Skip to main content

Teduhkan Rindu


Hai, apa kabarmu? Sebelumnya terima kasih atas waktu yang sudah kau luangkan untuk beberapa hari yang lalu. Aku menikmati semuanya tanpa terkecuali. Tanpa hal sedikit hal kecil yang aku lewatkan. Lagi pula, bagaimana bisa aku melewati semua kesenangan itu, bukan? Ahh iyah, semoga kesenangan itu tidak hanya aku yang merasakannya. Setidaknya, kebahagiaan ketika bertemu semoga kau turut merasakannya.

Semua itu mungkin sudah sedikit lama berlalu, tapi masih begitu berbekas bagiku. Kau tau? Untuk setiap senyum yang merekah. Untuk setiap tawa yang kau berikan. Untuk setiap pandangan yang tertarik ketika kubercerita. Semua itu sempurna menjadi waktu yang bergerak dengan cepat. Namun hal itu sudah lebih dari cukup. Untuk pertemuan yang selanjutnya, akan selalu menjadi hal yang dinantikan. Setidaknya seperti itu lah gambaran perasaanku.
Namun, bagaimana denganmu? Apa kau merasakan hal yang sama denganku? Apa kau menantikan pertemuan kita yang selanjutnya?
Aku tidak akan memintamu untuk merasakan hal yang sama denganku, kalau memang ‘ya’ itu akan sangat berarti banyak bagiku, kalau pun tidak cukup simpan dalam diri dan biarkan aku menikmati setiap kesempatan pertemuan itu. Biarkan aku menikmati setiap indah senyum yang terpatri di sela-sela malam.
Aku selalu berpikir. Tidak, lebih tepatnya aku selalu mencoba sadar akan diri. Aku adalah bagian dari sebuah masa lalu yang lantas mencoba kembali masuk ke dalam hidupmu. Sempat kuberpikir, apa kembali dalam hadirmu adalah keputusan yang tepat? Bagaimana kalau pada akhirnya semua itu kembali terulang. Tidak, bahkan bagaimana kalau pada akhirnya kau lebih memilih dengan orang baru tersebut. Walau pun pada sepotong kisah dulu tersebut sama sekali tidak ada yang dimulai. Masing-masing dari kita menyerah tanpa penjelasan. Kau menyerah pada pengharapan. Dan aku menyerah mencari kebenaran.
Dan saat ini, aku hanya perlu melakukan yang perlu dilakukan. Untuk tidak membiarkanmu kembali pergi meninggalkanku dengan penuh tanya. Lantas bagaimana dengan kau? Kau hanya perlu melakukan hal yang kata hatimu katakana. Tidak jauh berbeda dengan apa yang kulakukan. Percaya dengan apa yang kau percayai. Yakin dengan hal yang kau lihat meyakinkan. Bukan aku. Atau pun dia. Tapi sebuah titik kebenaran dimana pada akhirnya semua itu membawamu berlabuh.
Malam semakin larut. Hujan pun tak kunjung reda. Seperti rindu yang tak kunjung terobati. Sebenarnya aku selalu bertanya. Apa benar rindu akan terobati dengan sebuah pertemuan? Apa benar rindu akan memudar karena sebuah pertemuan? Apa berarti rindu hanya sebatas ketika kita tak saling bersama? Lantas apa sebenarnya rindu itu? Mengapa rindu itu ada?
Ahh mengapa semua ini menjadi semakin runya. Sebenarnya mudah saja bagiku. Rindu itu kamu. Ada atau tidaknya kau. Kulihat atau tidaknya kau. Kau adalah sosok rindu itu. Tak ada obat yang dapat menyembuhkannya. Bukan berarti semua ini menyakitkan, karenanya aku menukmati semua ini dengan damai.
Semoga hujan meneduhkan sang rindu.

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.