Rintik. Hujan turun ke alam ini. Memberi energi ke Muka
Bumi. Secara perlahan, Tak tertahankan. Dia terus turun tanpa pedulikan
Orang-orang yang berjalan. Terkadang ringan. Terkadang deras tak
tertahankan. Agak menjengkelkan tapi itulah yang aku suka tentang hujan.
Kenangan.
Beberapa Pujangga yang sempat aku singgahi bukunya berkata seperti ini;
Hujan itu 90 persen adalah kenangan. Sisanyalah baru cairan. Awalnya
tak kumengerti apa maksudya. Apalagi Siratan Maknanya. Yang kutahu.
Hujan itu menenangkan. Tak perduli apa yang dia hadapi. Dia selalu
mengalir tanpa tapi.
Januari. Hujan
turun amat deras. Saat seperti ini yang aku suka. Memandang jendela
tanpa duka. Merasakan Harmoni yang amat dalam. Meluapkan Hal-hal Kelam.
Terkadang di temani Coklat hangat. Yang menemani kala hujan turun dengan
pekat. Sayangnya bukan itu yang akan di bicarakan, Apalagi kuterangkan.
Karena di bulan ini aku akhirnya "Memahami" apa itu Kenangan.
Pulang.
Kala itu aku sedang berteduh. Menunggu angkutan yang tak kunjung
datang. "Sial" Gerutuku dalam hati. Seorang Laki-laki juga sedang
bersamaku kala itu. Ya benar, Laki-laki inilah yang akhirnya menjadi
"Tambahan" dalam kisah ini. Tanpa Tedeng aling-aling Kau mengajakku berbicara bak kawan lama. Sekedar salam perkenalan sebagai pembuka.
"Kamu Mahasiswi?" Dia memulai.
"Iya, Tahu darimana? Jawabku.
"Haha. Hanya Feeling saja" Jawabnya sambil terkekeh.
"Memangnya kamu kuliah dimana? " Dia bertanya lagi.
"Dekat Kok. di Kampus seberang Masjid itu"
"Benarkah? Kebetulan sekali aku juga disana!" Jawabnya terkejut.
"Iya, Tahu darimana? Jawabku.
"Haha. Hanya Feeling saja" Jawabnya sambil terkekeh.
"Memangnya kamu kuliah dimana? " Dia bertanya lagi.
"Dekat Kok. di Kampus seberang Masjid itu"
"Benarkah? Kebetulan sekali aku juga disana!" Jawabnya terkejut.
Begitulah. Percakapan terus berjalan. Tanpa kesenjangan. Sampai Sang Waktu yang akhirnya memisahkan.
Bergulir.
Sekian lama, Kita akhirnya semakin akrab. Tak sekedar saling sapa di
dunia nyata. Terkadang kita saling sapa di dunia maya. Kegembiraan.
Itulah yang kau ukir dalam perasaan. Kau temani hari-hari. Sampai kita
lupakan diri. Yang kurasakan saat itu adalah kenyamanan. Tak pernah
terpikirkan akan perpisahan.
Sempat kau katakan padaku suatu waktu.
"Gak terasa. Kita semakin dekat ya" Dia memulai.
"Iya. Kau benar" Sambarku.
"Hei. Kau tahu Edelweis?" Tanyanya Tiba-tiba.
"Tahu. Kenapa tiba-tiba?".
"Iya, Bunga itu aneh Tau. Walau begitu dia amat cantik dan sangat Eksotik".
"Lalu?" Tanyaku tak sabaran.
"Ya, Seperti kamu"
"Apaan Sih Kamu" Jawabku tersipu.
"Iya. Kau benar" Sambarku.
"Hei. Kau tahu Edelweis?" Tanyanya Tiba-tiba.
"Tahu. Kenapa tiba-tiba?".
"Iya, Bunga itu aneh Tau. Walau begitu dia amat cantik dan sangat Eksotik".
"Lalu?" Tanyaku tak sabaran.
"Ya, Seperti kamu"
"Apaan Sih Kamu" Jawabku tersipu.
Edelweis.
Bunga khas pegunungan. Walaupun dia aneh, Dirinya penuh kecantikan.
Itulah yang kau katakan. Kau samakan aku dengan kembang itu. Menggombal
dan membuatku tersipu.
Nyaman. Rasa itu yang aku
rasakan. Semakin terukir dalam perasaan. Semakin lekat dalam ingatan.
Pesonamu kadang buatku kagum. Pesonamu kadang buatku terpingkal-pikal,
Kau bagai Chris tatum. Aktor Hollywood yang banyak membuat khalayak kagum.
Dia.
Saat itu kita sedang bersenda gurau. Seperti biasa, Kau buatku kagum
dan bahagia kala diri Parau. Tiba-tiba seorang perempuan datang
menghampiri. Kau kenalkan dia sebagai teman. Aku tak merasakan keanehan.
Apalagi keganjalan. Aku menyambut salamnya seperti orang kebanyakan.
Sampai aku sadari. Bahwa "Dia" adalah peretak hubungan...
Januari.
Satu tahun lama kita bersama. Lalui waktu dengan suka. Jalani hidup
tanpa duka. Tanpa sedikitpun rasakan Lara. Tapi itu hanya Ekspektasi.
Cuman ada dalam anganku sendiri. Tak pernah ada di dalam kau punya hati.
Sampai kau mengajakku bicara. Di tempat pertama kali kita berjumpa...
"Aku minta maaf" Ucapmu.
"Untuk apa?" Jawabku bingung.
"Untuk segalanya".
"Aku benar-benar tidak mengerti!".
"Maaf, Seminggu lagi aku akan menikah" Jawabnya dengan suara yang ditahan.
"Untuk apa?" Jawabku bingung.
"Untuk segalanya".
"Aku benar-benar tidak mengerti!".
"Maaf, Seminggu lagi aku akan menikah" Jawabnya dengan suara yang ditahan.
Bagai pohon dibelah halilintar. Hatiku terguncang dan bergetar. Sampai diri ini hampir di ambang sadar.
"Kau pasti berbohong" Sangkalku.
"Aku bersunguh-sungguh".
"Tuhan, Kenapa bisa begini" Hatiku berbisik.
"Maaf, Aku tak bisa terus disini. Masih banyak yang harus aku siapkan".
".....".
"Terimakasih untuk Kenangan. Yang kini tinggal angan" Jawabnya sambil berlalu.
"Aku bersunguh-sungguh".
"Tuhan, Kenapa bisa begini" Hatiku berbisik.
"Maaf, Aku tak bisa terus disini. Masih banyak yang harus aku siapkan".
".....".
"Terimakasih untuk Kenangan. Yang kini tinggal angan" Jawabnya sambil berlalu.
Meninggalkan aku. Yang tenggelam lama oleh Rindu...
Hancur.
Semua Ingatan yang ada hancur lebur. Kau campakan aku dengan mudahnya,
Bagai mayat yang memang pantas untuk dikubur. Tanpa salam perpisahan.
Tanpa pernah merasa mengukir ingatan. Kau buang aku kedalam kegelapan.
Menangis.
Aku menangis sedemikian rupa. Bagai ditusuk oleh berbagai senjata.
seperti di Rajam karena zina. Masih terngiang di telinga ini. Bualanmu
tentang masa depan kita nanti. Kau memujiku seakan aku seorang Bidadari.
Aku tak mengerti. Bagaimana mungkin kau nikahi "Dia" yang bahkan belum
pernah bersandar padamu sepenuh hati? Bagaimana mungkin kau jatuh ke
pelukanya dan jatuh hati?.
Hujan
turun dengan perlahan, Tak tertahankan. Dia terus turun tanpa pedulikan
Orang-orang yang berjalan. Terkadang ringan, Terkadang deras tak
tertahankan. Dia membawa kembali Ingatan yang telah di campakan. Dia
kumpulkan semua angan. Bercampur menjadi Elegi dan menghangatkan.
Mengingatkanku pada dirimu dan membuatku akhirnya memahami "Kenangan".
Comments
Post a Comment