Skip to main content

Malamku Akan Tetap Sama

Kembali dengan sebuah kisah remaja tanggung yang masih termenung di bawah langit yang menggelap. Tenang saja, untuk malam yang satu ini rembulan tidak muncul. Tertutupi awan mendung sejak yang sejak sore hari sudah menutup cahaya lembut mentari. Membiarkan angin berhembus lebih kencang dari biasanya. Menerbangkan guguran daun yang sudah dirapihkan. Membuat jatuh jemuran, untung siang tadi terik matahari berhasil mengeringkannya. Kalau tidak, akan membuat kegiatan ibu-ibu tetangga harus mengurungkan niatnya untuk merapihakn baju-baju itu.  

Kau tahu kawan? Untuk satu lagi malam di mana aku bisa kembali menatap langit yang gelap dengan penuh kehampaan. Bukan. Bukan karena soal romansa remaja masa kini. Apalagi cucian yang kujemur pagi tadi. Semua tentang pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepala. Membuat sesak dada. Pertanyaan-pertanyaan itu bagai racun yang perlahan mematikan. Bagaimana tidak? Pertanyaan-pertanyaan ini terlalu kompleks dan hanya sedikit jawaban yang kudapat. Ini bukan soal teori tentang kenaikan harga atau yang lainnya. Apalagi alasan kenapa beras yang biasa kubeli naik dengan harga yang lebih tinggi tapi dengan kualitas yang lebih rendah.
Ini tentang langkah. Semua yang sudah kulalui untuk memenuhi janjiku kepadanya. Sebuah ucapan yang mungkin bagi beliau adalah gurauan yang kuaminkan. Sebuah amanah tanpa sumpah. Kau tahu? Semua yang kulakukan hingga saat ini adalah pembuktian hanya untuknya. Yahh, untuknya yang telah memberikan arti dari perjalanan ini. Untuknya yang telah meninggalkan muridnya dalam kebimbangan. Yang telah meninggalkan luka bagiku yang menjadikannya sebagai salah satu alasan untuk bertahan.
Kau sempat berkata bukan, seorang Habibi mampu menjadi sosok yang luar biasa hanya karena kecintaannya pada sang negeri. Sebenarnya hal itu tak bisa kita gambarkan dengan ‘hanya’. Bagaimana tidak, dan bagiku yang selalu mendengarkan ceritamu dengan hati yang lapang mudah untuk mencernanya. Dia mencintai negeri ini. Tempat di mana ada beribu-ribu ulama lahir dan tumbang di tempatnya. Lantas, ketika dia bekerja untuk sang negeri, bagaimana mungkin mereka tidak mendoakannya bukan?
Terima kasih untuk sebuah semangat yang tersirat. Dan itu sangat berarti bagi raga dan jiwa yang tengah rapuh. Bagi seorang remaja tanggung yang tengah mencari arti dari sebuah perjuangan. Yahh, kutipan dari ulama tersohor itu akan selalu terngiang dalam benak. Karena tuhan dan sejarah tidak serta merta mencatat kemenangan atau kekalahan. Yang dicatat adalah perjuangan, ialah perjuangan.
Kembali kutinggikan suara dalam hati, yang tidak kuucapkan dengan lisan, baik untuk diri sendiri. Yang tidak kuperdengarkan dengan telinga baik untuk diri sendiri. Suaraku hanya dalam hati. Tidak terdengar tapi menohok dalam jiwa. Yang tidak terucap tapi difahami oleh banyak orang.
Untuk satu malam lagi yang mulai berlalu. Di mana bulan kembali berlalu beriringan dengan cahayanya yang tertutup awan. Di mana bintang menghilang dari mata yang merindukannya. Malam akan tetap menjadi malam. Baik dengan atau tanpanya. Pagi akan datang, bersama dengan harapan. Bersama dengan doa.

Kembali kuangkat kepala dengan berani. Menatap kelam dalam diam. Menatap diri dalam kehampaan.

Comments

  1. "Agen poker terbesar dan terpercaya ARENADOMINO.
    minimal depo dan wd cuma 20 ribu
    dengan 1 userid sudah bisa bermain 9 games
    ayo mampir kemari ke Website Kami ya www.arenadomino.com

    Wa :+855964967353
    Line : arena_01
    WeChat : arenadomino
    Yahoo! : arenadomino"

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.