Skip to main content

Selamat Malam



Selamat malam, bagaimana kabarmu? Semoga kau tetap sehat dan dalam lindungan-Nya. Langit saat ini benar-benar telah sepenuhnya gelap, bahkan sebelum waktunya datang. Terlalu kelam. Terlalu penuh dengan kelabu. Tidak, aku tidak akan bilang semua ini mewakili perasaanku, hanya saja kau tahu, aku sedikit merasa rindu dengan senyummu.

Dengan kesadaran penuh aku mengucapkan hal ini. Sadar tentang siapa aku dalam hidupmu, sadar dengan apa yang pernah kulakukan. Walau begitu, bolehkah aku sedikit merindukan semua itu.
Masing-masing dari kita berjalan pada jalurnya sendiri, meletakan segala harap dan asa pada sesuatu yang ada di depan kita. Atau lebih tepatnya, sesuatu yang Tuhan letakan di hadapan kita. Tidak masalah, karena begitupun denganku saat ini. Silahkan cari dirimu hingga kau benar-benar tahu mengapa kau ada di dunia ini. Demikian pun denganku, yang kulakukan hanya perlu menjadi seseorang yang layak ada di hadapanmu. Seseorang yang layak untuk setiap teduh tatapan. Seseorang yang layak untuk setiap manis senyuman.
Walau bukan itu sepenuhnya yang kumau. Aku mau suatu saat nanti melihat tangismu, meladeni kesalmu, menjadi alasan atau meredakan amarahmu. Suatu saat.
Memang tidak banyak hal yang terjadi di antara kita, bahkan aku baru sekali datang ke kotamu. Untuk kembali melihatmu. Hingga saat ini pun, aku berpikir apa semua ini benar adanya, dengan seluruh cerita yang pernah kita tinggalkan dahulu, dengan semua pertanyaan yang pernah kita tinggalkan dahulu, dengan semua keegoisan yang pernah kita tinggalkan dahulu.
Tapi siapa peduli, aku hanya perlu melakukan yang perlu kulakukan dan kau pun begitu. Sehingga suatu saat nanti, apabila kita dapat bertemu kembali. Tak ada lagi yang tertinggal, tak ada lagi penyesalan.
Aku dengan seluruh bahagiaku, akan mencoba untuk menerimamu sebagai seorang manusia.
Ohh ya... Selamat atas berhasilnya tahap akhirmu, semoga selanjutnya kau tetap semangat dan membawa semua cerita itu. Untuk suatu saat kau ceritakan kepadaku, untuk  suatu saat aku dengarkan. Sekali lagi, tak perlu kau pedulikan diriku. Kamu hanya kamu. Aku hanya aku. Kita sesama manusia yang menjalani kesehariannya bersama dengan seluruh irama Tuhan.
Kau tahu? Aku adalah orang yang pernah kehilangan angan dan ambisi. Untuk kembali bangkit memang tidak mudah. Mengejar seluruh ketertinggalan. Mengganti seluruh kegagalan. Namun bersama dengan semua itu kau datang kembali. Setidaknya aku berterima kasih atas lagu yang telah kau sarankan. Bagiku, semua itu sudah cukup untuk menggambarkanmu. Walau tidak sekompleks dirimu yang asli.
Kalau mereka bilang hidup adalah penantian. Mungkin itu benarnya, namun semua penantian itu tidak menjadikan masing-masing dari kita tetap diam tanpa melakukan apapun bukan? Ada banyak hal yang dapat kita lakukan pada masa penantian itu. Melihat keluar jendela, membiarkan angin memenuhi ruanganmu.
Dan maaf, kuletakan doa agar malammu panjang dan kau dapat beristirahat dengan tenang.
Selamat malam.


Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.