Hai,
apa kabarmu? Sebelumnya terima kasih atas waktu yang sudah kau luangkan untuk
beberapa hari yang lalu. Aku menikmati semuanya tanpa terkecuali. Tanpa hal
sedikit hal kecil yang aku lewatkan. Lagi pula, bagaimana bisa aku melewati
semua kesenangan itu, bukan? Ahh iyah, semoga kesenangan itu tidak hanya aku
yang merasakannya. Setidaknya, kebahagiaan ketika bertemu semoga kau turut
merasakannya.
Semua
itu mungkin sudah sedikit lama berlalu, tapi masih begitu berbekas bagiku. Kau tau?
Untuk setiap senyum yang merekah. Untuk setiap tawa yang kau berikan. Untuk setiap
pandangan yang tertarik ketika kubercerita. Semua itu sempurna menjadi waktu
yang bergerak dengan cepat. Namun hal itu sudah lebih dari cukup. Untuk pertemuan
yang selanjutnya, akan selalu menjadi hal yang dinantikan. Setidaknya seperti
itu lah gambaran perasaanku.
Namun,
bagaimana denganmu? Apa kau merasakan hal yang sama denganku? Apa kau
menantikan pertemuan kita yang selanjutnya?
Aku
tidak akan memintamu untuk merasakan hal yang sama denganku, kalau memang ‘ya’
itu akan sangat berarti banyak bagiku, kalau pun tidak cukup simpan dalam diri
dan biarkan aku menikmati setiap kesempatan pertemuan itu. Biarkan aku
menikmati setiap indah senyum yang terpatri di sela-sela malam.
Aku
selalu berpikir. Tidak, lebih tepatnya aku selalu mencoba sadar akan diri. Aku adalah
bagian dari sebuah masa lalu yang lantas mencoba kembali masuk ke dalam hidupmu.
Sempat kuberpikir, apa kembali dalam hadirmu adalah keputusan yang tepat? Bagaimana
kalau pada akhirnya semua itu kembali terulang. Tidak, bahkan bagaimana kalau
pada akhirnya kau lebih memilih dengan orang baru tersebut. Walau pun pada
sepotong kisah dulu tersebut sama sekali tidak ada yang dimulai. Masing-masing
dari kita menyerah tanpa penjelasan. Kau menyerah pada pengharapan. Dan aku
menyerah mencari kebenaran.
Dan
saat ini, aku hanya perlu melakukan yang perlu dilakukan. Untuk tidak
membiarkanmu kembali pergi meninggalkanku dengan penuh tanya. Lantas bagaimana
dengan kau? Kau hanya perlu melakukan hal yang kata hatimu katakana. Tidak jauh
berbeda dengan apa yang kulakukan. Percaya dengan apa yang kau percayai. Yakin dengan
hal yang kau lihat meyakinkan. Bukan aku. Atau pun dia. Tapi sebuah titik
kebenaran dimana pada akhirnya semua itu membawamu berlabuh.
Malam
semakin larut. Hujan pun tak kunjung reda. Seperti rindu yang tak kunjung
terobati. Sebenarnya aku selalu bertanya. Apa benar rindu akan terobati dengan
sebuah pertemuan? Apa benar rindu akan memudar karena sebuah pertemuan? Apa berarti
rindu hanya sebatas ketika kita tak saling bersama? Lantas apa sebenarnya rindu
itu? Mengapa rindu itu ada?
Ahh
mengapa semua ini menjadi semakin runya. Sebenarnya mudah saja bagiku. Rindu itu
kamu. Ada atau tidaknya kau. Kulihat atau tidaknya kau. Kau adalah sosok rindu
itu. Tak ada obat yang dapat menyembuhkannya. Bukan berarti semua ini
menyakitkan, karenanya aku menukmati semua ini dengan damai.
Semoga
hujan meneduhkan sang rindu.

Comments
Post a Comment