Skip to main content

Ketetapan


Selamat siang kawan. Bagaimana langit di sana? Semoga sama indahnya seperti langit yang tengah kupandangi. Matahari yang perlahan meninggi menuju puncaknya. Memberikan sengatan panas yang membuat orang-orang menyeka peluh yang membasahi pipi. Membuat riak berkilau di wajah. Mungkin akan sedikit berbeda dengan langit yang kau lihat saat ini. Langitku tertutup dedaunan lebat nan menyejukan, bagaimana denganmu? Ahh lagi pula hatimu selalu sejuk dengan semua prasangka baik yang tetapkan.

Wajah orang-orang yang tengah dongkol pun akan kau artikan sebagai kebahagiaan. Karena mereka diberi hati untuk merasa sehingga mampu menunjukan perasaan tersebut lewat ekspresinya. Kau tahu, berbicara tentang perbedaan, segera ingin kutanyakan padamu. Apa itu sebuah perbedaan. Kenapa tuhan menciptakan sebuah perbedaan.
Ada begitu banyak jawaban yang muncul di kepala ini. Agar kita mampu senantiasa bersyukur kepadanya. Agar kita mampu menikmati luasnya dunia. Agar kita sadar bahwa kita harus senantiasa berusaha. Tentu ada banyak jawaban lain yang akan ikut menyertai dari pernyataan tersebut. Membayangkan dunia ini dipenuhi dengan kesamaan, nampaknya akan membuat kita akan cepat  jenuh dengan semua pemandangannya.
Tak ada kejutan.
Hanya ada hitam dan putih yang akan kita lihat. Bukankah kau pernah bertanya, kenapa dan sampai kapan kau harus berperan sebagai orang yang kuat? Tersenyum di balik sendu yang sembunyikan. Entahlah, bukankah itu menjadi warna yang membuatmu menjadi sosok yang kuat. Menjadi sosok yang selalu mampu menjadi orang yang dapat mendengar cerita kita.
Aku terenyuh dengan pertanyaanmu itu. Entah, mengapa tuhan menciptakan alur yang begitu menyakitkan bagimu, namun pada akhirnya kau mampu memaknai semua hal itu tanpa harus berprasangka buruk kepada-Nya bukan. Pada akhirnya kau menjadi contoh hidup bagi orang-orang yang ada di sekitarmu.
Hei bukankah hal itu pun menjadi sebuah perbedaan. Jalan yang kau ambil sangat panjang, tapi banyak hal pula yang kau lihat. Di banding kita yang selalu merasa aman, kami tertinggal jauh dengan langkah yang kau ambil. Tapi tenang saja, aku tak akan membiarkan diriku tertinggal jauh. Aku tidak pernah lupa dengan setiap angan yang kita panjatkan pada langit. Pada sela-sela bintang yang bertebaran.
Dengan sebuah perbedaan ada banyak warna yang kita lihat. Tidak hanya hitam. Dan tidak hanya putih. Begitu banyak warna yang mewarnai. Ada begitu banyak rasa yang bercampur. Membuatnya sedikit runyam, tapi hal itu yang menjadi keindahan dari lukisan tuhan. Yah, kita adalah karya-Nya. Kita tidak seharusnya hidup dengan kesamaan, tapi dengan keragaman. Bukankah lukisan-lukisan indah pun akan selalu diwarnai berjuta warna. Membuat sang artis memaknai setiap titik warna yang dia tuangkan. Lagi pula, bukankah tanah kita terbentuk dari sebuah perbedaan. Bhinneka Tunggal Ika. Berebeda-beda tapi tetap satu jua. Satu bangsa. Satu bahasa.
Kau tahu, aku bertanya hal ini karena perbedaan yang terjadi saat ini yang semakin lama tak mendapat toleransi. Entah bagaimana wujud toleransi yang sesungguhnya. Apakah semua itu adalah bentuk dari sebuah kebebasan? Atau justru menjadi pembatas? Apa semua itu mampu menjadi suatu keindahan? Tetapi mengapa banyak orang yang menjadikannya begitu mengerikan.
Bukankah yang membuat pelangi begitu indah adalah setiap warna yang berbeda  menjadi satu. Bukankah yang membuat kita terpikat dengan orang lain adalah kepribadian yang berbeda dengan diri kita. Merasa bahwa orang itu lebih baik atau hal lainnya.
Semoga dalam perbedaan yang dilihat setiap pasang mata akan selalu indah bersama dengan maksud tuhan. Dan kita? Semoga tetap menjadi orang yang berbeda setiap kali bertemu. Sehingga akan terus ada cerita, memaknai setiap keindahan, memaknai setiap ketetapan setiap kali menghabiskan malam kosong dengan segelas kopi.

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.