Indonesia,
Negara kepulauan yang penuh begitu dengan kekayaan alam yang melimpah luas dan juga yang
begitu terkenal dengan budaya ramah tamah yang mendunia. Namun, entah mengapa
semakin lama keramahtamahan tersebut semakin terkikis oleh perasaan arogan yang
tidak diketahui apa alasannya mulai merasuki ke diri masing-masing dari
penduduknya. Tidak hanya keramahtamahan, tetapi jiwa toleransi yang juga
termasuk dalam pencitraan Negara berdaulat ini mulai memudar. Entah itu
toleransi antar agama atau suku.
Tentunya
pesona keramahtamahan Indonesia bukan lah sebuah omong kosong belaka, bahkan
cerita dongeng yang diceritakan oleh guru-guru SD dulu. Semua itu adalah fakta
dan tak terbantahkan. Bagaimana tidak? Selama 3.5 abad kita terjajah oleh
bangsa Belanda tanpa mampu berbuat apa-apa. Hingga pada akhirnya kita semua
saling bersatu, menyatukan kekuatan, tekad, dan semangat untuk mengambil hak
kita untuk merdeka.
Namun
sayang, semua perjuangan para pahlawan yang tidak hanya memperjuangkan
kemerdekaan saja, tetapi secara tidak langsung juga memperjuangkan moral seakan
tidak lah berarti. Apa bukti nyata kalao keramahtamahan yang ada di Indonesia
telah memudar? Kita adalah manusia yang oleh Allah Swt diciptakan untuk hidup
saling berdampingan. Dan tentunya kita tak akan pernah bisa di tanah-Nya
sendirian. Maka kita pasti akan membutuhkan antara satu dengan lainnya. Contoh kecilnya
adalah, kita pasti sering pergi ke warung atau toko kecil untuk membeli. Hal kecil
yang namun terlupakan.
Terima
kasih.
Satu
kata yang termasuk adalah salah satu dalam ciri keramahtamahan kita sebagai
orang Indonesia. Yang sedikit banyaknya mulai terkikis oleh perasaan arogan
yang entah dari mana datangnya dan dibawa oleh siapa.
Tetapi
ada hal lain juga yang perlu dikoreksi dari rumusan masalah ini, yaitu. Ketika
semakin bertambah tinggi jabatan seseorang, beriringan waktu rasa toleransi itu
akan mulai memudar pula.
Lalu
apa yang dapat dilakukan untuk mengembalikan keramahtamahan kita yang hampir
hilang itu? Apabila kita membicarakan tentang keramahtamahan maka tidak akan
pernah luput dari senyum.
Senyuman
adalah langkah awal dalam beramah tamah. Logikanya, seseorang akan dianggap
ramah ketika dia mudah dalam tersenyum. Dan tidak mungkin seseorang yang selalu
memasang wajah sedih akan dianggap sebagai orang yang ramah sedangkan dia tak
pernah memberikan senyumannya.
Dari
hal kecil tersebut yang harus kita mulai biasakan. Tidak hanya ketika kita
bertemu dengan orang yang kita kenal tetapi juga dengan orang yang kita temui
di mana pun dan siapa pun. Bahkan, anak-anak jalanan dan mereka yang kurang
beruntung dalam hidup mereka. Kita tidak akan pernah tahu, dampak apa yang akan
terjadi pada mereka yang mendapatkan senyuman ikhlas dari kita.
“Senyumanmu
di wajah saudaramu adalah sedekah.” (HR. At-Tirmidzi no. 1956 dishahihkan
Asy-Syaikh Albani dalam Shahuh Sunan At-Tirmidzi dan Ash-Shahihah np. 572)
Dari
hadits di atas begitu jelas kalau agama tidak hanya memerintahkan kita untuk
melakukan ritual ibadah. Tetapi agama pun mengajarkan kita untuk bersikap baik
pada keseharian kita.
Lalu
tunggu apa lagi? Mari kita menjadi orang-orang yang selalu tersenyum dan
bertegur sapa dengan yang lainnya. Mari kita lestarikan keramahtamahan yang
telah mencadi citra dari Negara kita tercinta. Mari kita tumbuhkan kembali
perasaan saling peduli antara satu sama lain. Karena dengan mencoba untuk
selalu tersenyum akan menjadi langkah awal yang baik untuk memulai hal baik
lainnya.
Semoga
tulisan ini mampu menjadi pacuan yang cukup untuk masing-masing dari kita untuk
memulai tersenyum tanpa ada alasan. Hanya tersenyum karena kita mau.
Comments
Post a Comment