Skip to main content

OHN (Only Heart Note) 1


Ya inilah catatan hati seorang remaja yang baru saja melakukan kesalahan yang benar-benar telah menoreh luka dan penyesalan yang dalam di hati. Ini kali pertama bagiku untuk merasakannya. Perasaan yang sungguh membuncah segalanya.

Sekakan ingin segera mengyaunkan pisau ke arah mana pun. Membabi buta semua yang ada di hadapanku. Menghancurkan segala yang ada di menjado target mataku.

Apakah semua ini sia-sia? Mungkin tidak. Aku menyesal karena telah mengatakan hal seperti itu kepadamu, di samping itu aku merasa lega karena sudah tak lagi terperangkap oleh semua kegundahan dan pertanyaan-pertanyaan yang selalu saja menghantui langit-langit kamar ku sebelum tidur. Membuat aku selalu berharap dan berangan agar kau selalu ada di sampingku.

Nyatanya? Sekarang ku hanya terpuruk di pojokan kamar, meringis kesakitan dengan hati yang luka ini. Ini bukan salah siapa-siapa. Ini salahku, karena aku yang terlalu membiarkan harapan dan angan ini merambat hati. Bak benalu yang menempel di pepohonan rindang. Merugikan. Sedikit demi sedikit mengikis semua kegembiraan dan keceriaan. Aku hanya dapat termenung menatap langit kosong, berharap bintang ingin berbesar hati mendengar curhat ku malam ini. Sebentar pun tak apa. Hal terpenting bintang bersedia menemaniku sejenak.

Yah tolong, siapa pun, temani ku sejenak. Peluk diri ini yang rengkih tak berdaya. Bimbing diri ini yang telah jatuh tak berdaya.  Terluka dalam masa lalu, terperangkap oleh kenangan... Teman? Apa kau di sana? Bisakan kau bimbing aku untuk mencapai garis terdepan bersama kalian. Aku, ya aku teman kalian yang telah berbuat bodoh dengan hati, terlalu menuruti emosi dan nafsu. Sehingga akhirnya mereka yang berhasil menjerumuskan ku pada penyesalan hati yang begitu dalam.

Semua ini masih tentang ku, tentang diri ini yang masih tak mampu menatap ke depan. Terlalu berat mengangkat dagu.

Dan kau yang di sana? Ku harap kau mau sejenak membaca tulisan ini, setidaknya kau tahu seberapa besar aku menyesal dan seberapa aku menyangimu. Masih banyak hal yang ingin ku lakukan untuk memperjuangkan semua ini. Masih banyak hal, tapi sepertnya semua telah terlambat, jadi sempatkanlah dirimu sejenak menoleh ke arah diriku yang menyedihkan ini. Bisa kah? Ku harap kau bisa dan bersedia, tak perlu selalu ada seperti dulu, cukup kau memaafkan aku pun itu sudah cukup untuk melepaskan semua kekesalan dan kegundahan yang bertengger di otak ini.

Hanya kau yang sekarang ku harapkan, dan aku sadar aku bukanlah apa-apa dan siapapun di hidupmu. Terima kasih telah memperbolehkan orang sepertiku hadir dalam hidupmu, dan terima kasih karena kau telah bersedia untuk hadir dalam hidupku yang menyedihkan.

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.