Selamat malam, Bagaimana keadaanmu disana? Kuharap baik dan sehat saja. Tahukah kamu? Bahwa setiap malam aku selalu membendung rindu, Menahan Pilu dan selalu menafikan keadaanmu. Dirimu yang dulu selalu menghangatkan suasana. Memberi Hangat dalam Tawa, Menyapa pagi dengan sukma.
Selamat malam, Bukan inginku menyakitimu, Melukaimu atau bahkan Mencacimu. Sadarkah kamu? Akupun sendiri terluka, Meneteskan peluh dalam rindu. Selalu saja begitu, Selalu saja ada kamu. Berulang kali mencoba, Berulang kali usaha yang itu Melulu. Sosokmu selalu hadir, Tanpa izin dariku. Bak Jiwa yang telah bersama dengan raga. Berjanji sama Yang memisahkan hanya Ajal semata.
Selamat malam, Kembang gula yang manis. Yang selalu mengeluarkan semerbak aroma, Yang selalu mengecup lidah dengan rasa, Yang selalu Mengukir ingatan dengan khasnya. Sama seperi dirinya, Yang amat manis, Yang amat mengecup kehidupanku tanpa ada rasa Pahit ataupun Amis.
Ingatkah kamu? Kala kamu mengecupku dengan manisnya bibirmu, Dengan getaran Sukma di hatimu. Bercampur dengan rasa penuh rindu.
"Demi Tuhan, Sang Maha Cinta. Bodohnya bila sampai kutinggalkan Kamu" Ucapmu.
"Dan Bodohnya juga bila diriku berlalu, Meninggalkan Pria sebaik dirimu" Balasku.
"Dan Bodohnya juga bila diriku berlalu, Meninggalkan Pria sebaik dirimu" Balasku.
Lucu. Dulu membual bersama, Berkelakar tentang cinta. Berjanji kepadaku, Dengan janji semu. Lalu pergi tanpa peduli, Tak pedulikan diriku kini. Sakit yang kuterima amat mencengkram, Bagai terjatuh ke laut Terdalam. Tetap saja yang kupikirkan hanya dirimu! Iya benar, HANYA Dirimu. Tak bisakah kau pergi? Meninggalkan aku yang pernah kau sakiti? Tak cukupkah kala itu? Dirimu membuatku jatuh dalam sendu, Tersingkir bak Butiran debu.
Jangan. Dari lubuk Hati yang paling nestapa, Yang telah tersiram asam cuka. Aku mohon jangan hampiri aku, Jangan pernah membuatku mengenangmu lagi kala dahulu. Cukupi saja sampai disini, Derita yang kau ukir dalam nurani.
Kafe. Disanalah aku menghabisi waktuku, Membuang emosi dalam diri, Sejenak membuatku lupakan kamu dan diri ini. Sampai saat itu tiba, Tuhan mengutus "Dia", Mengisi Jiwa ini semula.
"Permisi? Boleh duduk disebelahmu?" Tanyanya sopan.
"Iya, Silahkan" Aku menanggapi.
"Maaf, Kamu sering kesini?"
"Terkadang, Meluapkan kepenatan" Jawabku.
"Kau tahu? Sesuatu yang amat membuatmu penat itu. Hanya satu yang kau perlukan".
"Apa itu?" Tanyaku penasaran.
"Ikhlasin saja dan jangan hiraukan" Jawabnya.
"Sesuatu yang kau lewati, Jauh lebih baik daripada kau singgahi" Sambungnya Lagi.
"....".
"Maaf, Aku harus pergi dulu" Dia menutup.
"Iya, terimakasih"
"Iya, Silahkan" Aku menanggapi.
"Maaf, Kamu sering kesini?"
"Terkadang, Meluapkan kepenatan" Jawabku.
"Kau tahu? Sesuatu yang amat membuatmu penat itu. Hanya satu yang kau perlukan".
"Apa itu?" Tanyaku penasaran.
"Ikhlasin saja dan jangan hiraukan" Jawabnya.
"Sesuatu yang kau lewati, Jauh lebih baik daripada kau singgahi" Sambungnya Lagi.
"....".
"Maaf, Aku harus pergi dulu" Dia menutup.
"Iya, terimakasih"
Waktu bergulir, Menembus batas. Bagai telur yang perlahan Menetas. Sang Maha Cinta, Yang menciptakan segala rasa. Mempunyai Sketsa yang tak terduga. Diam-diam mengarahkan Panahnya kepadaku, Seperti lukisan yang Terpaku.
Sekian detik terjadi, Seiring Gelapnya bumi ini. Dia katakan padaku.
"Selamat Malam....."

Comments
Post a Comment