Ya inilah
catatan hati seorang remaja yang baru saja melakukan kesalahan yang benar-benar
telah menoreh luka dan penyesalan yang dalam di hati. Ini kali pertama bagiku
untuk merasakannya. Perasaan yang sungguh membuncah segalanya.
Sekakan ingin
segera mengyaunkan pisau ke arah mana pun. Membabi buta semua yang ada di
hadapanku. Menghancurkan segala yang ada di menjado target mataku.
Apakah semua ini
sia-sia? Mungkin tidak. Aku menyesal karena telah mengatakan hal seperti itu
kepadamu, di samping itu aku merasa lega karena sudah tak lagi terperangkap
oleh semua kegundahan dan pertanyaan-pertanyaan yang selalu saja menghantui
langit-langit kamar ku sebelum tidur. Membuat aku selalu berharap dan berangan
agar kau selalu ada di sampingku.
Nyatanya? Sekarang
ku hanya terpuruk di pojokan kamar, meringis kesakitan dengan hati yang luka
ini. Ini bukan salah siapa-siapa. Ini salahku, karena aku yang terlalu
membiarkan harapan dan angan ini merambat hati. Bak benalu yang menempel di
pepohonan rindang. Merugikan. Sedikit demi sedikit mengikis semua kegembiraan
dan keceriaan. Aku hanya dapat termenung menatap langit kosong, berharap
bintang ingin berbesar hati mendengar curhat ku malam ini. Sebentar pun tak apa.
Hal terpenting bintang bersedia menemaniku sejenak.
Yah tolong,
siapa pun, temani ku sejenak. Peluk diri ini yang rengkih tak berdaya. Bimbing diri
ini yang telah jatuh tak berdaya. Terluka
dalam masa lalu, terperangkap oleh kenangan... Teman? Apa kau di sana? Bisakan kau
bimbing aku untuk mencapai garis terdepan bersama kalian. Aku, ya aku teman
kalian yang telah berbuat bodoh dengan hati, terlalu menuruti emosi dan nafsu. Sehingga
akhirnya mereka yang berhasil menjerumuskan ku pada penyesalan hati yang begitu
dalam.
Semua ini masih
tentang ku, tentang diri ini yang masih tak mampu menatap ke depan. Terlalu berat
mengangkat dagu.
Dan kau yang di
sana? Ku harap kau mau sejenak membaca tulisan ini, setidaknya kau tahu
seberapa besar aku menyesal dan seberapa aku menyangimu. Masih banyak hal yang
ingin ku lakukan untuk memperjuangkan semua ini. Masih banyak hal, tapi
sepertnya semua telah terlambat, jadi sempatkanlah dirimu sejenak menoleh ke
arah diriku yang menyedihkan ini. Bisa kah? Ku harap kau bisa dan bersedia, tak
perlu selalu ada seperti dulu, cukup kau memaafkan aku pun itu sudah cukup
untuk melepaskan semua kekesalan dan kegundahan yang bertengger di otak ini.
Hanya kau yang
sekarang ku harapkan, dan aku sadar aku bukanlah apa-apa dan siapapun di
hidupmu. Terima kasih telah memperbolehkan orang sepertiku hadir dalam hidupmu,
dan terima kasih karena kau telah bersedia untuk hadir dalam hidupku yang
menyedihkan.
Comments
Post a Comment