Seberapa dalam kau melihatku? Seberapa jauh
kau mengetahui diriku? Akan ada dua versi jawaban yang dapat kutebak dari dua
pertanyaan tersebut “Aku belum mengenal dirimu sebenar-benarnya” dan “Aku
tidak mengenalmu terlalu baik”. Dewasa kini, di mana drama, lagu, dan
cerita tentang romansa keindahan kisah cinta yang menggugah jiwa bertebaran dan
bahkan bisa kita comot dari sampah di jalan justru mengalihkan arti yang
sebenarnya. Beribu-ribu kata terangkai untuk menunjukkan perasaan tak
terbendung di hati, tapi tak pernah sekalipun kita berpikir tentang sesuatu
atau seseorang yang kita letakkan perasaan cinta tersebut.
Aku memandangmu tidak hanya sebagai objek dari
perasaan indah yang muncul di hati, aku melihatmu sebagai manusia. Bukan hanya sebagai
perempuan, gadis, wanita atau hal lain-lainnya. Kulucuti setiap status sosial
yang menempel pada dirimu sehingga kudapat melihatmu sebagai sebenar-benarnya
manusia. Hingga akhirnya kudapat meletakkan perasaan ini dengan baik dan
sebenar-benarnya. Tanpa meminta. Tanpa menuntut.
Tetapi kebanyakan orang mulai megnartikan kata
itu sendiri sudah berubah menjadi outputnya. Jangan salahkan mereka yang hanya
dapat mengambil secuil arti dari kata yang besar, karena informasi yang
tersedia memang sedemikian rupa adanya. Salahnya adalah mereka tidak
memerhatikan apa dan siapa yang mereka cintai itu. Hingga akhirnya muncul lah
arti cinta yang mana bergandengan tangan, memeluk satu sama lain, mengecup
hangat pipi dan kening, hingga sampai tidur bersama meski ikrar belum
terucapkan. Cinta menjadi sangat mengerikan dan amat mengancam.
Itu secara fisik, mental pun terkena dampaknya
dari pergeseran zaman yang merubah makna kata itu sendiri. Bahkan mungkin
tuntutan tuhan pun kalah dengan tuntutan dari seorang yang mencinta dan
dicintai. Kamu harus gini, kamu harus gitu. Bukankah tuhan hanya meminta kita
untuk menaati perintahnya dan menjauhi larangannya? Karenanya aku kurang setuju
dengan pembicara yang mengatakan ‘Tuhan menuntut kita...’, karena Tuhan
memang tak pernah menuntut. Dari sekian banyak bab keilmuan tentang apa yang
harus kita lakukan sebagai hamba-Nya dan apa yang mesti kita jauhi dari semua
larangan-Nya Tuhan memberikan kita kebebasan untuk memilih. Memilih taat atau
melanggarnya.
Karenanya aku tak ingin menjadi pribadi yang
muluk-muluk. Memilih untuk mensyukuri dan menikmati nikmat yang ada dan
menertawai hal buruk yang terjadi. Wong, kalau dipikirkan pun cenderung
membuat kita sedih, kenapa kita harus membuat Tuhan khawatir tentang perasaan
kita. Kalau kita memang menjadi seorang pecinta yang benar maka sudah
seharusnya kita peduli tentang perasaan yang mencintai kita, bukan?
Mudah sudah alasanku untuk memilih menaruh
perasaan kagum ini padamu. Di samping-samping embel-embel tentang nilai
kehidupan, kepribadian, pendidikan, dan agama. Aku mencintaimu karena kau
manusia.
Aku mencintaimu karena itu kamu.
Selamat pagi.
Comments
Post a Comment