Skip to main content

Selamat Pagi Rindu (Chpt. 1)


Selamat pagi rindu...
Begitulah rutinititas ku untuk memulai hari. Menyemangati diri sendiri saat ku mulai merindukanmu. Kau yang tidak lagi ada disisiku. Kau yang mulai pergi menjauh. Kau yang membuat diri ini tenang ketika bersamamu. Kau yang selalu ada dan membuatku semangat untuk menjalani hari. Namun sekarang aku tak lagi bisa merasakannya.
Jika aku diberikan kesempatan untuk bertemu dengan mu lagi. Bolehkah ku memelukmu untuk melepaskan  rindu yang amat menyiksa ini? Tidak adakah rasa rindu pada dirimu? Entah sampai kapan aku terus memendam semua ini. Rindu yang tidak bisa ku bagikan pada siapapun termasuk dirimu.
Saat mereka bilang berhenti mengharapkan dan memikirkanmu, justru hati enggan untuk berhenti dan terus memikirkan mu. Apakah aku sangat merindu?
Sampai saat ini, aku tak mengerti apa itu rindu. Kata orang, rindu itu amat menyiksa, membuat segalanya menjadi semakin runyam, dan rindu adalah sebuah kata yang hanya di peruntukkan bagi mereka yang benar-benar tulus mencintai seseorang.  Dan itulah  yang aku rasakan. Mungkin memang benar bahwa aku amat sangat merindukanmu.
“Hai!" Sapa seseorang, menghentikanku dari lamunan. Saat ini aku berada di perpustakaan kampus. Salah satu tempat favoritku yang setiap hari tidak pernah absen dari daftar kunjungan. Hanya ditempat ini aku mendapat ketenangan. Namun semakin tenang suasana perpustakaan, membuatku makin teringat akan tentangnya. Saat ini aku hanya mencari wifi gratis. Aku bukanlah orang yang terbilang rajin dalam belajar. Belajar adalah sesuatu yang membosankan. Terlebih jika matakuliah yang abstrak. Membuatku semakin enggan untuk melakukannya.
Aku memiliki dua orang hebat. Hanya mereka lah yang membuat ku semangat untuk terus berangkat ke kampus. Sani dan Ila. Mereka sangat bertolak belakang dengan diriku. Ila, si kutu buku, dia menerima IPK paling tinggi dibanding kita bertiga. Tapi Ila juga anak yang tergolong pelit. Kalau Tika dia anak nya baik setidaknya dia anak yang rajin dibandingkan denganku.
Aku paling sering menghabiskan waktu di perpustakaan bersama Ila. Dia fokus membaca buku dan mengerjakan tugas, dan aku? Asik dengan smartphone ku.
"Ila” kupanggil dia yang sedang membaca.
“Hmm... ” Jawabnya. Dan masih berfokus pada tugasnya.
“Menurut lo..”
“Rizky?” Aku hanya tersenyum lebar.
“Udahlah.. Ngapain sih lo mikirin dia terus” Ocehnya sambil menatap sinis
“Tapi kan, La”
“Tapi apa? Dia juga belom tentu mikirin lo. Buang-buang waktu tau ga!! Lo ngabisin waktu lo Cuma buat mikirin dia” bentaknya.
Semua orang mulai memperhatikanku dan Ila. Pemandangan seperti ini hampir berlansung setiap hari. Aku yang selalu meminta saran dan dia yang selalu membentakku seperti itu.
“Gua kangen Rizky, La.”
“Temuin lah” Singkatnya
“Chatt gue aja ga dibales, apalagi ketemu.”
Dia  menutup bukunya. Memperbaiki posisinya dan mulai menatap serius.
“Gini ya, lo udah tau chat lo ga akan dibales, dan lo masih berharap sama dia? Masih mencari jawaban yang jelas padahal hati lo tau jawaban nya apa!?"
“Gak tau, La”
Ila meraih pundak ku, lalu menghadapkan tubuhku padanya.
“Kalau memang lo kangen sama dia, temuin! Rindu itu bukan hal yang buruk, tapi dengan semua hal ini, rindu itu menyakiti sahabat gua."
Aku hanya diam.
“Lo punya temen yang satu kampus sama dia. Satu jurusan sama dia. Mintalah bantuan dia!”
“Tapi dia senior nya Rizky, La! Terlebih kita hanya saling kenal.”
Ila terlihat sedang berfikir
“Lo tau kan!? Waktu gua masih berhubungan sama dia aja,  dia gak mau nemuin gua." Jelasku
“Nah, lo udah tau dia gak mau nemuin lo, gak bales chat lo! Dan lo masih ngarepin dia? Lo bodoh atau gimana sih?!” lagi, Ila membentakku dan membuat orang seisi perpustakaan mulai tidak nyaman
“La, kayanya kita harus pindah tempat. Sebelum kita diusir." Pintaku sambil melirik sekitaran perpustakaan.
“Lo aja, Gua masih mau belajar disini." Jawabnya ketus, dan kembali mengerjakan tugasnya.
"Laaaaaaa!”
Percuma saja, dia akan tetap seperti itu.
Akhirnya Aku pun meninggalkan perpustakaan dan pamit untuk pulang. Di koridor Aku bertemu dengan Tika.
“Tika!!!!”
“Eh, abis darimana?”
“Abis dari perpus, lo sendiri?”
“Gua abis bimbingan nih. Si Ila masih diperpus?”
“Masih kok.”
“Terus lo kenapa balik? Abis dibentak Ila yah!? Haha.” ledek Tika yang tau apa yang terjadi.
“Lagian yah, lo juga sih. Ngapain masih ngejar si Rizky”
“Berisik lo! Udah lah gua mau balik! Bye.”
“Yee... Hati-hati deh.”
Pada dasarnya mereka bukan tidak peduli denganku, siapa yang tidak lelah dengan keluhan yang sama setiap harinya. Mereka pun sudah cukup berbicara banyak soal ini, pada dasarnya memang ada yang salah pada diriku. Yang tidak pernah benar-benar peduli dengan nasihat mereka. Sebenarnya apa yang aku takutkan? Apa aku takut untuk benar-benar sendiri tanpa ada hubungan? Atau aku takut dan tak siap untuk melupakan semua kenangan manis itu? Entah lah, saat ini Aku hanya ingin berjuang untuk memperbaiki semua nya.
Sesampainya di rumah, smartphone ku berbunyi. Sebuah pesan masuk. Pesan itu dari kakak kelas SMA ku yang satu kampus dengan Rizky.
"Besok gua kosong, dan lo bisa mampir ke kampus."  Tulisnya.
Aku sangat senang. Karena sudah sangat lama aku tidak pernah ke kampusnya.
"Oke! Besok gua sana."  Balasku.
Ku berharap kali ini kita bisa bertemu kembali. Jika kita bertemu nanti, apakah aku akan berani memelukmu? Atau malah, aku akan meneteskan air mata? Ketika senang, kesal, terharu, rindu dan sedih bercampur menjadi satu.
Semoga saja hati ini siap untuk berjumpa kembali. Siap untuk tersenyum, siap untuk kuat. Karena bagaimanakah, aku tidak mau menunjukkan bagaimana perasaanku saat ini.
Aku sangat ingin bertemu denganmu. Setidaknya Aku bisa melihat bagaimana perasaanmu setelahnya.
Esok hari yang sangat ku nantikan. Berharap waktu bisa cepat berlalu agar penantian ini tidak berlangsung lama.

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.