Skip to main content

Hirarki


https://www.instagram.com/p/BoUXpK4AgAM/?utm_source=ig_web_copy_link

Setiap orang selalu bertindak atas dasar hati. Keinginan. Harapan. Bagaimana pun kita menyebutnya urgensi di dalamnya akan tetap sama. Alasan selalu mudah, bahkan terbilang sepele. Tapi karena semua hal itu seseorang tetap dapat hidup. Berharap cemas pada setiap mentari yang terbit. Berbisik lirih di hadapan sang malam.

Bersama dengan semuanya, jiwa dan raga akan selalu menyertai. Namun tidak sedikit yang tak menghargai mereka. Jiwa dan raga. Memilih mendengar pada rayuan nafsu yang entah darimana datangnya. Berbicara seakan semua hal itu adalah sesuatu yang benar tanpa mengindahkan jiwa yang berteriak.
Apa kau tahu? Bahkan dua hal itu memiliki hirarikinya tersendiri. Dimana jiwa lebih tinggi dari pada raga. Tidak, aku tidak bilang jiwa berada puncak hirarki tersebut. Ruh yang ditiupkan Tuhan pada kita adalah sesuatu yang menempati puncak tersebut. Bukankah yang berjanji pada-Nya pada saat dirahim bahwa Ia adalah satu-satunya yang patut disembah adalah ruh kita? Bersaksi dengan sedemikian rupa dan berjanji akan menjalani seluruh kewajiban. Menjauhi seluruh larangan.
Namun, pada akhirnya ketika terlahir kita sama sekali tidak ingat tentang semua hal itu. Bahkan termasuk untuk menyembahnya. Semua hal yang kita lakukan karena Allah berbaik hati mengingatkan kita tentang janji yang telah kita ikrarkan kepada-Nya. Bersama dengan seluruh jiwa yang pada akhirnya melakukan dengan penuh khidmat. Tanpa ada paksaan.
Hingga saat terlahir, jiwa menginginkan banyak hal. Mengeluh pada diri hingga akhirnya jiwa dan akal yang memenuhi semuanya. Tidak setiap keinginan tersebut buruk. Pada jiwa terdapat sebuah perasaan. Itulah yang membedakan manusia dengan hewan bukan? Kita semua memiliki akal yang menjadikan kita sebagai khalifah yang dimandati di atas bumi.
Hanya saja tidak sedikit orang-orang yang berpelakuan seperti mereka tidak memiliki akal. Tidak, lebih tepatnya mereka merendahkan akal mereka dengan keinginan busuknya. Akal yang sehat ada pada tubuh yang sehat. Namun bagaimana dengan mereka yang memiliki kekurangan pada tubuh mereka?
Pada akhirnya raga mereka tetap sehat. Kesehatan itu datang bersama dengan akal yang jernih. Bukankah dewasa kini banyak orang yang memiliki akal dan raga terlihat sehat tapi mereka menyia-nyiakannya? Memilih berdiam diri. Mendzolimi diri sendiri, lantas tak perlu bertanya mengapa mereka dengan mendzolimi orang lain, karena pada dasarnya dia pun tak segan untuk mendzolimi diri sendiri.
Hidup adalah tentang bagaimana memuliakan semua hal tersebut. Memuliakan ruh yang telah berikrar pada Yang Maha Kuasa. Memuliakan jiwa yang senantiasa damai. Memuliakan akal bersama dengan raga yang dipergunakan dengan baik. Tanpa harus meenafikan nikmat yang telah diberikan. Menyelaraskan semua hal itu menjadi satu, mendengar mereka dengan perlahan dan menemukan hal yang tak pernah kau temukan dari orang lain.
Membaca akan selalu membuat setiap orang merasa mendapatkan hal yang baru. Sayangnya, semua hal itu membuat lupa untuk membaca sesuatu yang tidak dapat dibaca oleh orang lain. Adalah diri kita sendiri.
Semoga semua hal yang kusampaikan saat ini. Pun, adalah yang diinginkan ruh, jiwa, raga dan akal. Semoga kalian tetap selalu terdengar di telinga pada setiap kebisingan dunia.

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.