Skip to main content

Enam Pagi Ini

Enam pagi ini
Aku coba berlari secara nyata
Dari bayangmu
yang abstrak

Dari ketiadaanmu yang lebih
ironis dari jarak

Sepersekian aku berlari
secara nyata, tentunya
Eh, kau malah muncul
Dalam bentuk nyata
Dan itu lebih semesta dari abstrakmu
Dilewati aku olehmu

Haduduuhhh, matamu itu yang
waktu itu aku sukai
yang melihatku asing
Pagi tadi berubah
Seolah-olah, ah entah

Aku marah

Aku pelajar
Aku yakini
Bahwa untuk sebuah kita
Harus ada tiga hal

Mahabbah
Rasa cinta
Yang menggebu-gebu dalam dada
Ya, dalam hatiku ada

Tapi entah padamu..

Masyaqah
Rasa kasih
Kasihan kau jika harus kupaksa
menjalani

Ya, aku tak mau lihat deritamu..

Mashlahat
Semua sudah paham
Bagaimana dengan kembarmu?
Kedua kembarmu, pastinya

Ya, aku diam, takkan maju

Karena bukankah aku harus menjadi?
Atas Kun Fayakun-Nya Ilahi...




Oleh Euros Cum

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.