aku tidak kebagian jatah, tetapi semua ini cukup untuk
menggantikan rasa lapar ini.
Setelah makan malam, kami berencana untuk pulang dengan
hasil yang begitu memuaskan dan juga membanggakan. Baru saja kami berkemas,
salah seorang dari panitia meminta kami untuk berkumpul di aula. Aku mulai
merasa ada yang salah, dan aku tahu letak kesalahan itu berada kemenangan ganda
kami di mata lomba mading. Tetapi ku coba untuk mengusir jauh-jauh prasangka
itu.
Dengan segera kami pergi ke aula dan berkumpul di sana.
Aku yang membawa piala besar itu. Simbol kemenangan perdana kami. Ku letakkan
piala itu di atas meja piala yang sekarang kosong. Kami telah mengambil tempat
masing-masing. Entah mengapa aku merasa perasaan yang aneh yang mengganjal di
hati.
Seorang laki-laki masuk dan memimpim perkumpulan. Entah
apa ini. melihat orang itu membuat ku benar-benar mendidih. “Assalaamu’alaikum.
Maaf sebelumnya sudah mengganggu waktunya. Kami meminta maaf, karena ada
sedikit kesalahan. Seharusnya, pemenang kedua mata lomba mading itu bukan...”
Aku sudah tidak mendengarkannya lagi. Emosiku terlanjur memuncak. Melewati
batasnya. Darah yang mengalir serasa mendidih, tanganku sudah terkepal keras.
Siap menghantam apapun. Aku sudah tidak mendengarkannya lagi, lebih banyak
membayangkan bila aku menghantam wajahnya dengan tangan ku sendiri, atau kursi
besi yang terjajar rapih.
“... Tunggu sebentar.” Saat dia pergi, menghilang dari
balik pintu. Tangan yang sudah terkepal keras ini pun akhirnya menghantam kursi
kosong yang berada di sampingku, dan pergi meninggalkan perkumpulan. Di pintu
masuk Aku bertemu dengan orang-orang yang menggugat kemenangan kami. Pandangan
mereka begitu meremehkan. Aku berhenti sejenak di hadapan mereka. Dua orang
perempuan dan seorang laki-laki. Tinggi dna berkaca mata. Ku tanya mereka
dengan ketus, menantang laki-laki itu lalu pergi. Dia sama sekali tidak
bergeming.
Aku akan melihat keadaan ‘Si manis’ berteduh. Aku
mengelus pelan. Senyumnya yang digambarkan Habib mampu menjadi gambaran
keikhlasan dia menerima hasil yang berubah. Tetapi itu tak cukup bagi diri ini.
dan lagi, kepalan tangan ini menghantam keras tembok itu. Enam kali, cukup
untuk memuaskan hasratku sementara.
“Dia begitu menawan kan!?” Habib menemukanku yang masih
terdiam. “Ayolah, mari pindah yang lebih nyaman untuk berbicara!?” Aku menerima
ajakannya. Pelantaran gedung itu memang cocok untuk merenung saat hujan seperti
ini.
“Sudahlah, semua ini hanya perlombaan yang akan
memberikan hasil material. Kehormatan dan kesenangan duniawi yang tak akan
abadi. Ente akan mendapatkan kebahagiaan dan kehormatan abadi kalau ente
bersabar.”
“Tentunya semua itu tidaklah mudah—“
“Siapa bilang semua itu mudah bak membalikan telapak
tangan, semua hal memanglah sulit, tetapi tidak ada yang tak mungkin.”
Aku terdiam sejenak, merenung perkataannya tadi. “Terima
kasih.”
“sama-sama.”
Setelah itu kami lebih banyak berbincang hal lain.
Mencoba memadamkan emosi yang masih berkoar di hati. “Kita mendapatkan tempat
ketiga setelah beberapa kali pertimbangan.” Anan menyusul menghampiriku. Aku
tersenyum ketir. Ya inilah hasil yang ku bawa kembali ke pondokku.
”Jangan pernah menaruh kesombongan di hati sekecil
apapun. Sekali saja kau menaruhnya dalam hati dan melekat erat, segera Allah
akan mengubah segalanya.”

Comments
Post a Comment