Skip to main content

Waktunya Berhenti Bercerita Padamu



Selamat malam, bagaimana kabarmu? Semoga kau senantiasa sehat dan bahagia di tempatmu. Sudah seminggu lewat sejak waktu liburmu, dan nampaknya kau telah kembali untuk melanjutkan langkahmu. Merajut kembali asa yang sempat terputus untuk beberapa waktu.

Pada awal waktu liburmu aku sangat ingin bercerita tentang sesuatu kepadamu. Tentang hal yang menurutku kau perlu tahu dan benar-benar mendengarkanku. Egois memang, melihat dengan umur kita yang saat ini mulai beranjak dewasa, sudah bukan waktunya lagi aku terus bergantung padamu, pada setiap kelimat semangat dan menenangkan itu.
Sudah waktunya aku berhenti bercerita kepadamu.
Tapi, untuk kali ini saja. Semoga kau bersedia untuk membaca tulisan ini. Seminggu sempurna sudah terlewat sejak terakhir kau bilang kau telah mendapatkan waktu libur, setelah untuk waktu yang cukup lama tak bertukar kabar. Bersamaan dengan kabar itu, kukira aku dapat bernafas sedikit lega karena kau akan ada untuk mendengarkanku. Tapi akhirnya semua itu hanya menjadi inginku sendiri. Pada akhirnya semua resahku tak pernah tersampaikan kepadamu. Dan hanya sepotong kabar itu yang kuberitahukan kepadamu.
Jujur kuakui, aku kecewa denganmu yang tak bias meluangkan waktumu untukku. Bukan karena hal lain, bukankah kau yang memberitahuku kalau kau akan memiliki waktu kosong dan berjanji akan mendengarkanku. Meluangkan sedikit waktumu untukku.
Akan tetapi, setelah berpikir sedikit lebih dalam. Tidak adil rasanya kalau aku terus menerus meminta waktumu yang mana mungkin bagimu itu sedikit. Dan sejujurnya, saat ini aku tidak menyalahkanmu. Sungguh, aku menyalahkan diri sendiri atas segala hal yang terjadi hal ini. Dan semoga setelah kau membaca tulisan ini, aku meminta tolong kepadamu. Bisakah kau membantuku keluar dari lorong gelap ini? Memberiku sedikit cahaya agar aku dapat melangkah meski sedikit. Hingga aku mampu tiba di penghujung cahaya dan kembali bermandikan rasa lega.
Dari semua hal yang ingin kuceritakan, hanya ada dua hal yang perlu kau ketahui. Yang pertama, untuk beberapa waktu tenggelam dalam kesendirian, akhirnya aku kembali merasakan rindu dan indahnya menanti. Yah, menanti kabarnya, menanti balasannya, menanti waktu kosongnya. Dan, aku bias mengatakannya dengan cukup percaya diri untuk saat ini. Ternyata rindu dan menunggu tidak semenyakitkan itu.
Dia gadis yang cukup cantik, baik, dan hal terpenting lainnya, aku mendapatkan hal yang telah lama aku cari. Seseorang yang mampu mendengarkanku dengan baik, dan bersedia bertanya tentang hal yang tidak dia mengerti dari obrolan kami. Cukup menyenangkan memiliki seseorang yang mau mendengarakanmu. Terlebih, dia memberi respon pada beberapa tulisanku. Meski tak berkomentar banyak hal, tapi aku tak melihat rasa tidak tertarik dan tak ingin mengerti tentang semua itu.
Dan kau tahu? Ada hal lain darinya yang membuatku tertarik padanya. Hampir setiap hari dia bertanya ‘How was your day?’. Tidak ada yang spesial dari pertanyaan singkat itu, tapi nampaknya kita akan sedikit menemukan mereka yang menanyakan hal itu selain keluarga.
Dia sempurna membawaku pada perasaan yang sejak kemarin kusimpan.
Hal kedua. Aku berhenti melangkah. Yah, aku berhenti melangkah di jenjang perguruan tinggi. Untuk kabar ini, aku khususkan bersama dengan perminta maafku. Kau sempat memintaku untuk menjadi seorang pengajar di perguruan tinggi negeri agar aku dapat mebantumu mencapai tempat tertinggi di negeri ini. Karenanya aku meminta maaf, nampaknya aku tidak dapat membantumu untuk melakukan hal itu.
Tentu saja aku tidak pernah menganggap setiap potongan cerita dan mimpi yang melayang bersama kepulan asap tembakau dan kopi itu sebagai gurauan. Sama sekali tidak. Hanya saja aku sudah tidak sanggup untuk melihat dua orang terbaik bagiku di dunia ini terus kerepotan karenaku. Tak perlu bertanya bagaimana perasaan mereka ketika aku memutuskan hal ini. Perasaan kecewa terpampang jelas di wajah mereka.
Dan aku? Tentu saja menyesal dan marah. Mengapa aku bias selemah ini. Mengapa aku bisa semudah ini terjatuh. Mengapa aku bisa semudah ini terhenti. Tapi di balik semua hal itu, aku memutuskan dengan secara sadar.
Aku lebih siap untuk menerima kekecewaan mereka, aku siap untuk menahan semua ini dibanding rasa sakit yang kuderita di hati selama ini.
Tentu akan banyak hal lagi yang kujelaskan tapi tak akan kutulis saat ini.
Hal lain yang perlu kau tahu, nampaknya aku memilih untuk bercerita ketika kau bertanya. Dan apabila pertanyaan itu tidak pernah datang, maka aku pun tak akan pernah menceritakan semua hal ini.
Semoga langkahmu tetap kuat seperti terakhir kali aku melihatmu.
Salam untukmu.
Selamat malam.


Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.