Skip to main content

Dear You

        Yang kuharapkan untuk saat ini tidak lah lebih, hanya kau mengetahui perasaan ini yang sebenarnya. Kita memang sudah tak pernah saling berhubungan, bertukar kabar, bertanya banyak hal, berbagi cerita, dan tertawa bersama. Aku merindukan senyuman itu, senyuman yang telah mengubah segalanya bagiku. Aku merindukan keluhanmu, yang membuatku selalu peduli. Aku merindukan pertanyaan-pertanyaanmu, yang membuatku mencari dan belajar banyak.
            Kita telah sibuk dengan dunia kita sendiri. Bahkan, kau pada akhirnya telah menemukannya. Orang yang dulu pergi, orang yang kau bilang dulu telah menyakiti hatimu, orang yang dulu pernah bilang ‘Jangan pernah sebut nama dia lagi’. Ku rasa dia telah mendapatkan tempatnya kembali di hatimu.
            Tetapi ada beberapa hal yang ingin ku tanyakan. Apabila dia adalah orang yang sejak dulu kau cintai. Lalu apa maksudnya aku bilang semua kata mesra itu? Apa maksud kau bilang kalau kau merindukanku? Apa maksudmu kalau kau ingin aku di sampingmu?
            Aku sadar kesalahnku, tapi bila dibandingkan, aku tak pernah bilang kalau aku akan pergi. Akan tetapi pada kenyataannya sekarang adalah kau yang pergi meninggalkanku dan kembali padanya yang telah melukaimu. Aku tahu itu semua dulu, tapi sepertinya aku benar-benar telah kehilangan tempatku.
            Jadi, aku ucapkan, selamat. Kau telah berdamai dengan masa lalu, menemukannya yang telah hilang. Mendapatkan orang yang memang sudah ku duga sejak dulu kau memang mencintainya. Sedangkan aku? Yah, aku hanya dapat memandangmu dari kejauhan, melihatmu dari balik punggungmu. Melihatmu berjalan bersandingan bersamanya.
            Lagipula, kau sekarang terlihat lebih senang dengannya, dibandingkan denganku dulu. Aku sadar. Aku dengan segala kekuranganku. Aku dengan segala kelemahanku. Aku dengan segala kebodohanku. Aku dengan segala keburukanku. Bukanlah apa-apa dibandingkan dengannya yang penuh dengan kebaikan di matamu.
            Ada hal yang ingin sekali aku perjelas kepadamu. Kalau begitu, selama ini, aku hanyalah tempat pelarian dari kenyataan? Kalau memang begitu, tak apa. Tetapi aku percaya semua kalimat itu bukanlah kebohongan. Dan aku yakin kau tak pernah sekalipun membohongiku dengan kalimat seperti itu.
            Dan kau benar, aku lah yang salah. Aku yang terlalu termakan oleh harapan, dan hidup dalam impian, menjadikan angan sebagai tujuan. Kau yang benar dan akulah yang salah. Semua ini adalah hal sepele yang aku besar-besarkan. Jadi, silahkan berbahagialah dengan duniamu sekarang, hiraukan segala keluh kesah.
            Kemarin kau bilang, kalau kau belum bias benar-benar sayang dengan pria lain. Mungkin yang kau maksud seharusnya, kau memang tidak pernah benar-benar sayang denganku, dan pada sebenernya kau tetap menyayanginya. Iyakan? Tetapi setidaknya aku berterima kasih banyak karena kau telah mau memberikan kesempatan untuk menjadi bagian memori itu.

            Terima kasih banyak J

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.