https://www.instagram.com/p/BhVjrb8HnOr/?taken-by=rikalnobility
Selamat
sore kawan. Bagaimana kabarmu? Kabar tentang mimpi tak terbentang. Mimpi tentang
menjadi salah seorang manusia tang memberi manfaat. Mimpi tentang melihat
begitu banyak kebahagiaan di tanah ini. Aku tahu, tidak sedikit orang yang
menertawai semua angan tersebut. Tapi bukankah itu semua menjadi komedi
kehidupan? Warna indah yang akan kita nikmati hingga akhirnya lukisan tentang
hidup ini terselesaikan. Kita sudah terbiasa menikmati tawa mereka yang
memandang semua kata yang kita ucapkan dengan mata tertutup. Hingga akhirnya
kita memberikan bukti nyata dari sebuah tekad.
Tidaklah
aneh memang, karena mereka pun kita belajar untuk tidak menilai sesuatu terlalu
cepat. Tapi karena hal itu juga aku tertinggal olehmu. Begitu sulit untuk
menilai sesuatu karena terlalu berhati-hati. Memeperhatikan cukup lama untuk
menerima. Kau sudah melangkah begitu jauh, dan aku sempat tersandung. Jatuh. Dan
kini harus kembali bangkit mengejar semua ketertinggalan itu. Harus kembali
menata.
Kau
tahu? Saat ini semua pikiranku tengah melalang buana. Terbang entah kemana. Sempat
kuberpikir. Apakah semua ini ujian? Atau hukuman? Tentu aku pun memiliki hal
yang tak kuceritakan padamu. Atas seluruh dosa yang pernah kuperbuat. Dengan dasar
hal itu aku berpikir demikian.
Aku
tengah kehilangan arah. Benar-benar tersesat dalam semua pikiran menyesakan
ini. Aku selalu merindukan setiap percakapan kita malam yang lalu. Menghabiskan
waktu bersama kopi panas. Membakar bara keangkuhan. Menghempaskan asap
penyesalan. Setidaknya pada setiap malam kita mampu membuat masing-masing hati
puas dengan jawaban. Puas dengan perhatian yang diberikan masing-masing.
Berbicara
panjang lebar tentang idealisme yang kita miliki. Mencurahkan semua angan serta
mimpi yang kita pendam dalam jiwa. Namun, dewasa kini idealisme sudah hanya
menjadi dongeng semata. Bertindak dengan penuh kekerasan dan menjadikan hal
tersebut sebagai pembenaran. Berbicara bijak memang tak mudah, karena sering
kali tak sesuai dengan realita. Mencoba menerima semua nya, tapi bertolak
dengan nurani.
Aku
kira aku benar-benar telah mengerti tentang semua ini. Bersama cahaya bayangan
akan selalu mengikuti. Bersama keburukan, hal baik akan mengiringi. Untuk saat
ini pun aku menikmati semua kesendirian ini. Kau selalu memintaku untuk
memaknai sebuah kesendirian. Tapi aku tak pernah benar-benar merasa sendiri. Tidak,
lebih tepatnya aku tak pernah ingin sendirian. Namun aku selalu ingin memaknai
semua hal itu. Hingga akhirnya semesta yang menunjukan jawabnya.
Bersama
dengan semua keluh kesah yang tersimpan di dalam raga, semoga semua hal yang diperjuangkan
bertemu dengan hasil yang tak mengecewakan. Semoga setiap pertanyaan bertemu
dengan jawaban.
Dan
untukmu, semoga kita mampu mewujudkan semua mimpi kita. Membawa sebuah rasa
bahagia dan bangga kepada sang saka. Membuktikan kesatuan sebagai manusia yang
berbangsa. Bersama dengan harapan dan keputusasaan.

Comments
Post a Comment