Skip to main content

Bring Back Our Hospitality!!!

Indonesia, Negara kepulauan yang penuh begitu dengan kekayaan alam yang melimpah luas dan juga yang begitu terkenal dengan budaya ramah tamah yang mendunia. Namun, entah mengapa semakin lama keramahtamahan tersebut semakin terkikis oleh perasaan arogan yang tidak diketahui apa alasannya mulai merasuki ke diri masing-masing dari penduduknya. Tidak hanya keramahtamahan, tetapi jiwa toleransi yang juga termasuk dalam pencitraan Negara berdaulat ini mulai memudar. Entah itu toleransi antar agama atau suku.
    Tentunya pesona keramahtamahan Indonesia bukan lah sebuah omong kosong belaka, bahkan cerita dongeng yang diceritakan oleh guru-guru SD dulu. Semua itu adalah fakta dan tak terbantahkan. Bagaimana tidak? Selama 3.5 abad kita terjajah oleh bangsa Belanda tanpa mampu berbuat apa-apa. Hingga pada akhirnya kita semua saling bersatu, menyatukan kekuatan, tekad, dan semangat untuk mengambil hak kita untuk merdeka.
Namun sayang, semua perjuangan para pahlawan yang tidak hanya memperjuangkan kemerdekaan saja, tetapi secara tidak langsung juga memperjuangkan moral seakan tidak lah berarti. Apa bukti nyata kalao keramahtamahan yang ada di Indonesia telah memudar? Kita adalah manusia yang oleh Allah Swt diciptakan untuk hidup saling berdampingan. Dan tentunya kita tak akan pernah bisa di tanah-Nya sendirian. Maka kita pasti akan membutuhkan antara satu dengan lainnya. Contoh kecilnya adalah, kita pasti sering pergi ke warung atau toko kecil untuk membeli. Hal kecil yang namun terlupakan.
Terima kasih.
Satu kata yang termasuk adalah salah satu dalam ciri keramahtamahan kita sebagai orang Indonesia. Yang sedikit banyaknya mulai terkikis oleh perasaan arogan yang entah dari mana datangnya dan dibawa oleh siapa.
Tetapi ada hal lain juga yang perlu dikoreksi dari rumusan masalah ini, yaitu. Ketika semakin bertambah tinggi jabatan seseorang, beriringan waktu rasa toleransi itu akan mulai memudar pula.
Lalu apa yang dapat dilakukan untuk mengembalikan keramahtamahan kita yang hampir hilang itu? Apabila kita membicarakan tentang keramahtamahan maka tidak akan pernah luput dari senyum.
Senyuman adalah langkah awal dalam beramah tamah. Logikanya, seseorang akan dianggap ramah ketika dia mudah dalam tersenyum. Dan tidak mungkin seseorang yang selalu memasang wajah sedih akan dianggap sebagai orang yang ramah sedangkan dia tak pernah memberikan senyumannya.
Dari hal kecil tersebut yang harus kita mulai biasakan. Tidak hanya ketika kita bertemu dengan orang yang kita kenal tetapi juga dengan orang yang kita temui di mana pun dan siapa pun. Bahkan, anak-anak jalanan dan mereka yang kurang beruntung dalam hidup mereka. Kita tidak akan pernah tahu, dampak apa yang akan terjadi pada mereka yang mendapatkan senyuman ikhlas dari kita.
“Senyumanmu di wajah saudaramu adalah sedekah.” (HR. At-Tirmidzi no. 1956 dishahihkan Asy-Syaikh Albani dalam Shahuh Sunan At-Tirmidzi dan Ash-Shahihah np. 572)
Dari hadits di atas begitu jelas kalau agama tidak hanya memerintahkan kita untuk melakukan ritual ibadah. Tetapi agama pun mengajarkan kita untuk bersikap baik pada keseharian kita.
Lalu tunggu apa lagi? Mari kita menjadi orang-orang yang selalu tersenyum dan bertegur sapa dengan yang lainnya. Mari kita lestarikan keramahtamahan yang telah mencadi citra dari Negara kita tercinta. Mari kita tumbuhkan kembali perasaan saling peduli antara satu sama lain. Karena dengan mencoba untuk selalu tersenyum akan menjadi langkah awal yang baik untuk memulai hal baik lainnya.

Semoga tulisan ini mampu menjadi pacuan yang cukup untuk masing-masing dari kita untuk memulai tersenyum tanpa ada alasan. Hanya tersenyum karena kita mau.

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.