Selamat malam, bagaimana kabarmu? Semoga kau tetap sehat dan dalam
lindungan-Nya. Langit saat ini benar-benar telah sepenuhnya gelap, bahkan
sebelum waktunya datang. Terlalu kelam. Terlalu penuh dengan kelabu. Tidak, aku
tidak akan bilang semua ini mewakili perasaanku, hanya saja kau tahu, aku
sedikit merasa rindu dengan senyummu.
Dengan kesadaran penuh aku mengucapkan hal ini. Sadar tentang siapa
aku dalam hidupmu, sadar dengan apa yang pernah kulakukan. Walau begitu,
bolehkah aku sedikit merindukan semua itu.
Masing-masing dari kita berjalan pada jalurnya sendiri, meletakan
segala harap dan asa pada sesuatu yang ada di depan kita. Atau lebih tepatnya,
sesuatu yang Tuhan letakan di hadapan kita. Tidak masalah, karena begitupun
denganku saat ini. Silahkan cari dirimu hingga kau benar-benar tahu mengapa kau
ada di dunia ini. Demikian pun denganku, yang kulakukan hanya perlu menjadi
seseorang yang layak ada di hadapanmu. Seseorang yang layak untuk setiap teduh
tatapan. Seseorang yang layak untuk setiap manis senyuman.
Walau bukan itu sepenuhnya yang kumau. Aku mau suatu saat nanti
melihat tangismu, meladeni kesalmu, menjadi alasan atau meredakan amarahmu. Suatu
saat.
Memang tidak banyak hal yang terjadi di antara kita, bahkan aku
baru sekali datang ke kotamu. Untuk kembali melihatmu. Hingga saat ini pun, aku
berpikir apa semua ini benar adanya, dengan seluruh cerita yang pernah kita
tinggalkan dahulu, dengan semua pertanyaan yang pernah kita tinggalkan dahulu,
dengan semua keegoisan yang pernah kita tinggalkan dahulu.
Tapi siapa peduli, aku hanya perlu melakukan yang perlu kulakukan
dan kau pun begitu. Sehingga suatu saat nanti, apabila kita dapat bertemu
kembali. Tak ada lagi yang tertinggal, tak ada lagi penyesalan.
Aku dengan seluruh bahagiaku, akan mencoba untuk menerimamu sebagai
seorang manusia.
Ohh ya... Selamat atas berhasilnya tahap akhirmu, semoga
selanjutnya kau tetap semangat dan membawa semua cerita itu. Untuk suatu saat
kau ceritakan kepadaku, untuk suatu saat
aku dengarkan. Sekali lagi, tak perlu kau pedulikan diriku. Kamu hanya kamu. Aku
hanya aku. Kita sesama manusia yang menjalani kesehariannya bersama dengan
seluruh irama Tuhan.
Kau tahu? Aku adalah orang yang pernah kehilangan angan dan ambisi.
Untuk kembali bangkit memang tidak mudah. Mengejar seluruh ketertinggalan. Mengganti
seluruh kegagalan. Namun bersama dengan semua itu kau datang kembali. Setidaknya
aku berterima kasih atas lagu yang telah kau sarankan. Bagiku, semua itu sudah
cukup untuk menggambarkanmu. Walau tidak sekompleks dirimu yang asli.
Kalau mereka bilang hidup adalah penantian. Mungkin itu benarnya,
namun semua penantian itu tidak menjadikan masing-masing dari kita tetap diam
tanpa melakukan apapun bukan? Ada banyak hal yang dapat kita lakukan pada masa
penantian itu. Melihat keluar jendela, membiarkan angin memenuhi ruanganmu.
Dan maaf, kuletakan doa agar malammu panjang dan kau dapat
beristirahat dengan tenang.
Selamat malam.

Comments
Post a Comment