Skip to main content

Kisah si Bunglon cantik

Bunglon. Hewan kecil dari bangsa Reptilia. Melata dan bisa merubah warna tubuhnya. Faktor alam dan lingkunganya. Seperti dirimu. Yang mulai berubah saat tersentuh dunia baru, Alam baru, Sahabat baru atau Bahkan Cinta baru.

Kenal. Kurang lebih aku mengenalmu "Baru" semenjak lulus sekolah. Saat masih di bangku SMA dulu. Entah aku atau dirimu tidak saling mengenal. Jangankan nama. Akupun tak tahu kalau kita satu sekolah. Sampai kau bercerita dimana kau bersekolah. Aku saja mungkin yang "Kuper". Sampai tidak mengenalimu saat dulu masih duduk di bangku SMA.

Bimtes. Kita berkenalan saat ada bimbingan dari sekolah untuk masuk Universitas. Entah kebetulan atau tidak. Kita masuk kedalam ke kelas yang sama. Berjalan apa adanya. Aku hanya menganggapmu teman sekelas biasa. Tanpa ditambah bumbu rasa apalagi Suka.

Lulus. Kita sama-sama memasuki Kampus yang sama. Sebuah kampus yang sudah agak tua, Di pinggiran Ibukota. Entah kebetulan atau tidak. Kita sama-sama satu Fakultas. Hanya terhalang jurusan. Bukan pergedungan. Mulai dari situ kita saling menyapa. Berbagi canda dan tawa. Suka dan duka.

Tak disangka. Tak diduga. Sang Maha Kuasa membuatku jatuh cinta. Kepada dirimu, Dengan alasan yang fana. Melihatmu bagai melihat Bidadari. Kecantikan tanpa Tapi. Keindahan yang pasti. Surga Duniawi.

Sayang. Perasaan yang Tuhan berikan. Bertepuk sebelah tangan. Kau menghianatiku tanpa perasaan. Dengan kejamnya kau menyakitiku dengan tajamnya perkataan. Apa salahku? Apa Kekuranganku? Apa?! Bukankah cinta tak memandang kekurangan? Bukankah itu sebagai bumbu pelengkap dalam dalam Kisah-kisah Romansa para Pujangga? Bukankah kau yang dulu ajarkan itu. Kau ucapkan janji Busukmu sepenuh hati. Seakan kita bersumpah dengan Kitab Suci.

Bajingan. Maaf. Aku memang berpendidikan, Sayangnya hanya kata-kata itu yang pantas untuk perempuan tengik macam dirimu. Kau tipu aku dengan ucapan manis. Hahaha. Kau itu seperti Kopi manis. Bersifat asli pahit ditambahi dengan Bumbu-bumbu gula kemunafikan.

Tidak. Kau ini adalah Bunglon. Bunglon yang amat Cantik. Berubah dengan amat baik. Kau hanya manis. Bagai Rafflesia Arnoldi.





Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.