Skip to main content

Kau, Aku, Dan Waktu


Berbicara tentang perasaan adalah perkara yang tak mudah. Terkadang perlu mengedapankan hati, terkadang perlu mengedapankan akal. Dan terkadang pula perlu mengdepankan keduanya. Berhenti memenjarakan. Berhenti membatasi suara mereka dengan nafsu semata. Kau tahu? Malam ini bintang tak lagi muncul. Padahal saat ini aku memerlukan mereka. Rasi yang mereka bentuk cukup untuk menenangkan akal dan jiwa.

Kau bertanya bagaimana perasaan seseorang ketika dia sedang dekat denganmu? Itu pertanyaan kompleks yang perlu dipikirkan dengan  segala kemungkinan. Tetapi, apabila itu aku, maka aku akan memilih untuk mengambil keputusan dimana masing-masing dari kita mampu menemukan bahagianya. Dimana masing-masing dari kita mampu tersenyum melihat mentari yang terbit. Melihat rembulan yang muncul.
Apa aku akan menerimamu? Mungkin iya dan mungkin tidak. Apabila aku hanya menurut pada nafsu dan melihat kesempatan kecil semata, mungkin aku akan memintamu untuk bersama dalam sebuah ikatan yang tau pasti. Atau mungkin aku akan memintamu untuk menunggu hingga akhirnya benar-benar siap. Siap untuk meninggalkan keluarga masing-masing dan membangun keluarga kita sendiri.
Bagaimana tentang perasaan seseorang itu ketika tau kau tengah mengharapkannya? Mungkin saja dia merasa kebahagiaan, atau mungkin dia merasa terganggu. Dan aku yakin kau bisa melihat semua hal itu dengan sikapnya ketika sedang berbincang denganmu. Bagaimana caranya ketika ia melihatmu. Bagaimana caranya ketika ia mendengar seluruh ceritamu itu.
Bukankah semua hal ini selalu tentang kenyamanan? Memberikan orang lain tempat sehingga masing-masing merasa yakin satu sama lain. Memberikan setiap harapan serta asa. Menata setiap pada masa depan. Berharap cemas bahwa dirinya lah sosok yang didambakan. Menjadi pelengkap pada setiap kekurangan.
Hingga pada akhirnya kalian mampu untuk saling berterimakasih dan saling menghargai. Hingga akhirnya kalian mampu membentuk dan menemukan arti dari kebahagiaan kalian. Bicara akan selalu menjadi perkara yang mudah, selama langkah yang diambil berdasarkan semua impian, toh, semua akan terasa mudah. Lagi pula, tidak ada seseorang yang benar-benar sendiri di dunia ini.
Aku, kau, bahkan kalian. Masih sering mengartikan hidup dengan pandangan yang sempit. Memilih berjuang untuk hal yang bahkan belum pasti, padahal Allah telah memberikan tuntunan mencari cermin pribadi. Bukankah jodoh adalah cerminan dari diri kita?
Semoga dia pun merasa hal yang sama dengan yang kau rasakan. Semoga dia menyimpan rahasia yang sama dengan yang kau rahasiakan. Dan semoga dia menyimpan sebuah rencana indah seperti yang kau rencanakan. Apa yang kalian lakukan adalah membentuk sebaris doa untuk kalian sendiri. Membuktikan bahwa semesta tengah mempersiapkan sebuah kebahagiaan. Bagiku? Itu semua adalah plot indah yang hanya disiapkan oleh Yang Maha Kuasa.
Semoga kalian lekas menemukan kebahagiaan masing-masing. Lekas bertemu dengan hal yang pantas untuk menemani. Hal yang pantas untuk diperjuangkan.
Semua ini bukan tentang penantian, tapi semua ini tentang kembali untuk mempersiapkan diri masing-masing. Sampai dimana kita akhirnya mampu bersama. Sampai dimana kita mampu untuk mengisi lembaran kosong esok hari dengan cerita kalian.

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.