Selamat pagi rindu...
Begitulah rutinititas ku untuk memulai hari. Menyemangati diri
sendiri saat ku mulai merindukanmu. Kau yang tidak lagi ada disisiku. Kau yang
mulai pergi menjauh. Kau yang membuat diri ini tenang ketika
bersamamu. Kau yang selalu ada dan membuatku semangat
untuk menjalani hari. Namun sekarang aku
tak lagi bisa merasakannya.
Jika aku diberikan kesempatan untuk
bertemu dengan mu lagi. Bolehkah ku memelukmu untuk melepaskan rindu yang
amat menyiksa ini? Tidak adakah rasa rindu pada dirimu? Entah sampai kapan aku terus memendam semua ini. Rindu
yang tidak bisa ku bagikan pada siapapun termasuk dirimu.
Saat mereka bilang berhenti mengharapkan dan
memikirkanmu, justru hati enggan untuk berhenti dan terus
memikirkan mu. Apakah aku sangat merindu?
Sampai saat ini, aku tak mengerti apa itu rindu. Kata orang, rindu itu amat menyiksa, membuat
segalanya menjadi semakin runyam,
dan rindu adalah sebuah kata yang hanya di peruntukkan
bagi mereka yang benar-benar tulus mencintai seseorang. Dan itulah yang aku rasakan. Mungkin memang
benar bahwa aku amat sangat merindukanmu.
“Hai!" Sapa seseorang, menghentikanku dari
lamunan. Saat ini aku berada di perpustakaan kampus. Salah satu tempat favoritku yang setiap hari tidak
pernah absen dari daftar
kunjungan. Hanya ditempat ini aku mendapat ketenangan. Namun semakin tenang
suasana perpustakaan, membuatku makin teringat akan tentangnya. Saat ini aku hanya mencari wifi gratis. Aku
bukanlah orang yang terbilang rajin dalam belajar. Belajar adalah sesuatu yang membosankan.
Terlebih jika matakuliah yang abstrak. Membuatku semakin enggan untuk melakukannya.
Aku memiliki dua orang hebat. Hanya
mereka lah yang membuat ku semangat untuk terus berangkat ke kampus. Sani dan Ila. Mereka sangat bertolak belakang
dengan diriku. Ila, si kutu buku, dia menerima IPK paling
tinggi dibanding kita bertiga. Tapi Ila
juga anak yang tergolong pelit. Kalau Tika dia anak nya baik setidaknya dia
anak yang rajin dibandingkan denganku.
Aku paling sering menghabiskan waktu
di perpustakaan bersama Ila. Dia
fokus membaca buku dan mengerjakan tugas, dan
aku? Asik dengan smartphone ku.
"Ila” kupanggil dia yang
sedang membaca.
“Hmm... ” Jawabnya.
Dan masih berfokus pada tugasnya.
“Menurut lo..”
“Rizky?” Aku hanya tersenyum lebar.
“Udahlah.. Ngapain sih lo mikirin dia terus” Ocehnya sambil menatap sinis
“Tapi kan, La”
“Tapi apa? Dia juga belom tentu
mikirin lo. Buang-buang waktu tau ga!! Lo ngabisin waktu lo Cuma buat mikirin
dia” bentaknya.
Semua orang mulai memperhatikanku dan Ila. Pemandangan seperti ini hampir
berlansung setiap hari. Aku yang selalu meminta saran dan dia yang
selalu membentakku seperti itu.
“Gua kangen Rizky, La.”
“Temuin lah” Singkatnya
“Chatt gue aja ga dibales, apalagi ketemu.”
Dia menutup bukunya. Memperbaiki posisinya dan mulai
menatap serius.
“Gini ya, lo udah tau chat lo ga akan dibales, dan lo masih berharap sama dia? Masih mencari jawaban yang jelas
padahal hati lo tau jawaban nya apa!?"
“Gak tau, La”
Ila meraih pundak ku, lalu
menghadapkan tubuhku padanya.
“Kalau memang lo kangen sama dia, temuin! Rindu itu bukan hal yang buruk, tapi
dengan semua hal ini, rindu itu menyakiti sahabat gua."
Aku hanya diam.
“Lo punya temen yang satu kampus sama dia. Satu jurusan sama dia. Mintalah bantuan dia!”
“Tapi dia senior nya Rizky, La! Terlebih kita hanya saling kenal.”
Ila terlihat sedang berfikir
“Lo tau kan!? Waktu gua masih berhubungan sama dia aja, dia gak mau nemuin gua." Jelasku
“Nah, lo udah tau dia gak mau nemuin lo, gak bales chat lo! Dan lo masih ngarepin
dia? Lo bodoh atau gimana sih?!” lagi, Ila membentakku
dan membuat orang seisi perpustakaan mulai tidak nyaman
“La, kayanya kita harus pindah tempat.
Sebelum kita diusir." Pintaku sambil
melirik sekitaran perpustakaan.
“Lo aja, Gua masih mau belajar disini."
Jawabnya ketus, dan kembali mengerjakan tugasnya.
"Laaaaaaa!”
Percuma saja, dia akan tetap
seperti itu.
Akhirnya Aku pun meninggalkan perpustakaan dan pamit untuk pulang. Di koridor Aku bertemu dengan Tika.
“Tika!!!!”
“Eh, abis darimana?”
“Abis dari perpus, lo sendiri?”
“Gua abis bimbingan nih. Si Ila masih diperpus?”
“Masih kok.”
“Terus lo kenapa balik? Abis dibentak Ila yah!?
Haha.” ledek Tika yang tau apa yang terjadi.
“Lagian yah, lo juga
sih. Ngapain masih ngejar si Rizky”
“Berisik lo! Udah lah gua mau
balik! Bye.”
“Yee... Hati-hati deh.”
Pada dasarnya mereka bukan tidak
peduli denganku, siapa yang tidak lelah dengan keluhan yang sama setiap
harinya. Mereka pun sudah cukup berbicara banyak soal ini, pada dasarnya memang
ada yang salah pada diriku. Yang tidak pernah benar-benar peduli dengan nasihat
mereka. Sebenarnya apa yang aku takutkan? Apa aku takut untuk benar-benar
sendiri tanpa ada hubungan? Atau aku takut dan tak siap untuk melupakan semua
kenangan manis itu? Entah lah, saat ini Aku hanya ingin berjuang untuk
memperbaiki semua nya.
Sesampainya di rumah, smartphone ku
berbunyi. Sebuah pesan masuk. Pesan itu dari kakak kelas SMA ku yang satu kampus dengan Rizky.
"Besok gua kosong, dan lo bisa mampir ke kampus." Tulisnya.
Aku sangat senang. Karena sudah
sangat lama aku tidak pernah ke kampusnya.
"Oke! Besok gua sana." Balasku.
Ku berharap kali ini kita bisa
bertemu kembali. Jika kita
bertemu nanti, apakah aku akan
berani memelukmu? Atau malah, aku
akan meneteskan air mata? Ketika senang, kesal, terharu, rindu dan sedih bercampur
menjadi satu.
Semoga saja hati ini siap untuk berjumpa kembali. Siap untuk tersenyum, siap
untuk kuat. Karena bagaimanakah, aku tidak mau menunjukkan bagaimana
perasaanku saat ini.
Aku sangat ingin bertemu denganmu.
Setidaknya Aku bisa melihat bagaimana perasaanmu setelahnya.
Esok hari yang sangat ku nantikan.
Berharap waktu bisa cepat berlalu agar penantian ini tidak berlangsung lama.
Comments
Post a Comment