Ini hanyalah catatan biasa milik
seorang remaja yang masih perlu banyak belajar menilai, mensyukuri, dan
menjalani kehidupan. Dan ini adalah sedikit ilmu yang ku dapat dari renungan
panjang yang ku lakukan.
Kita pasti sering kali mendapatkan
masalah. Entah itu masalah pribadi, keluarga, teman, rekan kerja, atau dengan
atasan dan semacamnya. Dan dalam menghadapi masalah tersebut pun masing-masing
memiliki cara mereka sendiri untuk menyelesaikannya. Tetapi, sekarang yang
ingin ku bahas bukanlah bagaimana cara masing-masing dari kita menyikapinya
tetapi kepada siapa seharusnya kita bercerita masalah kita.
Ketika kita memiliki masalah atau
hal lain yang membebani fikiran, kita (pasti) akan membutuhkan seseorang yang
pantas dan terpercaya untuk mendengarkan curahan kita. Dan sering kali kita
bercerita tentang sesuatu yang membebani itu ke teman, sahabat, saudara, kakak,
guru, atau orang tua. Kita tahu, orang-orang yang akan kita ceritakan masalah
kita adalah orang-orang yang terpercaya dan mampu menjaga rahasia kita. Tetapi,
sering kali kita lupa untuk bercerita kepadanya. Mengadu kepadanya yang padahal
dia lah yang membuat scenario kehidupan dan dia lah yang memiliki segala
sesuatunya di alam semesta ini.
Ya, sering kita lupa untuk mengadu
kepadanya yang telah memberikan kita kehidupan. Kita sering kali mengutamakan
makhluknya. Segera berlari kepada teman atau sahabat dan bercerita kepadanya
tentang masalah atau hal lainnya.
Hal ini tidak lah berlaku untuk
sesuatu yang buruk, tetapi juga ketika terjadi hal yang baik atau mendapatkan
sesuatu yang telah lama kita ingin-inginkan. Tak kala mendapatkannya yang
pertama kali akan beritahu adalah mereka. Teman atau sahabat kita. Kita kadang
(bahkan sering) kali lupa untuk bersyukur atas nikmatnya. Begitu pun ketika hal
buruk yang terjadi pada kita. Seharusnya kita menjadikannya tempat pertama yang
kita singgahi, orang yang pertama yang mendengarkan keluhan dan cerita kita,
dan orang yang pertama kali kita mintai tolong dan jalan keluar.
Setelahnya, baru lah kita bercerita
kepada orang lain. Entah itu teman, sahabat, kerabat, atau orang tua. Karena mungkin
jawaban yang kita cari akan kita dapati ketika kita meminta pendapat kepada
orang lain. Tiada yang tahu dari mana dan dari siapa kita akan mendapatkan
jawaban atas segala pertanyaan hati kita, seperti kita tidak akan tahu dari
mana dan dari siapa pula kita akan mendapatkan rizki. Atau, seperti kita tidak
tahu kapan maut akan menjemput.
Selalu akan ada kesempatan untuk
merubah kebiasaan untuk mendahului makhluknya disbanding sang pencipta. Masih ada
waktu, dan akan selalu ada.
Dan kupikir ini adalah hal yang
berguna untukmu, ya untukmu yang tengah berada dalam kebimbangan dan kegundahan
karena mereka yang membuatmu terganggu. Tapi percayalah, hal yang sekarang kau
lalui adalah satu dari berbagai macam ujian yang akan kau lewati untuk
menguatkan dirimu agar kau tak lagi menoleh ke belakang, bahkan kembali ke
sana.
Maaf kan aku yang mungkin
mengganggumu dengan ini, tetapi ketahuilah, aku melakukan ini karena aku peduli
dan aku hanya menginginkan hal yang terbaik untukmu.
Comments
Post a Comment