Skip to main content

For You Too

            Ini hanyalah catatan biasa milik seorang remaja yang masih perlu banyak belajar menilai, mensyukuri, dan menjalani kehidupan. Dan ini adalah sedikit ilmu yang ku dapat dari renungan panjang yang ku lakukan.
            Kita pasti sering kali mendapatkan masalah. Entah itu masalah pribadi, keluarga, teman, rekan kerja, atau dengan atasan dan semacamnya. Dan dalam menghadapi masalah tersebut pun masing-masing memiliki cara mereka sendiri untuk menyelesaikannya. Tetapi, sekarang yang ingin ku bahas bukanlah bagaimana cara masing-masing dari kita menyikapinya tetapi kepada siapa seharusnya kita bercerita masalah kita.
            Ketika kita memiliki masalah atau hal lain yang membebani fikiran, kita (pasti) akan membutuhkan seseorang yang pantas dan terpercaya untuk mendengarkan curahan kita. Dan sering kali kita bercerita tentang sesuatu yang membebani itu ke teman, sahabat, saudara, kakak, guru, atau orang tua. Kita tahu, orang-orang yang akan kita ceritakan masalah kita adalah orang-orang yang terpercaya dan mampu menjaga rahasia kita. Tetapi, sering kali kita lupa untuk bercerita kepadanya. Mengadu kepadanya yang padahal dia lah yang membuat scenario kehidupan dan dia lah yang memiliki segala sesuatunya di alam semesta ini.

            Ya, sering kita lupa untuk mengadu kepadanya yang telah memberikan kita kehidupan. Kita sering kali mengutamakan makhluknya. Segera berlari kepada teman atau sahabat dan bercerita kepadanya tentang masalah atau hal lainnya.
            Hal ini tidak lah berlaku untuk sesuatu yang buruk, tetapi juga ketika terjadi hal yang baik atau mendapatkan sesuatu yang telah lama kita ingin-inginkan. Tak kala mendapatkannya yang pertama kali akan beritahu adalah mereka. Teman atau sahabat kita. Kita kadang (bahkan sering) kali lupa untuk bersyukur atas nikmatnya. Begitu pun ketika hal buruk yang terjadi pada kita. Seharusnya kita menjadikannya tempat pertama yang kita singgahi, orang yang pertama yang mendengarkan keluhan dan cerita kita, dan orang yang pertama kali kita mintai tolong dan jalan keluar.
            Setelahnya, baru lah kita bercerita kepada orang lain. Entah itu teman, sahabat, kerabat, atau orang tua. Karena mungkin jawaban yang kita cari akan kita dapati ketika kita meminta pendapat kepada orang lain. Tiada yang tahu dari mana dan dari siapa kita akan mendapatkan jawaban atas segala pertanyaan hati kita, seperti kita tidak akan tahu dari mana dan dari siapa pula kita akan mendapatkan rizki. Atau, seperti kita tidak tahu kapan maut akan menjemput.
            Selalu akan ada kesempatan untuk merubah kebiasaan untuk mendahului makhluknya disbanding sang pencipta. Masih ada waktu, dan akan selalu ada.
            Dan kupikir ini adalah hal yang berguna untukmu, ya untukmu yang tengah berada dalam kebimbangan dan kegundahan karena mereka yang membuatmu terganggu. Tapi percayalah, hal yang sekarang kau lalui adalah satu dari berbagai macam ujian yang akan kau lewati untuk menguatkan dirimu agar kau tak lagi menoleh ke belakang, bahkan kembali ke sana.

            Maaf kan aku yang mungkin mengganggumu dengan ini, tetapi ketahuilah, aku melakukan ini karena aku peduli dan aku hanya menginginkan hal yang terbaik untukmu.

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.