Selamat malam, bagaimana kabarmu? Semoga kau senantiasa sehat dan
bahagia di tempatmu. Sudah seminggu lewat sejak waktu liburmu, dan nampaknya
kau telah kembali untuk melanjutkan langkahmu. Merajut kembali asa yang sempat
terputus untuk beberapa waktu.
Pada awal waktu liburmu aku sangat ingin bercerita tentang sesuatu
kepadamu. Tentang hal yang menurutku kau perlu tahu dan benar-benar
mendengarkanku. Egois memang, melihat dengan umur kita yang saat ini mulai
beranjak dewasa, sudah bukan waktunya lagi aku terus bergantung padamu, pada
setiap kelimat semangat dan menenangkan itu.
Sudah waktunya aku berhenti bercerita kepadamu.
Tapi, untuk kali ini saja. Semoga kau bersedia untuk membaca
tulisan ini. Seminggu sempurna sudah terlewat sejak terakhir kau bilang kau telah
mendapatkan waktu libur, setelah untuk waktu yang cukup lama tak bertukar
kabar. Bersamaan dengan kabar itu, kukira aku dapat bernafas sedikit lega
karena kau akan ada untuk mendengarkanku. Tapi akhirnya semua itu hanya menjadi
inginku sendiri. Pada akhirnya semua resahku tak pernah tersampaikan kepadamu. Dan
hanya sepotong kabar itu yang kuberitahukan kepadamu.
Jujur kuakui, aku kecewa denganmu yang tak bias meluangkan waktumu
untukku. Bukan karena hal lain, bukankah kau yang memberitahuku kalau kau akan
memiliki waktu kosong dan berjanji akan mendengarkanku. Meluangkan sedikit
waktumu untukku.
Akan tetapi, setelah berpikir sedikit lebih dalam. Tidak adil
rasanya kalau aku terus menerus meminta waktumu yang mana mungkin bagimu itu
sedikit. Dan sejujurnya, saat ini aku tidak menyalahkanmu. Sungguh, aku menyalahkan
diri sendiri atas segala hal yang terjadi hal ini. Dan semoga setelah kau
membaca tulisan ini, aku meminta tolong kepadamu. Bisakah kau membantuku keluar
dari lorong gelap ini? Memberiku sedikit cahaya agar aku dapat melangkah meski
sedikit. Hingga aku mampu tiba di penghujung cahaya dan kembali bermandikan
rasa lega.
Dari semua hal yang ingin kuceritakan, hanya ada dua hal yang perlu
kau ketahui. Yang pertama, untuk beberapa waktu tenggelam dalam kesendirian,
akhirnya aku kembali merasakan rindu dan indahnya menanti. Yah, menanti
kabarnya, menanti balasannya, menanti waktu kosongnya. Dan, aku bias mengatakannya
dengan cukup percaya diri untuk saat ini. Ternyata rindu dan menunggu tidak
semenyakitkan itu.
Dia gadis yang cukup cantik, baik, dan hal terpenting lainnya, aku
mendapatkan hal yang telah lama aku cari. Seseorang yang mampu mendengarkanku
dengan baik, dan bersedia bertanya tentang hal yang tidak dia mengerti dari
obrolan kami. Cukup menyenangkan memiliki seseorang yang mau mendengarakanmu. Terlebih,
dia memberi respon pada beberapa tulisanku. Meski tak berkomentar banyak hal,
tapi aku tak melihat rasa tidak tertarik dan tak ingin mengerti tentang semua
itu.
Dan kau tahu? Ada hal lain darinya yang membuatku tertarik padanya.
Hampir setiap hari dia bertanya ‘How was your day?’. Tidak ada yang spesial
dari pertanyaan singkat itu, tapi nampaknya kita akan sedikit menemukan mereka
yang menanyakan hal itu selain keluarga.
Dia sempurna membawaku pada perasaan yang sejak kemarin kusimpan.
Hal kedua. Aku berhenti melangkah. Yah, aku berhenti melangkah di
jenjang perguruan tinggi. Untuk kabar ini, aku khususkan bersama dengan
perminta maafku. Kau sempat memintaku untuk menjadi seorang pengajar di
perguruan tinggi negeri agar aku dapat mebantumu mencapai tempat tertinggi di
negeri ini. Karenanya aku meminta maaf, nampaknya aku tidak dapat membantumu
untuk melakukan hal itu.
Tentu saja aku tidak pernah menganggap setiap potongan cerita dan
mimpi yang melayang bersama kepulan asap tembakau dan kopi itu sebagai gurauan.
Sama sekali tidak. Hanya saja aku sudah tidak sanggup untuk melihat dua orang
terbaik bagiku di dunia ini terus kerepotan karenaku. Tak perlu bertanya
bagaimana perasaan mereka ketika aku memutuskan hal ini. Perasaan kecewa
terpampang jelas di wajah mereka.
Dan aku? Tentu saja menyesal dan marah. Mengapa aku bias selemah
ini. Mengapa aku bisa semudah ini terjatuh. Mengapa aku bisa semudah ini
terhenti. Tapi di balik semua hal itu, aku memutuskan dengan secara sadar.
Aku lebih siap untuk menerima kekecewaan mereka, aku siap untuk
menahan semua ini dibanding rasa sakit yang kuderita di hati selama ini.
Tentu akan banyak hal lagi yang kujelaskan tapi tak akan kutulis
saat ini.
Hal lain yang perlu kau tahu, nampaknya aku memilih untuk bercerita
ketika kau bertanya. Dan apabila pertanyaan itu tidak pernah datang, maka aku
pun tak akan pernah menceritakan semua hal ini.
Semoga langkahmu tetap kuat seperti terakhir kali aku melihatmu.
Salam untukmu.
Selamat malam.

Comments
Post a Comment