Oktober tahun lalu. Aku masih mengingat bagaimana tatapan, dan wajahmu yang cemas menunggu kedatanganku di kafe sederhana kala itu. Kita bukan siapa-siapa, dan tak saling mengenal jauh. Kau hanya seorang adik kelas, dan sebaliknya aku adalah kakak kelas di kampus. Kita hanya kebetulan bertemu dalam satu ruang. Menurutku hingga saat itu. Namun, karena semua kebetulan itu kau memberanikan diri untuk menghubungiku. Tepatnya, kau meminta bantuan kepadaku. Dalihmu, aku terlihat ramah dan kebetulan dalam satu naungan organisasi. Aku hanya mengamini, dan berpikir tak ada salahnya membantu.
Aku masih ingat, kau duduk di depanku dengan perasaan tak nyaman. Penuh tanda tanya, khawatir, risau, dan takut mengganggu. Iya, sebenarnya aku katakan memang cukup menganggu karena aku sedang nikmatnya beristirahat saat itu. Walhasil, muka kusamku menjadi menu utama saat kita bersanding di meja. Tapi, biarlah itu menjadi kesan sendiri. Aku akan selalu mengingat momen absurd itu. Lalu, kau berlanjut bertutur kisah. Kisah yang cukup membuat wajah kusamku menjadi tawa mala itu. Kau, yang aku kira meminta tolong hal serius, ternyata bercerita soal cinta. Iya, kau dengan mantap mengatakan itu, kau meminta tolong soal perasaan seseorang. Orang itu yang juga teman dekatku, dan kau memintaku untuk menjauhkan dia yang mulai menyukaimu. Aku terbahak-bahak, sekaligus tertarik saat mendengar semua cerita ‘curhat’ itu.
Kisah itu mungkin tak akan aku ceritakan disini dengan lengkap, aku menghargaimu dan juga temanku. Sebagaimana pun dirinya sebagai buaya, dia tetap temanku. Namun, itulah kisah fatal dalam permulaan kisah ini. Seminggu berjalan, dua minggu berjalan, hingga sebulan berjalan ada sesuatu yang menjerat aku dan kamu. Kita justru jatuh hati. Lucu bukan? Demi Tuhan, aku tak pernah beniat jatuh hati padamu. Sedikit membayangkan? Sama sekali tidak. Kau hanya sebatas adik kelas, yang jika dalam memori ingatanku itu ada di bagian paling ujung. Jarang terjamah, dan menunggu waktunya untuk usang.
Kau tahu, apa yang saat pertama kali kulakukan saat menyadari sadar? Aku menangis, berdiam diri di kamar mandi untuk waktu yang cukup lama. Aku memang lelaki, yang selalu diajarkan sejak dini harus menjadi pribadi yang tangguh dan tak boleh gampang menangis. Namun apa daya, aku cuman manusia. Aku juga memiliki air mata yang bisa tumpah ruah kapanpun jika kau sentuh jantungku. Dan, menangis sendiri di kamar mandi adalah caraku untuk bersikap tegar. Saaat kutemui dirimu, aku hampir menangis lagi. Bagaimana tidak? Kau berkaca-kaca, membuaku sukmaku yang sudah tertata rapi kembali runtuh, dan untungnya aku bisa menahan itu. Katamu, kau menangis saat mengingatku. Ada rasa takut didalamnya, namun kau juga rasakan bahagia. Ingin aku memelukmu saat itu, namun aku tahu itu bukanlah pilihan yang baik. Kau lanjutkan tangisan itu, dan aku memandangimu dengan diam. Kita terhanyut dalam rasa masing-masing.
---
Aku akan selalu mengingatmu. Sebagai seorang canggung di kafe, yang aku tertawai raut wajahmu yang kebingungan. Mengingatmu sebagai seorang dekil, yang tiba-tiba ingin memelukku saaat kau kegirangan. Lalu, mengingatmu sebagai perempuan yang pernah aku jatuhi perasaan dalam kisahku di dunia ini. Aku tak bisa seromantis Hayati, dalam kisah “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” yang berucap kau akan menjadi kekasihku di akhirat nanti. Namun mengingatmu, dan bahkan pernah mencintaimu akan menjadi sepotong rindu. Rindu yang kelak akan aku ingat di masa tua, lalu kembali mengenangnya dalam alam pikiran sejenak. Menceritakan kisah kita kepada anak-cucu kelak, dalam tawa yang akan berbeda rasanya.
Doaku, semoga kau bahagia. Takdir kita yang terhalangi adat, dan nasib yang tak memuluskannya. Namun, memang jatuh hati itu memang takdir bukan? Kita tak merencanakan, dan Tuhan yang bermain disana.
Untuk yang pernah menjadi karsa-ku, ingatlah aku dan berbahagialah. Cukuplah aku yang bercengkrama dengan sendu, dan mengingatmu dengan pilu.
Oktober, 2018

Comments
Post a Comment